
Seperti sebuah peristiwa yang abadi dan di kenang seluruh generasi, peristiwa perjuangan menuju kemerdekaan dan pembacaan naskah proklamasi sebagai prasasti sejarah yang penuh dengan heroisme.
Para founding father merangkai cita-cita besar ketika negara ini berdiri dengan segala konsepsi yang bertujuan demi kesejahteraan seluruh rakyat indonesia dengan adil dan merata, kesejahteraan tanpa pilih kasih dan hak seluruh umat manusia.
Tapi kenyataan sama sekali tidak sesuai dengan heroisme dari cerita para leluhur bangsa dan tidak semanis kisah dari buku sejarah.
Kemerdekaan negara ini yang di rebut dengan mengorbankan nyawa-nyawa para pejuang yang mereka abdikan demi berkibar nya sang saka merah putih dan kemerdekaan untuk indonesia itu di nodai oleh generasi pengisi kemerdekaan.
Kesejahteraan yang berlandaskan keadilan yang suci adalah tipuan layaknya pementasan sulap yang di kagumi tapi penuh dengan kepalsuan, parade kepalsuan yang terus di pertontonkan oleh kekuasaan yang culas.
Kekuasaan yang tidak berorientasi pada perwujudan cita-cita bangsa melainkan kekuasaan yang diraih itu untuk membiarkan kekuasaan asing memperkosa ranumnya keperawanan ibu pertiwi.
Semenjak perjuangan kemerdekaan, pasca kemerdekaan, tragedi kemanusiaan tahun 65 dan rangkaian perang manusia yang mengatasnamakan agama dan suku.
Generasi kekinian terus di beri tontonan kekerasan yang sungguh menyakitkan.
Situasi yang menyakitkan inipun mendapat perlawanan dari kaum-kaum yang sadar akan arti perbaikan peradaban, kaum-kaum yang sadar tentang pembebasan rakyat dari segala bentuk penindasan.
Akan tetapi ketika rakyat tertindas melawan untuk mempertahan hak nya.
Sering sekali mendapat respon represif dari aparat keamanan yang semestinya melindungi warga negara dengan sebaik-baik nya.
Tindakan represif yang tidak manusiawi atas dalih bahwa rakyat yang tertindas itu melakukan aksi yang huru-hara, membakar ban, melempar batu, melempar bom molotov dan menghancurkan fasilitas umum.
Akan tetapi ada satu pertanyaan, apa membakar ban, melempar bom molotov, merusak fasilitas itu adalah kekerasan? jawaban nya adalah BUKAN.
Karena kekerasan sejati adalah kelaparan rakyat, kemiskinan, ketidakadilan, eksploitasi alam dan ekploitasi manusia.
Dinegara yang merdeka, atasnama nasionalisme rakyat di paksa untuk mencintai negara dengan setulus hati dengan rasa lapar yang dilanda, dengan rengekan bayi meminta asi, jerit pengangguran yang sulit mencari kerja, kekerasan sosial dan kekerasan fisik adalah kenyataan yang ada, ketimpangan sosial akan melahirkan perlawanan tapi perlawan akan melahirkan korban dari rakyat yang tertindas karena aparat meredam dengan cara-cara yang tidak manusiawi.
Negara adalah wujud dari segala harapan, ideologi adalah tuntunan umat manusia dalam suatu negara, pancasila adalah ideologi negara kesatuan republik indonesia, tapi kenyataan menjadikan setiap kata dan kalimat yang ada di pancasila sudah mulai luntur dan dengan keadaan bangsa hari ini, pancasila mungkin akan di pandang sebelah mata oleh orang orang yang merasa di khianati dan di sakiti oleh negeri nya sendiri.
Degradasi nasionalisme itu terjadi bisa terjadi karena ulah dari kekuasaan itu sendiri.
SALAM HORMAT UNTUK REKAN JUANG YANG MELAWAN SEGALA PENINDASAN TERKHUSUS MELAWAN PENGGUSURAN!
Oleh : Kupu-kupu hitam (Bung Ridwan 'Bopung')
No comments:
Write comments