Friday, December 20, 2019

PUISI PEREMPUAN


PEREMPUAN

Perempuan adalah kata yang sering di ucapkan dengan tidak sopan dan dihinakan
Kata yang di baca dengan segala sisi kerendahan nya

Perempuan adalah kata yang di tulis di kertas-kertas tua,
yang di simpan di pojokan perpustakaan kehidupan

Perempuan adalah mata yang di paksa melihat kebawah, tanpa berhak untuk menatap kedepan apalagi menatap kelangit untuk sesekali berdialog dengan tuhannya
tetang perampasan keadilan di muka bumi ini atas nama kelamin

Tapi

Sekali lagi

Tapi !

Perempuan adalah ingatan yang akan terus datang menghampiri di setiap nurani manusia-manusia yang tersusun dari cinta

Ingatan yang membawa kesadaran bahwa perempuan adalah kata yang harus di ucapkan dengan cara sopan dan terhormat

Perempuan adalah kata-kata yang akan tertulis dalam lembaran peradaban kemanusiaan, pemberi kasih di atas nestapa 

Tatapan perempuan adalah tatapan menembus titik yang tidak terlihat dalam kalbu kita

Bangkit !

Bangkit !

Aku katakan bangkitlah
kaum perempuan
raih inti cahaya surya
dan simpan dalam nyawa waktumu

Bangkit !

Bangkit !

Sekali lagi
aku katakan
bangkitlah kaum perempuan

PEREMPUAN ADALAH RAHIM SEMESTA
DAN KEHIDUPAN ADALAH ANAK KANDUNG YANG TERUS MEMBINA KEHIDUPAN-KEHIDUPAN BARU !


(Bung Dhimas)
Sekretaris Umum GMNI Lebak

Friday, December 13, 2019

KEKERASAN FISIK DAN KEKERASAN SOSIAL DALAM DINAMIKA BERBANGSA DAN BERNEGARA

Image result for acab


Seperti sebuah peristiwa yang abadi dan di kenang seluruh generasi, peristiwa perjuangan menuju kemerdekaan dan pembacaan naskah proklamasi sebagai prasasti sejarah yang penuh dengan heroisme.

Para founding father merangkai cita-cita besar ketika negara ini berdiri dengan segala konsepsi yang bertujuan demi kesejahteraan seluruh rakyat indonesia dengan adil dan merata, kesejahteraan tanpa pilih kasih dan hak seluruh umat manusia.

Tapi kenyataan sama sekali tidak sesuai dengan heroisme dari cerita para leluhur bangsa dan tidak semanis kisah dari buku sejarah.

Kemerdekaan negara ini yang di rebut dengan mengorbankan nyawa-nyawa para pejuang yang mereka abdikan demi berkibar nya sang saka merah putih dan kemerdekaan untuk indonesia itu di nodai oleh generasi pengisi kemerdekaan.

Kesejahteraan yang berlandaskan keadilan yang suci adalah tipuan layaknya pementasan sulap yang di kagumi tapi penuh dengan kepalsuan, parade kepalsuan yang terus di pertontonkan oleh kekuasaan yang culas.

Kekuasaan yang tidak berorientasi pada perwujudan cita-cita bangsa melainkan kekuasaan yang diraih itu untuk membiarkan kekuasaan asing memperkosa ranumnya keperawanan ibu pertiwi.

Semenjak perjuangan kemerdekaan, pasca kemerdekaan, tragedi kemanusiaan tahun 65 dan rangkaian perang manusia yang mengatasnamakan agama dan suku.

Generasi kekinian terus di beri tontonan kekerasan yang sungguh menyakitkan.

Situasi yang menyakitkan inipun mendapat perlawanan dari kaum-kaum yang sadar akan arti perbaikan peradaban, kaum-kaum yang sadar tentang pembebasan rakyat dari segala bentuk penindasan.

Akan tetapi ketika rakyat tertindas melawan untuk mempertahan hak nya.

Sering sekali mendapat respon represif dari aparat keamanan yang semestinya melindungi warga negara dengan sebaik-baik nya.

Tindakan represif yang tidak manusiawi atas dalih bahwa rakyat yang tertindas itu melakukan aksi yang huru-hara, membakar ban, melempar batu, melempar bom molotov dan menghancurkan fasilitas umum.

Akan tetapi ada satu pertanyaan, apa membakar ban, melempar bom molotov, merusak fasilitas itu adalah kekerasan? jawaban nya adalah BUKAN.

Karena kekerasan sejati adalah kelaparan rakyat, kemiskinan, ketidakadilan, eksploitasi alam dan ekploitasi manusia.

Dinegara yang merdeka, atasnama nasionalisme rakyat di paksa untuk mencintai negara dengan setulus hati dengan rasa lapar yang dilanda, dengan rengekan bayi meminta asi, jerit pengangguran yang sulit mencari kerja, kekerasan sosial dan kekerasan fisik adalah kenyataan yang ada, ketimpangan sosial akan melahirkan perlawanan tapi perlawan akan melahirkan korban dari rakyat yang tertindas karena aparat meredam dengan cara-cara yang tidak manusiawi.

Negara adalah wujud dari segala harapan, ideologi adalah tuntunan umat manusia dalam suatu negara, pancasila adalah ideologi negara kesatuan republik indonesia, tapi kenyataan menjadikan setiap kata dan kalimat yang ada di pancasila sudah mulai luntur dan dengan keadaan bangsa hari ini, pancasila mungkin akan di pandang sebelah mata oleh orang orang yang merasa di khianati dan di sakiti oleh negeri nya sendiri.

Degradasi nasionalisme itu terjadi bisa terjadi karena ulah dari kekuasaan itu sendiri.

SALAM HORMAT UNTUK REKAN JUANG YANG MELAWAN SEGALA PENINDASAN TERKHUSUS MELAWAN PENGGUSURAN!

Oleh : Kupu-kupu hitam (Bung Ridwan 'Bopung')

SEBUAH RENUNGAN KEPEMIMPINAN DARI KACAMATA ANGGOTA BIASA



Dari judul tulisan diatas sudah bisa disadari penulis hanya anggota biasa dalam sebuah organisasi yang ingin menuangkan isi pikirannya tentang makna kepemimpinan.

Seorang ahli yang bernama Robert Tanembaum mengatakan pemimpin adalah mereka yang menggunakan wewenang formal untuk mengorganisasikan, mengarahkan, mengontrol para bawahan yang bertanggung jawab, supaya semua bagian pekerjaan dikoordinasi demi mencapai tujuan.

Dan seseorang yang bernama Jhons Gage Alle menjelaskan bahwa “ leader is a guide; a conductor; a commander” (pemimpin itu ialah pemandu, penunjuk, penuntun; komandan).

Adapun pemimpin yang mempunyai karakteristik yaitu berkarismatik, Pemimpin karismatik adalah pemimpin yang mewujudkan atmosfir motivasi atas dasar komitmen dan identitas emosional pada visi, filosofi, dan gaya mereka dalam diri bawahannya (Ivancevich, dkk, 2007:209). Pemimpin karismatik mampu memainkan peran penting dalam menciptakan perubahan. Individu yang menyandang kualitas-kualitas pahlawan memiliki karisma. 

Sebagian yang lain memandang pemimpin karismatik adalah pahlawan. House (1977) mengusulkan sebuah teori untuk menjelaskan kepemimpinan karismatik dalam hal sekumpulan usulan yang dapat diuji melibatkan proses yang dapat diamati. Teori itu mengenai bagaimana para pemimpin karismatik berperilaku, ciri, dan keterampilan mereka, dan kondisi dimana mereka paling mungkin muncul.

Dari penjelasan diatas maka penulis membuat kesimpulan sederhana tentang arti pemimpin, pemimpin ialah orang yang mempunyai wibawa tinggi, Mempunyai kebijaksanaan tinggi dan kedisiplinan yang lebih tinggi dibandingkan bawahannya untuk memberikan contoh dan jadikan panutan untuk bawahannya.

Pada Hakikatnya pemimpin adalah marwah pemimpin adalah simbol, simbol dari segala konteks dalam kepemimpinannya karena pemimpin adalah ujung tombak perjuangan.

Pemimpin menjadi harus menjadi sosok inspiratif dan menjadi motivasi bagi anggotanya, menaungi segala aspek dan memberi solusi dari persoalan-persoalan yang terjadi, pemimpin harus sadar bahwa pemimpin adalah panutan bagi anggotanya.

Melihat situasi dan kondisi organisasi saat ini, tentu kita sangat merindukan dan mengharapkan pemimpin yang hari-harinya dan jiwanya diabdikan di dedikasikan sepenuhnya kepada anggota organisasinya tersebut.

Image result for leadership


Pemimpin sejati tidak pernah mengeluh dan menyerah ketika sedang berjuang untuk organisasi yang sedang dia pimpin dan untuk keutuhan kelompoknya, pemimpin harus paham dengan kondisi anggota atau bawahannya, ketika dihadapkan masalah dan kritik, sebagai pemimpin harus menyikapinya dengan legowo dan bijaksana, bukan mendiskriminasinya, bukan mendiskreditkannya, keberadaannya dirasakan tanpa harus dikatakan.

Membangun nuansa kekeluargaan dan kehangatan rangkulannya membuat anggota merasa nyaman karena dia tahu selalu ada pemimpin yang menjaganya, selalu ada pemimpin yang menaunginya dan merangkulnya.

Hari-harinya menjadi perbincangan anggotanya karena mereka selalu merasa pemimpinnya selalu hadir ditengah-tengah mereka di tengan sentral retaknya perahu besar yang dia berposisi nahkoda yang selalu bisa menjadi orang tua, sahabat dan keluarganya, seperti apa yang sudah di janjikan pada saat niatan untuk memimpin dan harus siap menampung segala aspirasi-aspirasi anggotanya, baik itu berbentuk kritikan dan saran, karena pada dasarnya kapal yang kuat berasal dari laut yang tidak tenang dab besi yang kokoh berasal dari percikan api yang panas. Tanpa perlu pencitraan terhadap dirinya.

Teriakan keras, jeritan pilu dan kritikan anggotanya harus dijadikan media untuk introspeksi dirinya sendiri membangun diri sendiri untuk membangun lingkungannya dan berfikir secara radikal bukan parsial dan tekstual, menikmati yang sedang dilakukan tanpa ada perasaan sakit hati, kecewa, bahkan terluka dan mendiskreditkan.

Kita mempunyai panutan pejuang kemerdekaan, seperti Soekarno, Moh Hatta, Jenderal Soedirman. Salah seorang putra terbaik bangsa yang mengabdikan dan mendedikasikan jiwa dan raganya untuk kepentingan organisasi yang dia pimpin. Pemimpin sejati yang tak pernah lelah berjuang, meskipun paru-parunya tinggal sebelah meski jiwa dan raganya sudah habis terkuras karena keadaan yang dia hadapi dan pada kenyataannya kepemimpinan hanya jabatan semata tanpa ada beban tanggung jawab, kewajiban yang harus dia pikul, yang harus dia emban, pancaran ketulusan yang bersinar dengan semangat juang dalam dirinya, termanifestasikan ampuh menularkan virus-virus marhaenisme  kepada seluruh pejuang-pejuang sosialisme indonesia.

Dan pada akhirnya, ia mampu menyatukan segenap komponen roda organisasi, baik internal maupun eksternal, untuk menggapai satu cita-cita mulia yaitu sosialisme indonesia. Mewujudkan organisasi yang berlandaskan dengan GBHO agar supaya rakyatnya/anggota merasakan keharmonisan dalam organisasi, ketulusan, semangat juang, karena militansi besar.

Pemimpin bersama untuk menjadikan anggotanya memiliki potensi revolusi lebih baik, inilah yang sulit ditemui dalam diri pemimpin bangsa sekarang. Jadi wajar ketika anggota kita di usia idealnya yang sudah wajib untuk memperjuangkan perbahan ke arah yang lebih baik lagi, masih belum mampu mewujudkan kesejahteraan organisasi.

Sampai saat ini, masih banyak anggota yang kelaparan dengan rangkulan, nutrisi literasi dan lainnya yang itu seharusnya di lakukan oleh kita semua terutama nahkoda itu sendiri.

Terikat dengan perpecahan, terbelit kebodohan dan terjebak keterbelakangan. Kalah jauh dengan organisasi lain yang baru-baru ini mengalami perkembangan yang pesat. Ironi ini tidak perlu terjadi kalau para pemimpin organisasi ini menjalankan tugas dan fungsi yang kongkret. Berperspektif kepemimpinan sebagai nahkoda organisasi sekaligus amanah suci yang harus ditunaikan dengan sepenuh hati. Ada 1 hadis yang diriwayatkan oleh muslim:

“Kalian adalah pemimpin, dan akan diminta bertanggung jawab atas apa yang dipimpinnya. Seorang penguasa adalah pemimpin, dan akan diminta bertanggung jawab atas rakyat yang dipimpinnya.” (HR Muslim)



Banyak orang berkeinginan menjadi pemimpin, tetapi setelah tercapai, ternyata tidak semuanya mengerti tugas yang seharusnya dilakukan. Sebagai seorang pemimpin mereka seharusnya mengerti sikap yang seyogyanya dikembangkan di manifestasikan, arah yang diinginkan dan pekerjaan yang akan dilakukan, pemiimpin yang tidak mengerti hal dimaksud, maka arah organisasi yang dipimpin menjadi tidak jelas, akan dibawa kemana dan bawahannya dan anggota menjadui korban dari hal itu..

Pemimpin sebagaimana digambarkan tersebut ternyata jumlahnya tidak sedikit dan berada di berbagai bidang dan juga level kepemimpinan. Organisasi yang sedang dipimpin oleh orang yang tidak paham terhadap tugasnya itu, biasanya menjadi stagnan, rutin, dan akhirnya menjadikan organisasi tersebut beku. Selain itu, suasana organisasi yang dipimpin oleh orang yang tidak cakap, biasanya tumbuh saling tidak percaya, saling menyalahkan orang lain dan juga narasi intrik dan mendiskreditkan satu sama lain.

Tugas pemimpin itu sebenarnya sederhana saja, yaitu menghidupkan, menggerakkan dan mengarahkan terhadap orang-orang yang sedang dipimpinnya. Para pemimpin, apalagi di zaman demokrasi seperti sekarang ini, sebenarnya mereka telah memiliki legitimasi yang kuat. Seseorang menjadi pemimpin biasanya melalui seleksi yang ketat, sehingga mereka itu sebenarnya telah mendapatkan legitimasi yang cukup. Kepercayaan dan kewibawaan yang dimiliki sudah cukup digunakan sebagai bekal untuk menunaikan tugas-tugas yang dibebankan kepadanya.

Selama ini, saya membayangkan bahwa, tugas kepemimpinan adalah bagaikan accu. Benda itu difungsikan untuk menghidupkan mesin. Semakin kuat accu itu, maka akan dengan cepat menghidupkan dan menggerakkan semua komponen yang ada pada mesin. Tentu pemimpin yang terpilih,jika pemilihannya benar, pasti telah memiliki kekuatan sebagaimana accu yang digunakan untuk menghidupkan mesin dimaksud.

Kekuatan penggerak yang dimiliki oleh para pemimpin seharusnya bukan berupa uang, perilaku menakutkan, peraturan, ancaman dan sejenisnya, melainkan adalah ketulusan, wawasan ke depan organisasi yang jelas dan perhatian terhadap semua orang-orang yang dipimpinnya.

Biasanya orang akan mendengarkan dan mengikuti para pemimpin yang telah membuktikan atas ketulusannya. Penilaian bahwa, seseorang memiliki ketulusan bukan berasal dari ucapannya, janji-janjinya atau kesanggupannya, melainkan akan dilihat dan disimpulkan dari perbuatannya. Disebut sebagai orang tulus, selain tampak dari kemauannya berjuang juga dari kesediaannya berkorban.

Pemimpin yang diketahui bahwa dirinya ingin dilayani dan apalagi dilihat banyak orang ternyata mementingkan diri sendiri, maka yang bersangkutan akan dianggap tidak tulus. Pemimpin seperti itu tidak akan berhasil menghidupkan semangat bawahannya, bahkan justru sebaliknya, yakni mematikan semangat kerja. Pemimpin harus mampu menujukkan bahwa dirinya tulus, mau berjuang memajukan organisasinya, dan ada kesediaan berkorban. Pemimpin yang berkeinginan menggerakkan semua kekuatan organisasinya maka yang bersangkutan harus menunjukkan sifat-sifat mulia yang dimaksudkan itu.

Dan yang menjadi penutup tulisan ini adalah judul puisi karya Wiji Thukul “BUNGA DAN TEMBOK”


Karya : Bung Sahrul (DPK GMNI Manjemen La Tansa Mashiro)

Monday, November 25, 2019

KONGRES KEMARITIMAN GMNI DI AMBON JADI TRENDING TOPIC DI TWITTER

Kongres Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) ke XXI dengan tema Kongres Kemaritiman yg akan berlangsung di Kota Ambon pada tanggal 28 November - 02 Desember 2019 masuk trending topic ke 5 sampai hari ini dengan hastag #KongresKemaritiman

Hal tersebut bisa terjadi, karena banyak di perbincangkan oleh warga net, khususnya di platform twitter.



Kegiatan rutin yang dilaksanakan oleh DPP GMNI ini berlangsung setiap 2 tahun sekali, dalam agenda kongres ini menentukan Ketua Umum DPP GMNI yang selanjutnya.

Dan acara ini diikuti oleh seluruh Dewan Pimpinan Cabang GMNI Se - Nusantara, persiapan tuan rumah Kota Ambon sudah 100%.

Hingga saat ini seluruh peserta delegasi berangkat secara bertahap menuju Kota Ambon.


Saturday, November 16, 2019

GENERASI PENERUS ITU DI TENTUKAN OLEH DIDIKAN GENERASI YANG MENGAWALI




Memiliki pengetahuan yang luas tidak semata-mata menghakimi mereka yang memiliki pengetahuan sempit, mungkin ini hanya persoalan waktu dan kesempatan atau bahkan ada orang yang lebih memilih untuk diam mendengar tong kosong nyaring bunyinya.

Tepat tanggal 12 oktober 2019, ada kesadaran yang di hidupkan oleh salah satu mahasiswa jurusan hukum  universitas swasta ternama yang ada di provinsi Banten. diskusi sederhana itu benar-benar mengajak untuk segera mengintropeksi diri, segera mengoreksi diri sendiri. diskusi tanpa menggurui tapi dapat saling memahami, pembahasan tidak sengaja itu membahasan tentang rasa takut hanya ada dalam pikiran, adab di atas ilmu, kesombongan diri hanya akan melahirkan kekosongan diri, lembagga pendidikan sebagai sarana mencetak generasi bangsa dan kesalahan dalam mendidik akan menyebabkan kecelakaan hasil didikan yang tidak berkarakter sesuai dengan seharusnya dan menginspirasi penulis untuk menciptakan tulisan ini, tulisan yang biasa saja ini saya dedikasikan pada orang-orang yang masih memegang teguh kemerdekaan berfikir dan bertindak, berdaulat atas dirinya sendiri tanpa ada pengendalian dari siapapun, bergerak karena kesadaran, memiliki prinsip lebih baik menjadi hewan buruan yang terancam dari pada menjadi manusia yang jinak dan dipelihara.

Untuk mengawali pembahasan pada tulisan yang biasa saja ini , Pertama akan membahas tentang  rasa takut hanya ada dalam pikiran !
Pernah kita melewati jalan gelap, rindang pepohonan dan sendiri?  pernah ketika kita tidak kuat lagi menahan rasa ingin  buang air tengah malam tapi tidak jadi? karena membayangkan jalan ke toilet itu sepi. Apakah pernah di forum musyawarah ataupun diskusi sebenarnya kita mempunyai ide dan gagasan yang luar biasa tapi tidak kita sampaikan karena takut apa yang kita sampaikan itu salah dan menjadi bahan lelucon oleh teman kita ?

Memang benar jika otak manusia itu memiliki kemampuan imajinatif menghidupan bayangan yang sebenarnya itu jauh dari realitas yang ada, maka jika keberanian dalam diri lahir dan menghancurkan bangunan rasa takut dalam pikiran maka sebenarnya semua akan baik-baik saja, bayangan negatif itu tidak akan terjadi dan kenyataan dari realitas akan menjadi antitesa pikiran kita sendiri, Pikiran negatif itu akan menciptakan segala prasangka buruk yang akan berpengaruh pada produktifitas hidup dan tidak maksimalnya proses meningkatlan kualitas diri, kalau terus di pertahankan tentu ini bisa sangat merugikan diri sendiri.

Untuk mengawali melakukan langkah pertama memang tidak mudah untuk melewati jalan atau tempat yang sudah dibayangkan menakutkan sebelumnya tapi ketika satu langkah awaal sudah kita lakukan maka sebenarnya semua akan baik-baik saja tidak akan terjadi apa-apa saat kita melewati jalan dan tempat yang sepi, Maka mulai lah dari sekarang, cobalah untuk melangkah. Awali untuk berani menyampaikan segala ide dan gagasan di forum apapun itu, Percayalah pada diri sendiri sampaikan segala gagasan dalam setiap forum diskusi atau musyawarah jangan pernah takut salah, karena semua adalah proses pembelajaran yang harus di lewati.

Pembahasan kedua dalam tulisan ini mengenai Adab di atas ilmu!,  Dua hal yang sangat berpengaruh pada cerminan dan wujud diri kita di pandangan orang lain.
Adab menurut kamus besar bahasa indonesia adalah kehalusan dan kebaikan budi pekerti, kesopanan atau akhlak, Sementara ilmu berarti pengetahuan atau kepandaian ( tentang soal duniawi, akhirat, lahir, batin dan sebagai nya).

Dari penjelasan di atas, timbul pertanyaan apa yang harus di dahulukan?  Hal apa yang mestinya kita pahami terlebih dahulu ?
Maka sudah di pastikan jawabannya adalah adab, Adab harus menjadi mahkota di atas tubuh manusia dan menjadi pakaian hidup manusia di muka bumi ini dan segala ilmu pengetahuan di jadikan sebagai jalan dan solusi untuk menghadapi persoalan.
ilmu tanpa di lengkapi dengan adab tentu akan melahirkan arogansi dan kesombongan tentu ini berbahaya, Kaum terpelajar tidak beretika maka akan merusak identitas terpelajar nya itu sendiri, Karena cerminan dari keluhuran ilmu adalah adab yang terlihat dari prilaku hidup sehari-hari.

“Manusia bersayap arogansi dan menerbangkan tubuhnya kengkasa sebenarnya sedang dalam proses mendekatkan diri pada kematiannya, karena sayap arogansi dan kesombongan memang bertujuan untuk menjatuhkan tubuh dari ketinggian” Bung_Dhims

Mungkin kata-kata di atas tepat untuk menggambarkan pembahasan ketiga ini tentang Kesombongan Hanya Akan Melahirkan Kekosongan Diri!
"satu-satu nya kebijaksanaan sejati adalah mengetahui anda tidak tahu apa-apa" ucap seorang Socrates seorang filsuf yang masyhur itu.

Dari kutipan di atas dapat di pahami begitu mendalam bahwa alam semesta di setiap wujudnya terdapat hamparan ilmu pengetahuan yang tiada terhingga, lalu mari kita berkaca pada diri kita sendiri, seberapa banyak pengetahuan yang sudah kita miliki sekarang? mungkin jika di bandingkan dengan alam semesta, barang kali pengetahuan yang kita miliki hanya sebatas debu yang tidak seberapa, Teramat rapuh pengetahuan kita jika digunakan untuk di jadikan alasan kesombongan dan teramat mubazir jika tidak di jadikan sarana pencerdasan.

Dari hal tersebut tidak ada sedikitpun pasal kehidupan yang membenarkan kesombongan atas pengetahuan yang dimiliki, dengan memelihara pikiran sanksi atas ketidaktahuan dan ketidakmampuan seseorang, merasa tahu atas segala hal dan merasa paling benar atas segala pendapatan yang di lontarkan di perparah dengan tidak menerima apa yang orang lain ucapkan, kesombongan itu akan mewujudkan individu bermental fasis, ini berbahaya tidak terima kritikan.

Soe hok gie seorang aktivis yang melegenda itu pernah berkata "Guru yang tidak tahan kritik pantas masuk keranjang sampah"
Dapat kita pahami bahwa manusia yang sombong dan tidak menerima kritikan adalah seorang sampah, sekali lagi adalah seorang sampah. Banyak bicara tapi tidak bermakna, tidak mau terlihat rendah dari ketidaktahuan nya lalu menyampaikan sesuatu yang salah dan di telan mentah-mentah, hal itu merupakan salah satu praktek pembodohan satu generasi.
Dari penjelasan di atas, apa yang kita ketahui memiliki sisi ketidak tahuan kita, jangan sekali-kali memonopoli kebenaran.

“Sekolah dan kampus adalah laboratorium pendidikan yang dimana para pendidik bereksperimen membuat sebuah ramuan dan percobaan agar murid-murid bisa cerdas, tapi percobaan ini rawan gagal” Bung_Dhims
Kata-kata di atas adalah ekspresi diri situasi pendidikan masa kini, sebagai pengawal pembahasan yang keempat tentang Lembaga pendidikan sebagai sarana menciptakan generasi bangsa!

Para cendikiawan dan kaum intelektual merupakan elemen penting dalam kemajuan peradaban suatu bangsa melalui ilmu pengetahuan yang mereka miliki dan di gunakan untuk kepentingan rakyat, kampus dan sekolah adalah salah satu ruang untuk menciptakan kaum intelektual tersebut, orang-orang yang akan meneruskan kehidupan berbangsa dan bernegara, di tangan kaum intelektual inilah masa depan bangsa ada di tangan mereka.

Namun, rasanya kepercayaan itu sedikit demi sedikit memudar, cara berfikir skeptis mulai menganalisa situasi dewasa ini, jika melihat cita-cita luhur pendidikan yang di gagas oleh ki hajar dewantara dan konsep pendidikan yang di gagas oleh bung karno tentang penanaman 3 ruh pada proses pendidikan yaitu ruh kerakyatan, ruh kemerdekaan dan ruh ksatria, Pendidikan tempo dulu yang mengedepankan  nilai-nilai moral yang di tanamkan melalui ketulusan seorang pendidik dalam membina kecerdasan intelektual, emosional maupun spiritual. Cita-cita luhur yang sudah di gagas oleh tokoh bangsa itu nampaknya menemukan titik nadir nya.

Lalu masihkah relevan jika lembaga pendidikan seperti sekolah atau bahkan perguruan tinggi sebagai laboratarium penghasil kaum cendikiawan dan kaum intelektual?

Agak nya pertanyaan ini harus di maknai secara luas oleh semua pihak,
praktik jual beli nilai, jual beli skripsi, makalah hasil plagiat, guru mata duitan, murid bermental preman, dosen berjiwa dewa, mahasis mengejar IPK mengesampingkan penderitaan rakyat tertindas, saling menjatuhkan dalam proses presentasi, korupsi waktu, belajar di jadikan beban, di ajarkan menjadi penjilat kekuasaan, pelacur intelektual, jiwa oportunis bertopeng aktivis dan kebobrokan lainnya

Sudah mutlak, proses di kelas adalah cerminan bagaimana seseorang di tempa, karena dari ruang kelas itulah di cetak manusia yang nantinya jadi generasi penerus bangsa
Baik dan buruk hasil yang akan di hasilkan itu tergantung dengan bagaimana pola pembinaan yang mereka dapatkan selama dalam proses pembelajaran. 

“Senior yang baik adalah senior yang tidak mewariskan rantai dendam dan kebenciaan pada juniornya, hati-hati” Bung_Dhims
Bagian terakhir kesalahan dalam mendidik akan menyebabkan kecelakaan hasil didikan yang tidak berkarakter sesuai dengan seharusnya!

Berdalih sebagai sarana pencerdasan, semua institusi yang mengkampanyekan tentang perbaikan diri kearah lebih baik ternyata hanya tipuan belaka,tidak ada yang benar-benar bisa mencetak karakter manusia menjadi lebih baik, apapun itu institusinya, entah berbentuk lembaga pendidikan, organisasi masyarakat, organisasi keagamaan maupun organisasi kemahasiswaan, mendidik anak manusia bukanlah hal yang mudah, butuh pengorbanan untuk melakukan itu. 

Jika intitusi adalah wadah maka para pendiri nya lah yang akan di jadikan sebagai cerminan para anggota baru yang lugu, lucu dan polos yang berniat untuk benar-benar memperbaiki diri, Sebab senior berperan penting dalam cerminan sikap bagi penerusnya, ada rantai intelektual dan ada rantai emosional yang akan terus menerus menyatu padu dari generasi ke generasi.

Rantai inilah yang benar-benar akan membentuk, jika awal berdirinya suatu institusi sudah berorientasi pada uang dan kekuasaan maka sekalipun intitusi itu bernamakan pendidikan dan mengatas namakan rakyat tapi tetap itu hanya akan melahirkan kemunafikan.

Akan tetapi sekalipun sebuah institusi itu didirikan oleh para mantan pelacur, pecandu narkoba, para pengidap penyakit HIV/AIDS dan mantan narapidana jika mereka awal mendirikan nya dengan sebuah cinta, kasih, ketulusan maka rantai intelektual dan rantai emosional yang akan diwariskan adalah rantai kebaikan dan bisa benar-benar mencetak generasi yang berkarakter sesuai yang diharapkan, karakter kebenaran dan kebaikan. 

Sekian tulisan ini penulis buat, sebuah rangkaian kata-kata biasa, makna tergantung sudut pandang pembaca, cintai saya dengan kebencian maka saya akan berterima kasih.

Saya kembali teringat sebuah kata mutiara tapi maaf sekali saya lupa nama pemilik kata mutiara tersebut, ia mengakatakan “ORANG YANG MENGUCAPKAN KALAU KRITIK ITU HARUS MEMBANGUN ATAU KRITIK HARUS ADA SOLUSI, SEBENARNYA ORANG ITU SOSOK YANG BENAR-BENAR SAMPAH KARENA ITU CERMIN DARI ORANG-ORANG YANG BENAR-BENAR TIDAK MAU DI KRITIK”.


Karya : Bung Dhimas Maulana Hadi

KELAS MENTORING, BUKTI DPC GMNI LEBAK KOMITMEN SIAPKAN GENERASI PENERUS


Rangkasbitung, DPC GMNI LEBAK telah sukses menyelenggarakan kegiatan kelas mentoring pada tanggal 15-16 November 2019 di sekretariat DPC GMNI lebak.(16/11).

kelas mentoring
merupakan sarana meningkatkan kualitas sumber daya kader gmni terutama pada tataran dewan pengurus komisariat yang ada di kabupaten lebak.

tujuan dari kegiatan tersebut untuk mengembangkan kecerdasan intelektual, kecerdasan emosional dan kecerdasan spiritual.

sehingga pengurus DPK dapat memahami sepenuh nya arah perjuangan, ideologi dan sistem keorganisasian dalam GMNI.

Bung Endang selaku ketua umum DPC GMNI lebak menyampaikan bahwa kelas mentoring ini merupakn inisiasi pengurus cabang untuk menyiapkan regenerasi organisasi yang akan datang.

" Waktu terus berputar daun yang gugur di gantikan daun baru yang muda dan hujau, organisasipun demikian, masa bakti pengurus DPC hanya 2 tahun maka perlu di buat inovasi program untuk menyiapkan generasi yang akan datang salah satu nya kelas mentoring ini" ucapnya.

tanggapan juga muncul dari Sarinah Devi salah satu peserta kelas mentoring, ia mengatakan kelas mentoring merupakan program yang sangat bermanfaat

" Kelas mentoring ini merupakan program yang sangat bermanfaat, saya rasa sebagai peserta hal ini harus sering di adakan sekitar 3 bulan sekali dan bukan hanya menyasar kepada pengurus, tapi semua kader GMNI Lebak harus mengikutinya, seperti latihan Pra-KTD" ucapnya.

bung dewan abdurrohman sebagai ketua bidang kaderisasi DPC GMNI Lebak menyampaikan bahwa kelas mentoring ini merupakan ruang yang luar biasa bagi pengurus DPK se-lebak untuk menggali potensinya.

"pengurus komisariat adalah ujung tombak dari berputarnya organisasi, tentu kualitas pada tataran komisariat inilah harus lebih di tingkatkan karena nanti nya mereka akan menjadi mentor bagi anggotanya masing-masing, melalui kelas mentoring inilah potensi dalam dirinya digali dan bisa menjadi cerminan yang baik bagi para anggotanya" tuturnya.

bung dewan juga menambahkan kelas mentoring ini mempelajari 8 materi yang di pelajari dengan menggunakan metode student center learning.

"kelas mentoring ini mempelajari 8 materi di antaranya, kegmnian, marhaenisme, sarinah, manajamen organisasi, manajemen konflik, public speaking, metode penyampaian materi dan analisis soal dengan menggunakan metode student center learning diharapkan pengurus DPK yang ada di Lebak mempunyai daya ekspolari dan analisa yang luar biasa" tutupnya.

Author : DMH

Sunday, November 3, 2019

PENTINGNYA NILAI-NILAI KEISLAMAN DAN NASIONALISME BAGI PEMUDA



Oleh : Sarinah Resti Yuliana
DPK Setia Budhi Raya
Salam pejuang pemikir,pemikir pejuang MERDEKA!

S
yaikh Mustafha Al-Ghalayini, seorang ulama besar, ahli Bahasa, ahli hukum, wartawan, penceramah dan sekaigus  pakar sastra dalam idzatun’Nasyi’in mengatakan, “Sesungguhnya di tanganmulah (kaum muda) persoalan umat, dan dalam kebangkitanmulah kehidupan (masa depan) suatu bangsa.” Merupakan sebuah kutiapan yang harusnya sangat membakar semangat kaum muda, ya semangat kita kawan!. Pemuda adalah asset bangsa, istilah itu harusnya menjadi optimisme bagi generasi muda Indonesia dengan demografi jumlah penduduk yang termasuk kategori pemuda mencapai 42 juta jiwa.
Islam pada 14 abad silam,melalui lisan Nabi Muhammad Saw telah menegaskan pentingnya peranan kaum muda bagi suatu bangsa. Beliau begitu cermat dalam melakukan pembinaan kepada kaum muda seperti Ali,Usamah dan Ibnu Umar. Dan terbukti pada akhirnya orang-orang tersebut merupakan pemegang peranan yang sangat penting dalam perkembangan Islam pada masa berikutnya.
Ya,sekarang kita bukan lagi hidup di masa Kekhalifahan Rasulullah atau di masa peperangan yang nyata, tapi satu hal yang harus kita tanamkan, apapun agama yang kita anut, kepercayaan yang kita yakini, ketika sudah terdengar kata INDONESIA, maka dari situlah timbul sebuah kata yang sudah tidak asing… Toleransi. Sikap yang yang di butuhkan oleh seluruh umat pengisi Bumi, ketika mereka mengingikan kedamaian. Banyak yang dengan mudah mengucap kata toleransi, tapi masih sangat minim tindakan nyata yang di lakukan untuk  merealisasikannya. Tugas kita? Tak harus dengan hal yang muluk-muluk, lakukan dari hal tekecil yang kita bisa, dengan tidak mengucilkan kawan kita yang berbeda kepercayaan misalkan? Itu akan sangat berdampak jika masing-masing dari kita melakukan.
Pemuda, banyak hal yang hadir di benak kita ketika mendengar kata pemuda. Semangat, Optimis, perjuangan, bahkan Kemerdekaan adalah contoh nyata yang sampai detik ini kita rasakan dampaknya karena peran penting para pemuda kala itu.

28 Oktober 1928 ,kita kenal sebagai hari sumpah pemuda  yang merupakan peristiwa bersejarah, juga disebut sebagai salah satu tonggak bersatunya bangsa Indonesia. Seluruh elemen pemuda dari berbagai daerah di Indonesia berkumpul  bersama di kongres pemuda, menyatukan hati, niat, fikiran dan  usaha untuk Indonesia. Dan hasilnya pun masih kita nikmati sampai saat ini, 3 hal penting yaitu : bertumpah darah satu, tanah air Indonesia; berbangsa satu, bangsa Indonesia ; dan menjunjung tinggi Bahasa persatuan , Bahasa Indonesia. Pada kongres pemuda ini pula lagu Indonesia Raya pertama kali di perdengarkan oleh WR.Supratman  melalui gesekan biolanya.
Begitu banyak peran pemuda untuk Indonesia, sejak zaman Rasulullah,zaman penjajahan, bahkan sampai puncak kemerdekaan pemuda ikut andil didalamnya. Lantas, apa PR kita sebagai pemuda zaman milenial,Pemuda zaman now? Menikmati hasil perjuangan pemuda dan para pahlawan yang gugur sebelum kita,hanya rebahan saja kah? Karena merasa bangsa ini sudah merdeka? Anda salah besar bung!

Bung karno mengatakan” Perjuanganku lebih mudah karena melawan penjajah.  Tapi perjuangan kalian akan lebih berat,karena melawan saudara sendiri.” Dulu kalimat ini mungkin seakan lelucon ,mana mungkin ada yang  lebih sulit dari  melawan penjajah ? tapi sadar atau tidak, sedikit demi sedikit  perkataan bung karno menjadi realita. Jika kita telaah apa yang terjadi sekarang, perbedaan pendapat, perbedaan pilihan politik seakan mengotak-atik persatuan kita. Masa dimana negara lain sibuk meningkatkan IPTEK dan kemajuan mereka, kita malah dimonopoli oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab, menghilangkan definisi demokrasi dari rakyat oleh rakyat dan untuk rakyat.
Sudah bukan masanya kita saling tikung antar saudara hanya untuk mendapatkan  yang didambakan , menghilangkan  rasa saling memiliki dan kekeluargaan hanya karena perbedaan pendapat semua itu hanya akan menjadika Indonesia semakin terbelakang. Pemuda sekarang melupakan 2 hal penting, membaca dan diskusi.  Padahal 2 hal itu akan menjadi benteng tersendiri bagi dirinya, ketika akan mengungkapkan argumentasi.
Kemerdekaan melawan penjajah memang telah usai, namun keadilan  belum sepenuhnya kita miliki. Jika masih ada rintihan di  gubug-gubug si miskin,maka kemerdekaan belum selesai,dan akan terus menjadi PR bagi kita semua, pemuda Indonesia.
Teruslah  berusaha menjadi pemuda yang diperhitungkan keberadaannya,dengan ilmu dan aksi nyata diselarasi dengan keimanan.


SELAMAT HARI SUMPAH PEMUDA!
MERDEKA!