Memiliki pengetahuan yang luas tidak semata-mata menghakimi mereka yang memiliki pengetahuan sempit, mungkin ini hanya persoalan waktu dan kesempatan atau bahkan ada orang yang lebih memilih untuk diam mendengar tong kosong nyaring bunyinya.
Tepat tanggal 12 oktober 2019, ada kesadaran yang di hidupkan oleh salah satu mahasiswa jurusan hukum universitas swasta ternama yang ada di provinsi Banten. diskusi sederhana itu benar-benar mengajak untuk segera mengintropeksi diri, segera mengoreksi diri sendiri. diskusi tanpa menggurui tapi dapat saling memahami, pembahasan tidak sengaja itu membahasan tentang rasa takut hanya ada dalam pikiran, adab di atas ilmu, kesombongan diri hanya akan melahirkan kekosongan diri, lembagga pendidikan sebagai sarana mencetak generasi bangsa dan kesalahan dalam mendidik akan menyebabkan kecelakaan hasil didikan yang tidak berkarakter sesuai dengan seharusnya dan menginspirasi penulis untuk menciptakan tulisan ini, tulisan yang biasa saja ini saya dedikasikan pada orang-orang yang masih memegang teguh kemerdekaan berfikir dan bertindak, berdaulat atas dirinya sendiri tanpa ada pengendalian dari siapapun, bergerak karena kesadaran, memiliki prinsip lebih baik menjadi hewan buruan yang terancam dari pada menjadi manusia yang jinak dan dipelihara.
Untuk mengawali pembahasan pada tulisan yang biasa saja ini , Pertama akan membahas tentang rasa takut hanya ada dalam pikiran !
Pernah kita melewati jalan gelap, rindang pepohonan dan sendiri? pernah ketika kita tidak kuat lagi menahan rasa ingin buang air tengah malam tapi tidak jadi? karena membayangkan jalan ke toilet itu sepi. Apakah pernah di forum musyawarah ataupun diskusi sebenarnya kita mempunyai ide dan gagasan yang luar biasa tapi tidak kita sampaikan karena takut apa yang kita sampaikan itu salah dan menjadi bahan lelucon oleh teman kita ?
Memang benar jika otak manusia itu memiliki kemampuan imajinatif menghidupan bayangan yang sebenarnya itu jauh dari realitas yang ada, maka jika keberanian dalam diri lahir dan menghancurkan bangunan rasa takut dalam pikiran maka sebenarnya semua akan baik-baik saja, bayangan negatif itu tidak akan terjadi dan kenyataan dari realitas akan menjadi antitesa pikiran kita sendiri, Pikiran negatif itu akan menciptakan segala prasangka buruk yang akan berpengaruh pada produktifitas hidup dan tidak maksimalnya proses meningkatlan kualitas diri, kalau terus di pertahankan tentu ini bisa sangat merugikan diri sendiri.
Untuk mengawali melakukan langkah pertama memang tidak mudah untuk melewati jalan atau tempat yang sudah dibayangkan menakutkan sebelumnya tapi ketika satu langkah awaal sudah kita lakukan maka sebenarnya semua akan baik-baik saja tidak akan terjadi apa-apa saat kita melewati jalan dan tempat yang sepi, Maka mulai lah dari sekarang, cobalah untuk melangkah. Awali untuk berani menyampaikan segala ide dan gagasan di forum apapun itu, Percayalah pada diri sendiri sampaikan segala gagasan dalam setiap forum diskusi atau musyawarah jangan pernah takut salah, karena semua adalah proses pembelajaran yang harus di lewati.
Pembahasan kedua dalam tulisan ini mengenai Adab di atas ilmu!, Dua hal yang sangat berpengaruh pada cerminan dan wujud diri kita di pandangan orang lain.
Adab menurut kamus besar bahasa indonesia adalah kehalusan dan kebaikan budi pekerti, kesopanan atau akhlak, Sementara ilmu berarti pengetahuan atau kepandaian ( tentang soal duniawi, akhirat, lahir, batin dan sebagai nya).
Dari penjelasan di atas, timbul pertanyaan apa yang harus di dahulukan? Hal apa yang mestinya kita pahami terlebih dahulu ?
Maka sudah di pastikan jawabannya adalah adab, Adab harus menjadi mahkota di atas tubuh manusia dan menjadi pakaian hidup manusia di muka bumi ini dan segala ilmu pengetahuan di jadikan sebagai jalan dan solusi untuk menghadapi persoalan.
ilmu tanpa di lengkapi dengan adab tentu akan melahirkan arogansi dan kesombongan tentu ini berbahaya, Kaum terpelajar tidak beretika maka akan merusak identitas terpelajar nya itu sendiri, Karena cerminan dari keluhuran ilmu adalah adab yang terlihat dari prilaku hidup sehari-hari.
“Manusia bersayap arogansi dan menerbangkan tubuhnya kengkasa sebenarnya sedang dalam proses mendekatkan diri pada kematiannya, karena sayap arogansi dan kesombongan memang bertujuan untuk menjatuhkan tubuh dari ketinggian” Bung_Dhims
Mungkin kata-kata di atas tepat untuk menggambarkan pembahasan ketiga ini tentang Kesombongan Hanya Akan Melahirkan Kekosongan Diri!
"satu-satu nya kebijaksanaan sejati adalah mengetahui anda tidak tahu apa-apa" ucap seorang Socrates seorang filsuf yang masyhur itu.
Dari kutipan di atas dapat di pahami begitu mendalam bahwa alam semesta di setiap wujudnya terdapat hamparan ilmu pengetahuan yang tiada terhingga, lalu mari kita berkaca pada diri kita sendiri, seberapa banyak pengetahuan yang sudah kita miliki sekarang? mungkin jika di bandingkan dengan alam semesta, barang kali pengetahuan yang kita miliki hanya sebatas debu yang tidak seberapa, Teramat rapuh pengetahuan kita jika digunakan untuk di jadikan alasan kesombongan dan teramat mubazir jika tidak di jadikan sarana pencerdasan.
Dari hal tersebut tidak ada sedikitpun pasal kehidupan yang membenarkan kesombongan atas pengetahuan yang dimiliki, dengan memelihara pikiran sanksi atas ketidaktahuan dan ketidakmampuan seseorang, merasa tahu atas segala hal dan merasa paling benar atas segala pendapatan yang di lontarkan di perparah dengan tidak menerima apa yang orang lain ucapkan, kesombongan itu akan mewujudkan individu bermental fasis, ini berbahaya tidak terima kritikan.
Soe hok gie seorang aktivis yang melegenda itu pernah berkata "Guru yang tidak tahan kritik pantas masuk keranjang sampah"
Dapat kita pahami bahwa manusia yang sombong dan tidak menerima kritikan adalah seorang sampah, sekali lagi adalah seorang sampah. Banyak bicara tapi tidak bermakna, tidak mau terlihat rendah dari ketidaktahuan nya lalu menyampaikan sesuatu yang salah dan di telan mentah-mentah, hal itu merupakan salah satu praktek pembodohan satu generasi.
Dari penjelasan di atas, apa yang kita ketahui memiliki sisi ketidak tahuan kita, jangan sekali-kali memonopoli kebenaran.
“Sekolah dan kampus adalah laboratorium pendidikan yang dimana para pendidik bereksperimen membuat sebuah ramuan dan percobaan agar murid-murid bisa cerdas, tapi percobaan ini rawan gagal” Bung_Dhims
Kata-kata di atas adalah ekspresi diri situasi pendidikan masa kini, sebagai pengawal pembahasan yang keempat tentang Lembaga pendidikan sebagai sarana menciptakan generasi bangsa!
Para cendikiawan dan kaum intelektual merupakan elemen penting dalam kemajuan peradaban suatu bangsa melalui ilmu pengetahuan yang mereka miliki dan di gunakan untuk kepentingan rakyat, kampus dan sekolah adalah salah satu ruang untuk menciptakan kaum intelektual tersebut, orang-orang yang akan meneruskan kehidupan berbangsa dan bernegara, di tangan kaum intelektual inilah masa depan bangsa ada di tangan mereka.
Namun, rasanya kepercayaan itu sedikit demi sedikit memudar, cara berfikir skeptis mulai menganalisa situasi dewasa ini, jika melihat cita-cita luhur pendidikan yang di gagas oleh ki hajar dewantara dan konsep pendidikan yang di gagas oleh bung karno tentang penanaman 3 ruh pada proses pendidikan yaitu ruh kerakyatan, ruh kemerdekaan dan ruh ksatria, Pendidikan tempo dulu yang mengedepankan nilai-nilai moral yang di tanamkan melalui ketulusan seorang pendidik dalam membina kecerdasan intelektual, emosional maupun spiritual. Cita-cita luhur yang sudah di gagas oleh tokoh bangsa itu nampaknya menemukan titik nadir nya.
Lalu masihkah relevan jika lembaga pendidikan seperti sekolah atau bahkan perguruan tinggi sebagai laboratarium penghasil kaum cendikiawan dan kaum intelektual?
Agak nya pertanyaan ini harus di maknai secara luas oleh semua pihak,
praktik jual beli nilai, jual beli skripsi, makalah hasil plagiat, guru mata duitan, murid bermental preman, dosen berjiwa dewa, mahasis mengejar IPK mengesampingkan penderitaan rakyat tertindas, saling menjatuhkan dalam proses presentasi, korupsi waktu, belajar di jadikan beban, di ajarkan menjadi penjilat kekuasaan, pelacur intelektual, jiwa oportunis bertopeng aktivis dan kebobrokan lainnya
Sudah mutlak, proses di kelas adalah cerminan bagaimana seseorang di tempa, karena dari ruang kelas itulah di cetak manusia yang nantinya jadi generasi penerus bangsa
Baik dan buruk hasil yang akan di hasilkan itu tergantung dengan bagaimana pola pembinaan yang mereka dapatkan selama dalam proses pembelajaran.
“Senior yang baik adalah senior yang tidak mewariskan rantai dendam dan kebenciaan pada juniornya, hati-hati” Bung_Dhims
Bagian terakhir kesalahan dalam mendidik akan menyebabkan kecelakaan hasil didikan yang tidak berkarakter sesuai dengan seharusnya!
Berdalih sebagai sarana pencerdasan, semua institusi yang mengkampanyekan tentang perbaikan diri kearah lebih baik ternyata hanya tipuan belaka,tidak ada yang benar-benar bisa mencetak karakter manusia menjadi lebih baik, apapun itu institusinya, entah berbentuk lembaga pendidikan, organisasi masyarakat, organisasi keagamaan maupun organisasi kemahasiswaan, mendidik anak manusia bukanlah hal yang mudah, butuh pengorbanan untuk melakukan itu.
Jika intitusi adalah wadah maka para pendiri nya lah yang akan di jadikan sebagai cerminan para anggota baru yang lugu, lucu dan polos yang berniat untuk benar-benar memperbaiki diri, Sebab senior berperan penting dalam cerminan sikap bagi penerusnya, ada rantai intelektual dan ada rantai emosional yang akan terus menerus menyatu padu dari generasi ke generasi.
Rantai inilah yang benar-benar akan membentuk, jika awal berdirinya suatu institusi sudah berorientasi pada uang dan kekuasaan maka sekalipun intitusi itu bernamakan pendidikan dan mengatas namakan rakyat tapi tetap itu hanya akan melahirkan kemunafikan.
Akan tetapi sekalipun sebuah institusi itu didirikan oleh para mantan pelacur, pecandu narkoba, para pengidap penyakit HIV/AIDS dan mantan narapidana jika mereka awal mendirikan nya dengan sebuah cinta, kasih, ketulusan maka rantai intelektual dan rantai emosional yang akan diwariskan adalah rantai kebaikan dan bisa benar-benar mencetak generasi yang berkarakter sesuai yang diharapkan, karakter kebenaran dan kebaikan.
Sekian tulisan ini penulis buat, sebuah rangkaian kata-kata biasa, makna tergantung sudut pandang pembaca, cintai saya dengan kebencian maka saya akan berterima kasih.
Saya kembali teringat sebuah kata mutiara tapi maaf sekali saya lupa nama pemilik kata mutiara tersebut, ia mengakatakan “ORANG YANG MENGUCAPKAN KALAU KRITIK ITU HARUS MEMBANGUN ATAU KRITIK HARUS ADA SOLUSI, SEBENARNYA ORANG ITU SOSOK YANG BENAR-BENAR SAMPAH KARENA ITU CERMIN DARI ORANG-ORANG YANG BENAR-BENAR TIDAK MAU DI KRITIK”.
Karya : Bung Dhimas Maulana Hadi


No comments:
Write comments