Oleh : Suhendi (Bung Giring)
DPK Manajemen La Tansa Mashiro
Manusia memiliki dua pengertian tergantung dari sudut pandang penempataan posisinya. Pertama manusia sebagai makhluk individu, artinya manusia sebagai makhluk individu sejak ia dilahirkan ke bumi membawa ciri atau kepribadian yang berbeda- beda dengan manusia lainnya. Contoh, Andi dan Hafid ialah pemuda desa karangkamulyan akan tetapi mereka memiliki kepribadian berbeda-beda. Andi ialah orang yang selalu bekerja keras dan humoris tetapi mudah untuk terpancing emosi ketika ada orang lain yang menganggap apa yang ia perjuangkan itu salah. Hafid ialah orang yang sebaliknya, Hafid lebih kepada pendiam dan selalu banyak mengeluh ketika ekspektasinya tidak sesuai dengan kenyataan hal itu disebabkan oleh kepribadiannya yang selalu menghindari konflik dengan orang lain, lebih baik ia pendam dan merasakkannya sendiri. Kedua manusia sebagai makhluk sosial, yang artinya manusia dalam mengembangkan kepribadiannya tidak bisa hidup sendiri. Manusia butuh manusia lainnya untuk 8menjalani kehidupan, baik itu untuk berinteraksi maupun untuk mencapai suatu tujuannya. Contoh, Andi dan Hafid memiliki kepribadian yang berbeda seperti yang penulis contohkan di atas, akan tetapi mereka sebenarnya memiliki tujuan yang sama yaitu membentuk kelompok pemuda di salah satu kampung yang ada di desanya.
Menurut filsuf besar Plato, jiwa itu ada sejak sebelum kelahiran, jiwa itu tidak dapat hancur alias abadi. Lebih jauh Plato mengatakan bahwa hakikat manusia itu ada dua, yaitu rasio dan kesenangan (nafsu). Aristoteles menyatakan manusia adalah hewan berakal sehat, yang mengeluarkan pendapatnya, yang berbicara berdasarkan akal pikirannya (the animal that reasons). Manusia adalah hewan yang berpolitik (zoon politicon, political animal), hewan yang berfamili dan bermasyarakat, mempunyai kampung halaman dan negara. Menurut plato, jiwa manusia adalah entitas non material yang dapat terpisah dari tubuh.
Lalu bagaimana manusia itu hidup? Manusia dalam menjalani hidupnya ditunjang dua faktor. Pertama faktor internal seperti pemenuhan spiritual dalam hal ini dapat dipenuhi melalui kegiatan-kegiatan keagamaan, kebudayaan, dan tradisi. Pemenuhan psikis dapat terpenuhi melalui hiburan, dan melepas kepenatan dengan mencari tempat indah yang dapat menenangkan jiwa dan pikiran.
Pemenuhan biologis melalui aktivitas seksual yang bertujuan melampiaskan hasrat birahi. Kedua faktor eksternal, faktor eksternal di sini seperti dapat terpenuhinya kebutuhan material melalui pencariaan nafkah seperti apa yang sudah di jelaskan oleh Bung Karno “Bila mau hidup harus makan, yang dimakan hasil kerja, jika tidak bekerja, tidak makan, jika tidak makan pasti mati. Inilah Undang-undang dunia, inilah Undang-undang hidup, mau tidak mau semua makhluk harus menerima Undang-undang ini, terimalah Undang-undang itu dengan jiwa merdeka, jiwa yang tidak menengadah, melainkan kepada Tuhan”. Dari prinsip itulah terjadi persaingan dan bahkan gesekan antar pencari nafkah, karena semua punya alasan untuk menopang kehidupan dan mengugurkan kewajiban. Kondisi ini diperparah dengan lapangan pekerjaan yang sangat terbatas, sehingga menyebabkan antar individu manusia harus berlomba-lomba untuk mendapatkannya. Keterbatasan itu pada dasarnya menyadarkan akan pentingnya berasosiasi dalam hal ini seperti pembuatan asosiasi sosial, asosiasi politik. Misalkan salah satunya melalui pembentukan koperasi yang dapat memenuhi kebutuhan individu dan kelompok untuk menghindari konflik antar individu yang bersumber pada pemenuhan kebutuhan hidup.
Dari dua faktor itu, apakah jika kedua faktor tersebut tidak terpenuhi berdampak pada keseimbangan kehidupan seseorang? Tentu jawabannya adalah iya, karena ketika tidak tercukupinya kebutuhan spiritual akan menimbulkan degradasi iman dan ketakwaan, ketika tidak tercukupinya kebutuhan pokok yang berkaitan dengan kebutuhan psikis dan biologis akan menyebabkan kekacauan dan hilang keseimbangan hidup sebagai konsekuensi yang harus dihadapi. Oleh karena itu manusia akan terus berusaha agar tidak mengalami fase seperti itu, maka manusia dan pengasosiasian diri dalam dimensi sosial tidak dapat dipisahkan. Karena itu adalah salah satu cara agar manusia dapat mencapai hakikat kehidupan, yaitu ketenteraman, ketenangan, dan keseimbangan.
Maka ketika manusia memilih untuk hidup individualis akan menyebabkan kekacauan yang bukan hanya berdampak pada diri sendiri melainkan berimbas pada khalayak umum. Seperti memperkaya diri sendiri, mencari rezeki dengan cara mengeksploitasi alam sehingga terjadi kerusakan alam yang mengakibatkan banjir, longsor, polusi yang merugikan masyarakat.
Penjelasan diatas merupakan gambaran betapa bahayanya ketika manusia lebih individu mendepatkan jiwa individualis dan mengesampingkan kepentingan umum.
Dalam dinamika kehidupan ada beberapa elemen kebersamaan yang diciptakan oleh manusia sebagai ekspresi dari asosiasi salah satunya adalah organisasi, organisasi itu hadir selain mengakomodir kepentingan anggota untuk memenuhi kebutuhannya, organisasi juga mengajarkan nilai-nilai kebersamaan, gotong royong dan humanisme sehingga organisasi sebagai sarana pendidikan masyarakat agar memiliki daya pikir yang tajam dan daya perasaan yang halus hal tersebut terekspresikan melalui tingkah lakunya.
Sedikit mengutip pernyataan dari Pramoedya Ananta Toer “Didiklah rakyat dengan organisasi dan didiklah pemerintah dengan perlawan” penjelasan tersebut sudah memiliki nilai mutlak bahwa setiap individu akan mendapat nilai lebih ketika memilih untuk mendedikasikan diri pada organisasi.
Terakhir penulis sampaikan maksud dan tujuan tulisan ini adalah menyadarkan pada setiap individu untuk dapat memberanikan diri untuk melepaskan diri dari cengkeraman individualisme yang semakin tumbuh dalam jiwa-jiwa generasi muda masa kini, karena penulis percaya jika situasi ini dibiarkan maka berbahaya bagi kelangsungan berbangsa dan bernegara. Perihal pertanyaan apakah manusia sebagai makhluk sosial itu hakikat atau keterpaksaan sepeti judul diatas maka penulis menyerahkan sepenuhnya pada interpretasi pembaca selaku orang yang memiliki kemerdekaan berpikir.