
Tuesday, August 27, 2019

AKSI FORUM MAHASISWA PEDULI LEBAK (FMPL) DALAM PELANTIKAN ANGGOTA DPRD KAB LEBAK PERIODE 2019-2024
AKSI FORUM MAHASISWA PEDULI LEBAK (FMPL) DALAM PELANTIKAN ANGGOTA DPRD KAB LEBAK PERIODE 2019-2024 TERGABUNG DALAM BERBAGAI OKP NASIONAL DAN PRIMORDIAL :
DPC GMNI LEBAK
KOORDINATOR KUMALA
PP IMALA
HMI DIPO CABANG LEBAK
HMI MPO CABANG LEBAK
PMII
PELAJAR ISLAM INDONESIA
IPNU
IMM
Perihal Issue :
LEGISLATIF JANGAN DI BAWA KETIAK EKSEKUTIF
MEMPERTEGAS INTEGRITAS PERAN DAN FUNGSI DPRD KAB.LEBAK
1.Optimalisasi peran dan fungsi DPRD sesuai UU No 17 Tahun 2014
2. Optimalisasi dana reses 2019-2024
3. Mendorong DPRD lebak untuk membentuk perda pendidikan
4. Anggota Dewan Perempuan Harus Sanggup Mewakili suara perempuan di kab.lebak
5. Evaluasi perda RTRW NO 2 Tahun 2014
#gmnilebak #gmnipedia
Tuesday, August 20, 2019

Respons Ketua Umum GMNI Lebak terkait peristiwa Diskiriminasi Mahasiswa Papua di Surabaya
Ketua Umum DPC GMNI Lebak, Bung Endang menyampaikan pihaknya sangat menyesalkan adanya tindakan diskriminasi terhadap mahasiswa asal papua.
Menurut Bung Endang, GMNI menegaskan tindakan tersebut dapat mencederai keutuhan dan kerukunan kita sebagai sebuah bangsa.
"Generasi milenial perlu mengingat kembali entitas nusantara dan kebudayaan yang harus di prioritaskan. Juga semua elemen pemuda semestinya menjadi cooling system terhadap kondisi yang hari ini terjadi, " Ujar Bung Endang dalam keterangan nya.
Pria yang gandrung akan nasionalisme ini juga, berkomentar terkait penyerangan asrama mahasiswa di surabaya.
"Tentang penyarangan tersebut, saya rasa hal itu perlu di usut sampai tuntas agar tidak terjadi disinformasi yang pada akhirnya menjadi kegaduhan di negeri ini".
Dikatakan pula bahwa kesatuan dan keutuhan NKRI harus dijaga dengan baik. Hal itu merupakan satu modal dasar untuk kita semua dapat membangun sebuah bangsa yang beradab dan mewujudkan cita-cita besar menuju sosialisme indonesia.
"Sehingga jika kita semua sadar akan konsensus besar lahirnya bangsa ini, perbedaan buka lagi menjadi satu alasan sarana pemecah belah bangsa." pungkasnya.
Monday, August 19, 2019

MINKE - " M O N Y E T "
Tokoh Minke kembali 'ngetop' lagi, lewat film BUMI MANUSIA-nya sutradara Hanung Bramantyo.
Film yang diangkat dari roman tetralogi mahakarya Pramoedya Ananta Toer ini memang berkisah tentang Minke (bersama kekasihnya Annelies, dan Nyai Ontosoroh).
Tapi saya tidak sedang menilai, apakah film ini sebagus dan sedahsyat novelnya; atau sebaliknya. Saya hanya bicara soal sederhana, tentang nama #Minke.
Kita semua tahu, Minke adalah jelmaan fiksi dari tokoh historis, R.M. Tirto Adhi Soerjo, perintis nasionalisme Indonesia modern. Tentang tokoh ini, lihat buku sejarah yang menantang karya Pramoedya, "SANG PEMULA" (Hasta Mitra, 1985).
Mengapa namanya 'Minke' ?
Dalam roman 'BUMI MANUSIA' dikisahkan, suatu saat tuan guru Belanda di ELS, Meneer Rooseboom jengkel dan marah kepadanya. Meneer Rooseboom membentak:
"Diam kau, monk.......M i n k e !"
Jelas, Minke itu plesetan dari 'monkey' (#monyet) !
Tentu bukan tanpa alasan, nama Minke sebagai plesetan monyet itu dipilih Pram.
Itulah cara Pramoedya mengejek rasialisme, suatu sikap dan cara pandang kolonialisme Belanda yang menganggap rendah pribumi Jawa.
Seperti ditulis Frances Gouda dalam bukunya, DUTCH CULTURE OVERSEAS: Colonial Practice in the Netherlands Indies, 1900-1942 (terbit 2008):
"Pramoedya Ananta Toer mengemukakan persepsi penghinaan orang Eropa mengenai orang Jawa sebagai monyet-monyet pada tingkat retorika lebih tinggi. Pada roman sejarah 'BUMI MANUSIA' , satu tokoh asal Jawa, yakni anak muda baik hati serta kharismatik bernama Minke, memperoleh nama itu dari guru sekolah Belanda yang memelesetkan kata 'monkey' (monyet) menjadi Minke" (halaman 138).
Rasialisme, yang merendahkan manusia dan budaya lain, memang berakar dalam praktik kolonialisme.
Seperti kata Frantz Fanon, kaum kolonial melihat ada beda derajat antara manusia dan budaya Eropa, dengan manusia dan budaya warga jajahannya.
Seolah-olah ada "hirarki budaya", kata Fanon.
Seolah kaum kulit putih berbudaya "tinggi", sedangkan bangsa jajahannya berbudaya "sedang" dan "rendah", atau bahkan "tidak berbudaya" alias uncivilized.
Maka yang "tinggi" akan menganggap remeh mereka yang "rendah", boleh menghina dan memperlakukan mereka sebagai binatang, seperti #monyet.
Itulah akar rasialisme, dengan segala turunannya...!!
Ironisnya, setelah penjajahan berakhir, ada kelompok-kelompok etnis tertentu di negara-negara baru merdeka itu yang justru mengulang kembali sikap dan perilaku bekas penjajahnya. Mengulang praktik rasialis dengan menganggap rendah kelompok etnis lainnya dalam bangsa dan negaranya sendiri !
Menganggap dirinya dan kebudayaannya lebih tinggi, kebudayaan yang "adhi luhung".
Padahal, kata seorang sejarawan Barat, budaya tinggi yang "adhi luhung" itu adalah ekspresi atau wujud "budaya kalah". Itu setelah kerajaan-kerajaan besar di masa lalu takluk tidak berdaya kepada penjajah sejak abad 16.
Dalam ketakberdayaan itu, terjadi perubahan orientasi dari ekstrovert ke introvert dalam segala sendi.
Dalam kebudayaan misalnya, terjadi proses 'penghalusan', proses perumitan 'bentuk' daripada 'isi'. Maka terciptalah bahasa "alus", tari-tarian "alus", dan segala tatakrama "alus".
Itulah yang kemudian diagung-agungkan sebagai budaya "adhi luhung", padahal itu adalah ekspresi "budaya kalah".
**
Hari-hari ini kita sedang menyaksikan film tentang sosok Minke, tentang praktik rasialis.
Tapi hari-hari ini, di luar gedung bioskop, kita juga sedang menonton praktik-praktik rasialis itu muncul kembali.
Ironisnya, itu terjadi pada saat peringatan 74 tahun proklamasi kemerdekaan !
Bagaimana tanggapan kawan kawan?

Sarinah & Bung Karno

Pada bulan November 1947, buku karangan Bung Karno tentang perempuan sudah naik cetak. Buku itu dikerjakan dan diterbitkan oleh Panitia Penerbitkan Buku-Buku Karangan Presiden Soekarno. Bung Karno sangat gembira dengan penerbitan buku itu.
Buku itu merupakan kumpulan bahan pengajaran Bung Karno dalam kursus wanita. Tahun 1947, di tengah kepungan dan ancaman kolonialisme, Bung Karno masih sempat-sempatnya menggelar kursus wanita. Kursus itu diselenggarakan dua minggu sekali.
Sri Sulistywati, salah seorang aktivis perempuan di era Bung Karno, menceritakan bagaimana bung Karno sendiri menjadi pengajar di kursus itu. “Kursus wanita itu sudah mengambil tema Sarinah,” kata Sri, yang ketika itu masih anak-anak dan suka mengendap-ngendap untuk mengintip diskusi itu.
Muncul pertanyaan: Kenapa buku itu mengambil judul Sarinah? Mengapa tidak menggunakan nama tokoh perintis pergerakan perempuan Indonesia seperti Kartini, Dewi Sartika, atau Rohana Kudus. Siapa sebenarnya Sarinah ini, sampai-sampai Bung Karno memberikan penghargaan yang sangat tinggi kepadanya.
Bung Karno sendiri, dalam buku “Bung Karno: penyambung lidah Rakyat”, menceritakan Sarinah sebagai gadis pembantu yang membantu membesarkan Bung Karno. Tetapi, kata Bung Karno, kata pembantu rumah tangga di sini tidak sama dengan pengertian orang di barat.
Selain mengurusi Soekarno kecil, Sarinah pula yang memberikan pendidikan budi-pekerti dan nilai-nilai kemanusiaan kepada Soekarno. “Sarinah mengadjarku untuk mentjintai rakjat. Massa rakjat, rakjat djelata,” ujar Soekarno dalam otobiografinya yang ditulis oleh penulis dan kolumnis Amerika, Cindy Adams.
Tetapi ada juga yang meragukan Sarinah itu benar-benar ada, sebagai sebuah tokoh nyata sebagaimana diceritakan Bung Karno. Menurut mereka, seperti juga pak Marhaen yang menjadi asal muasal penemuan ideologinya, kemungkinan besar Sarinah ini adalah tokoh fiktif belaka.
Namun, pada tahun 1960-an, sebuah surat kabar pernah memperlihatkan foto Bung Karno duduk dengan seorang perempuan tua. “Perempuan yang sudah sepuh itu katanya adalah Sarinah,” kata Sri Sulistyawati, yang mengingat bahwa ia mendapat jawaban itu dari Bung Karno.
Suatu hari, ketika Sri masih bekerja sebagai wartawan yang bertugas di Istana, ia berusaha mempertanyakan perihal siapa Sarinah kepada Bung Karno. Bung Karno pun menjanjikan memberi jawaban kepada Sri suatu saat jika ada kesempatan.
Suatu hari, masih sangat pagi, ketika Bung Karno sedang menyiram taman di istana negara, Sri Sulistyawati menggunakan kesempatan untuk menagih janji Bung Karno mengenai Sarinah itu.
Suatu hari, masih sangat pagi, ketika Bung Karno sedang menyiram taman di istana negara, Sri Sulistyawati menggunakan kesempatan untuk menagih janji Bung Karno mengenai Sarinah itu.
Menurut Bung Karno, sebagaimana dituturkan Sri Sulistyawati dalam diskusi di Berdikari Online, Sarinah adalah ibu susunya dan punya jasa dalam membesarkan Bung Karno. Lebih lanjut, Sarinah ini konon adalah istri dari penulis terkenal Belanda, Multatuli. Multatuli sendiri adalah nama samaran dari Eduard Douwes Dekker. E Douwes Dekker inilah yang menulis buku terkenal sepanjang masa, Max Havelar, yang menceritakan kejahatan kolonialisme di Indonesia.
Saat itu, Sri bekerja sebagai wartawan di Harian Ekonomi Nasional. Pemimpin redaksinya adalah Umar Said. Di sana ia aktif menjadi aktif sebagai wartawan dari tahun 1958 hingga tahun 1967. Dia sering mondar-mandir ke istana untuk mendapatkan berita.
“Saya selalu ke istana pagi-pagi sekali, ketika para pemimpin masih santai-santai. Jadi, kalau yang lain belum dapat berita, saya sudah dapat berita,” katanya. Ia selalu berusaha mengangkat reportase yang berbeda dengan koran-koran lain saat itu.
Meskipun begitu, Sri mengaku tidak punya kesempatan untuk menggali lebih banyak info dari Bung Karno mengenai Sarinah. “Karena banyak kesibukan saat itu, saya belum sempat menggali lebih jauh lagi,” katanya.
Meskipun ini tergolong informasi baru, Sri sendiri tidak mau memaksa orang untuk percaya atau tidak; bahwa Sarinah adalah istri dari Multatuli. Ia meminta kepada generasi muda, aktivis dan sejarahwan yang membuat penelitian untuk memverifikasi informasinya itu.

Sejarah GMNI
Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia, atau disingkat GMNI, lahir sebagai hasil proses peleburan 3 (tiga) organisasi mahasiswa yang berazaskan Marhaenisme Ajaran Bung Karno. Ketiga organisasi itu adalah :
- GERAKAN MAHASISWA MARHAENIS, berpusat di Jogjakarta
- GERAKAN MAHASISWA MERDEKA, berpusat di Surabaya
- GERAKAN MAHASISWA DEMOKRAT INDONESIA, berpusat di Jakarta.
Proses peleburan ketiga organisasi mahasiswa mulai tampak, ketika pada awal bulan September 1953, Gerakan Mahasiswa Demokrat Indonesia (GMDI) melakukan pergantian pengurus, yakni dari Dewan Pengurus lama yang dipimpin Drs. Sjarief kepada Dewan Pengurus baru yang diketuai oleh S.M. Hadiprabowo.
Dalam satu rapat pengurus GMDI yang diselenggarakan di Gedung Proklamasi, Jalan Pegangsaan Timur 56 Jakarta, tercetus keinginan untuk mempersatukan ketiga organisasi yang seazas itu dalam satu wadah. Keinginan ini kemudian disampaikan kepada pimpinan kedua organisasi yang lain, dan ternyata mendapat sambutan positip.
Setelah melalui serangkaian pertemuan, maka pada Rapat Bersama antar ketiga Pimpinan Organisasi Mahasiswa tadi, yang diselenggarakan di rumah dinas Walikota Jakarta Raya (Soediro), di Jalan Taman Suropati, akhirnya dicapai sejumlah kesepakatan antara lain:
- Setuju untuk melakukan fusi
- Wadah bersama hasil peleburan tiga organisasi bernama “Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia ” (GMNI).
- Azas organisasi adalah: MARHAENISME ajaran Bung Karno.
- Sepakat mengadakan Kongres I GMNI di Surabaya, dalam jangka waktu enam bulan setelah pertemuan ini.
Hasil kesepakatan tersebut, akhirnya terwujud. Dengan direstui Presiden Sukarno, pada tanggal 23 Maret 1954, dilangsungkan KONGRES I GMNI di Surabaya. Momentum ini kemudian ditetapkan sebagai Hari Jadi GMNI (Dies Natalis) yang diperingati hingga sekarang. Adapun yang menjadi materi pokok dalam Kongres I ini, selain membahas hasil-hasil kesepakatan antar tiga pimpinan organisasi yang ber-fusi, juga untuk menetapkan personil pimpinan di tingkat pusat.
Pengertian Dasar : GMNI Sebagai Organisasi Perjuangan
GMNI lahir dengan identitasnya yang hakiki sebagai “ORGANISASI PERJUANGAN” yang berlandaskan “Ajaran Sukarno”. Untuk itu ada beberapa prinsip perjuangan yang harus tetap melekat dalam diri GMNI dan menjadi watak dasar perjuangan GMNI yakni:
- GMNI berjuang untuk Rakyat.
- GMNI berjuang bersama-sama Rakyat.
GMNI; Organisasi Perjuangan dan Perjuangan Terorganisir
GMNI merupakan Organisasi Perjuangan dan Gerakan Perjuangan Terorganisir. Artinya, gerakan Perjuangan harus menjadi Jiwa, Semangat atau Roh GMNI. Dan segala tindak perjuangan GMNI harus terorganisir yakni senantiasa mengacu pada Doktrin Perjuangan yang menjadi azas GMNI.
Tujuan Perjuangan GMNI
Sebagai Organisasi gerakan Perjuangan, yang menjadi Tujuan Perjuangan GMNI adalah: Mendidik kader bangsa mewujudkan masyarakat Pancasila sesuai dengan amanat UUD 1945 yang sejati. Sebab dalam keyakinan GMNI, hanya dalam masyarakat Pancasila yang sejati, Kaum Marhaen dapat diselamatkan dari bencana kebodohan, kemiskinan, keterbelakangan, dan terhindar dari berbagai bentuk penindasan.
GMNI Bersifat Independen
GMNI adalah organisasi yang independen dan berwatak kerakyatan. Artinya, GMNI tidak beraffiliasi pada kekuatan politik manapun, dan berdaulat penuhdengan prinsip percaya [ada kekuatan diri sendiri. Independensi bukan berarti netral, sebab GMNI senantiasa proaktif dalam perjuangan sesuai dengan Azas dan Doktrin Perjuangan yang ia jalankan. Walaupun demikian, GMNI tidak independen dari Kaum Marhaen serta Kepentingan Kaum Marhaen.
GMNI Adalah Organisasi Kader Sekaligus Organisasi Massa
GMNI adalah organisasi Kader sekaligus organisasi Massa, artinya GMNI merupakan wadah pembinaan kader-kader pejuang bangsa; dan dalam perjuangannya itu, kader GMNI senantiasa menyatu dengan berjuta-juta massa Marhaen. GMNI tidak berjuang sendirian, tetapi harus bersama-sama dan untuk seluruh rakyat, sebab Doktrin Perjuangan GMNI menggariskan demikian.
Makna “GERAKAN” dalam GMNI
GMNI adalah suatu organisasi Gerakan,, Karena Gerakan GMNI dilakukan oleh sekelompok manusia yang berstatus ‘Mahasiswa’, maka dapat dikatakan bahwa GMNI adalah suatu gerakan yang dilakukan oleh sekelompok mahasiswa. Adapun yang dimaksud dengan “Gerakan” adalah: Suatu usaha atau tindakan yang dilakukan dengan sadar dan sengaja oleh sekelompok manusia, dengan menggunakan sumua potensi yang ia miliki (mis: sosial, politik, ekonomi, kebudayaan dll), atau yang ada di dalam masyarakat dengan tujuan untuk melakukan pembaruan-pembaruan terhadap sistem masyarakat, agar terwujud suatu tatanan masyarakat yang dicita-citakan bersama.
Makna “MAHASISWA” Dalam GMNI
GMNI adalah organisasi Mahasiswa. Sebagai konsekwensi dari sifat ini, maka yang boleh menjadi anggota GMNI hanya mereka yang berstatus mahasiswa. Namun demikian tidak semua mahasiswa dapat menjadi anggota GMNI, dikarenakan yang dapat menjadi anggota GMNI hanyalah mahasiswa yang mau berjuang untuk rakyat dan Bersama rakyat.
Makna “NASIONAL” Dalam GMNI
GMNI adalah organisasi yang berlingkup nasional. Artinya bukan organisasi kedaerahan, keagamaan, kesukuan, atau golongan yang bersifat terbatas. Makna Nasional juga mengandung pengertian bahwa yang diperjuangkan oleh GMNI adalah kepentingan Nasional. Sebagai organisasi yang berwatak Nasionalis, maka Nasionalisme GMNI jelas adalah Nasionalisme Pancasila.
Nilai Dasar Perjuangan GmnI
- GmnI adalah Organisasi Mahasiswa Warga Negara Republik Indonesia yang Independen bersifat bebas, aktif dan berwatak kerakyatan.
- GmnI adalah Organisasi Mahasiswa yang berwawasan Nasional yang tidak membeda-bedakan kesukuan, keagamaan, dan status sosial anggotanya, senantiasa menjunjung tinggi kesatuan dan persatuan Bangsa dan Negara dalam Perjuangan.
- GmnI adalah Organisasi Mahasiswa yang berkewajiban membela dan mengamalkan Pancasila senantiasa menjunjung tinggi Kedaulatan Negara di bidang ekonomi, politik, budaya dan pertahanan keamanan.
- GmnI adalah Organisasi Mahasiswa yang berkewajiban menggalang kekuatan nasional yang berjuang tanpa pamrih dalam melaksanakan amanat penderitaan rakyat
- GmnI adalah pejuang pemikir dan pemikir pejuang yang menjunjung tinggi kedaulatan negara, harkat dan martabat rakyat serta nama dan citra GmnI dalam kata-kata, sikap maupun perbuatan.
- GmnI adalah pejuang pemikir dan pemikir pejuang sebagai kader bangsa yang bersikap jujur, senantiasa patuh dan taat pada amanat dan konstitusi organisasi, menepati janji dan sumpah keanggotaan.
- Anggota GmnI adalah pejuang pemikir dan pemikir pejuang sebagai penuntut ilmu yang bertanggung jawab, bersikap sopan dan menghargai sesamanya.
- Anggota GmnI adalah pejuang pemikir dan pemikir pejuang yang tidak menjadikan status sebagai predikat, senantiasa mengejar cita-cita tanpa kenal menyerah, menunjukkan kesederhanaan hidup serta menjadi tauladan dalam lingkungannya.
- Anggota GmnI adalah pejuang pemikir dan pemikir pejuang yang bermaksud melanjutkan cita-cita proklamasi dan amanat UUD 1945 dalam mewujudkan tatanan masyarakat yang berkeadilan sosial.
- Anggota GmnI adalah pejuang pemikir dan pemikir pejuang sebagai insan akademis yang bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, senantiasa menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan dan keadilan dalam pergaulan bangsa-bangsa.
AZAS DAN DOKTRIN PERJUANGAN GMNI
Sebagai organisasi Gerakan Perjuangan, GMNI mempunyai Azas dan Doktrin Perjuangan, yang menjadi Landasan serta Penuntun Arah Perjuangan GMNI.
Azas dan Doktrin Perjuangan GMNI adalah:
- PANCASILA
- UNDANG-UNDANG DASAR 1945
- MARHAENISME
- PANCALOGI GMNI
- PANCASILA
- Ketuhanan Yang Maha Esa
- Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab
- Persatuan Indonesia
- Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmah Kebijaksaan dalam Permusyawaratan Perwakilan
- Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia
Agar dapat memahami dan memakai Pancasila dengan benar, maka setiap kader wajib membaca:
Lahirnya Pancasila, Pidato Bung Karno pada tanggal 1 Juni 1945, PANCASILA SEBAGAI DASAR NEGARA, Kuliah Panncasila yang disampaikan oleh Bung Karno di Istana Negara, Membangun Dunia Baru, Pidato Presiden Soekarno di depan sidang Majelis Umum PBB tahun 1960.
- UNDANG-UNDANG DASAR 1945
PEMBUKAAN
Bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa dan oleh sebab itu, maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan, karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan.
Perjuangan pergerakan kemerdekaan Indonesia telah sampailah kepada saat yang berbahagia dengan selamat sentosa mengantarkan rakyat Indonesia kedepan pintu gerbang kemerdekaan Negara Indonesia, yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur.
Atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa dan dengan didorong oleh keinginan luhur supaya berkehhidupan kebangsaan yang bebas, maka rakyat Indonesia menyatakan dengan ini kemerdekaannya.
Kemudian daripada itu untuk membentuk suatu pemerintahan negara Indonesia yang melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia, dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mecerdaskan kehidupan bangsa dan ikut serta melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial, maka disusunlah kemerdekaan bangsa Indonesia itu dalam suatu susunan Negara Republik Indonesia dengan berdasar kepada : Ketuhanan Yang Maha Esa, Kemanusiaan yang Adil dan Beradab, Persatuan Indonesia, dan Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmah Kebijaksanaan dalam permusyawaratan/Perwakilan, serta Mewujudkan Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia.
Dari Pembukaan UUD 1945, ada beberapa hal yang patut dipahami oleh setiap anggota GMNI, antara lain :
- Pokok perjuangan bangsa Indonesia adalah menghapukaan segala bentuk penindasan dan ketidakadilan karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan.
- Perjuangan tersebut sesungguhnya merupakan berkat dari Allah Yang Maha Kuasa.
- Negara berfungsi sebagai; Perumahan’ bangsa yang memberikan perlindungan bagi seluruh rakyat dan seluruh wilayah Republik Indonesia.
- Alat perjuangan untuk menuju terwujudnya cita-cita nasional yakni; masyarakat Adil dan Makmur di tengah dunia yang tanpa penindasan.
- MARHAENISME
SOSIO NASIONALISME, SOSIO DEMOKRASI, KETUHANAN YANG MAHA ESA
Marhaenisme is Pancasila dan Pancasila is Marhaenisme (Tidak Perlu diperdebatkan lagi !!!) Pidato Bung Karno di depan Konferensi PARTINDO, Mataram 1933 Tentang Marhaen, Marhaenis, Marhaenisme
- Marhaenisme yaitu Sosio Nasionalisme dan Sosio Demokrasi
- Marhaen yaitu kaum proletar Indonesia, kaum tani Indonesia yang melarat dan kaum melarat Indonesia yan lain-lain.
- Partindo memakai perkataan Marhaen dan tidak proletar oleh karena perkataan proletar sudah termaktub di dalam perkataan Marhaen, danoleh karena perkataan proletar itu bisa diartikan bahwa kaum tani dan kaum lain-lain kaum melarat tidak termasuk didalamnya.
- Karena Partindo berkeyakinan bahwa di dalam perjuangan, kaum melarat Indonesia lain-lain itu yang harus menjadi elemen-elemennya (bagian-bagiannya), maka Partindo memakai perkataan Marhaen itu.
- Didalam perjuangan kaum Marhaen, maka Partindo berkeyakinan bahwa kaum proletar mengambil bagian yang paling besar sekali.
- Marhaenisme adalah Azas yang menghendaki susunan masyarakat dan susunan Negeri yang dalam segala halnya menyelamatkan kaum marhaen.
- Mmarhaaenisme adalah pula cara perjuangan untuk mencapai susunan negeri yang demikian itu, yang oleh karenanya harus suatu cara perjungan yang revolusioner,
- Jadi Marhaenisme adalah cara perjuangan dan Azas yang ditujukkan terhadap hilangnya tiap-tiap Kapitalisme dan Imperialisme.
- Marhaenis adalah tiap-tiap orang bangsa Indonesia yang menjalankan Marhaenisme.
Pidato Bung Karno didepan Konferensi Besar GMNI, Kaliurang 1959 “HILANGKAN STERILITEIT DALAM GERAKAN MAHASISWA”. “Bagi saya Azas Marhaenisme adalah Aza yang paling cocok untuk Gerakan Rakyat Indonesia”
Rumusannya adalah :
- Marhaenisme adalah Azas yang menhendaki susunan masyarakat yang dalam segala halnya menyelamatkan kaum marhaen.
- Marhenisme cara perjuangan yang Revolusioner sesuai dengan watak kaum marhaen pada umumnya.
- Marhaenisme adalah dus Azas dan cara perjuangannya “tegelijk” menuju kepada hilangnya Kapitalisme, Imperialisme dan Kolonialisme.
Secara positif, maka Marhaenisme saya namakan juga Sosio Nasionalisme dan Sosio Demokrasi; karena Nasionalismenya kaum marhaen adalah Nasionalisme yang sosial bewust, dan karenanya Demokrasinya kaum Marhaen adalah Demokrasi yang sosial bewust pula.
Siapakah yang saya namakan kaum marhaen itu ? Yang saya namakan kaum marhaen itu adalah setiap Rakyat Indonesia yang melarat atau lebih tepat yang dimelaratkan oleh sistem Kapitalisme, Imperialisme, dan Kolonialisme.
Kaum Marhaen terdiri dari tiga unsur :
- Unsur kaum Proletar (Buruh)
- Unsur kaum Tani melarat Indonesia
- Kaum melarat Indonesia lain-lain
Kaum Marhaenis adalah setiap pejuang dan setiap patriot bangsa :
- Yang mengorganisir berjuta-juta kaum marhaaen itu
- Yang bersama-sama dengan tenaga massa marhaen itu hendak menumbangkan Sistem Kapitalisme, Imperialisme dan Kolonialisme.
- Yang bersama-sama dengan massa marhaen membangun negara dan masyarakat yang kuat, bahagia sentosa, adil dan makmur
Pokonya ialah bahwa Marhaenis adalah setiap orang yang menjalankan Marhaenisme yang saya jelaskan tadi. Cam-kan benar-benar !! Setiap kaum Marhaenis berjuang untuk kepentingan kaum Marhaen dan bersama-sama kaum Marhaen.
- PANCALOGI GMNI
Pancalogi terdiri dari 5 prinsip :
- IDEOLOGI
- REVOLUSI
- ORGANISASI
- STUDI
- INTEGRITAS
Penjelasan :
Kelima perinsip di atas harus menjadi jati diri bagi setiap anggota GMNI.
- Ideologi artinya perjuangan setiap anggota GMNI harus dilandaskan pada Ideologi yang menjadi Azas dan Doktrin perjuangan GMNI, sebab ideologi merupakan acuan pokok dalam penentuan format dan pola operasional pergerakan.
- Revolusi artinya perjuangan setiap anggota GMNI harus berorientasi pada perombakan susunan masyarakat secara revolusioner. Revolusi bukan berarti tumpah darah, tetapi dalam pengertian pemikiran.
- Organisasi artinya perjuangan GMNI adalah perjuangan yang terorganisir, sesuai dengan Azas dan doktrin perjuangan GMNI.
- Studi artinya sebagai oraganisasi mahasiswa, maka titik berat perjuangan GMNI adalah pada aspek studi. Amanat Penderitaan Rakyat harus dijadikan titik sentral dalam pendorong upaya studi ini.
- Integritas artinya Perjuangan GMNI senantiasa tidak terlepas dari perjuangan Rakyat.
Subscribe to:
Posts (Atom)