Tuesday, March 31, 2020

Corona dan omnibus law



Ku tulis dua kutukan diatas tanah-tanah basah.
Dua bencana yang menggantung di kantung-kantung mata.

_Pertama_; Satu virus yang serupa sepuluh pemuda -- yang mampu mengguncang dunia.

_Kedua_; Omnibus yang menghunus di gala para pekerja.

Ini kutukan tentang virus dan Omnibus,
Yang berkongsi menggagahi Ibu Pertiwi.
Merangsuk hingga tembus ke sumsum rusuk.

*

Media masa mempropaganda jelajah Corona.

Menanam benih ketakutan di ladang-ladang harapan.
Menumbuhkan keresahan dalam benak orang-orang tersayang.

Media masa serupa Tuhan,
Semenjak para ilmuwan melegitimasi semua kebenaran.

Masa akhir usia,
Tergantung kehendak si pembuat berita.

Ditempat lain...
Investasi jadi peranti pemuas fantasi,
Bagi negara dan borjuasi yang gemar prostitusi.

Buruh pabrik jadi objek pelampiasan birahi.
Dilucuti hingga mati -- lenyap dengan cara-cara tak manusiawi.



**


Ancaman kematian gagah menghadang di depan mata,
Dengan jangka yang terbilang tak lama,
Sejak Corona makin meraja,
Hingga ke sudut-sudut kota.

Orang-orang malang mahir memetik keadaan,
Memanfaatkan ketakutan dari kematian yang pasti datang.

Menimbun pasokan demi kepuasan si lambung jalang.
Mengendapkan ampas-ampas pikiran yang membunuh kemanusiaan.

Di jalan yang lain...
Borjuis bengis mengiris mata-mata pengemis upah.

Menuai untung dari darah, keringat dan air mata,
Yang diperas paksa,
Dari puting susu para pekerja.

***

Sungguh...
Virus dan Omnibus mampu menggerus akal lurus.

Ikrar kemanusiaan yang adil dan beradab merangkak jadi asas politik diatas kertas.

Dalih ekonomi yang berkemajuan,
Jadi mahar mempersunting kematian.

Lockdown ditiadakan,
Investasi berjalan melenggang.

Kemanusiaan terancam,
Disaat kekuasaan dan uang berjabat tangan diatas senandung orang-orang malang.

OLEH BUNG FAJAR NURALAMSYAH
(KADER GMNI STKIP LATANSA)

Sunday, March 22, 2020

COVID-19 DAN DUNIA PENDIDIKAN INDONESIA



Seperti kita ketahui pendidikan di Indonesia semakin berkembang dan melakukan perubahan sistem pendidikan guna menunjang pendidikan yang lebih baik dan menghasilkan generasi muda berfikir kritis, sistematis, bermatabat yang mengikuti perkembangan zaman.

Melihat situasi sekarang, ketika pandemi Corona atau Covid-19 mulai berpengaruh kehampir semua bidang kehidupan manusia. Mulai dari politik, sosial, ekonomi bahkan dunia pendidikan.

Dampak negatif COVID-19 atau VIRUS CORONA pada dunia pendidikan salah satunya adalah pada proses pembelajaran. Dimana kita ketahui yang tadinya proses pembelajaran itu melalui tatap muka dan interaksi didalam kelas. tapi kini proses pembelajaran itu dialihkan menjadi belajar jarak jauh dirumah masing-masing dengan memanfaatkan media online atau sering disebut dengan istilah E-learning.

Ini sebuah tantangan besar bagi seorang pendidik agar bisa memberikan pembelajaran efektif dan inovasi-inovasi pendidikan yang baik tanpa mengurangi esensi belajar tatap muka didalam kelas.


Dan penulis beharap para pendidik untuk bisa berinovasi agar terciptanya pembelajaran yang berkualitas seperti layaknya pembelajaran didalam kelas. Jangan sampai E-learning ini tidak berjalan seperti seharusnya, seperti dapat kita ketahui banyak sekali pengajar malah memberikan tugas sehingga murid harus menanggung beban tugas-tugas yang harus diselesaikan.

Mari kita sama-sama terus semangat dalam mengembangkan ilmu, jangan jadikan alasan penyakit atau virus corona ini untuk kita tidak mencari ilmu. Karena pada dasarnya ketika kita mempunyai ilmu dan terus dikebangkan, Maka ilmu itu akan bermamfaat untuk kita dan orang sekitar kita.

Bung Epul
Ketua DPK GMNI Setia Budhi Raya

Saturday, March 14, 2020

MANUSIA SEBAGAI MAKHLUK SOSIAL; HAKIKAT ATAU KETERPAKSAAN ?


Oleh : Suhendi (Bung Giring)
DPK Manajemen La Tansa Mashiro

Manusia memiliki dua pengertian tergantung dari sudut pandang penempataan posisinya. Pertama manusia sebagai makhluk individu, artinya manusia sebagai makhluk individu sejak ia dilahirkan ke bumi membawa ciri atau kepribadian yang berbeda- beda dengan manusia lainnya. Contoh, Andi dan Hafid ialah pemuda desa karangkamulyan akan tetapi mereka memiliki kepribadian berbeda-beda. Andi ialah orang yang selalu bekerja keras dan humoris tetapi mudah untuk terpancing emosi ketika ada orang lain yang menganggap apa yang ia perjuangkan itu salah. Hafid ialah orang yang sebaliknya, Hafid lebih kepada pendiam dan selalu banyak mengeluh ketika ekspektasinya tidak sesuai dengan kenyataan hal itu disebabkan oleh kepribadiannya yang selalu menghindari konflik dengan orang lain, lebih baik ia pendam dan merasakkannya sendiri. Kedua manusia sebagai makhluk sosial, yang artinya manusia dalam mengembangkan kepribadiannya tidak bisa hidup sendiri. Manusia butuh manusia lainnya untuk 8menjalani kehidupan, baik itu untuk berinteraksi maupun untuk mencapai suatu tujuannya. Contoh, Andi dan Hafid memiliki kepribadian yang berbeda seperti yang penulis contohkan di atas, akan tetapi mereka sebenarnya memiliki tujuan yang sama yaitu membentuk kelompok pemuda di salah satu kampung yang ada di desanya.

Menurut filsuf besar Plato, jiwa itu ada sejak sebelum kelahiran, jiwa itu tidak dapat hancur alias abadi. Lebih jauh Plato mengatakan bahwa hakikat manusia itu ada dua, yaitu rasio dan kesenangan (nafsu). Aristoteles menyatakan manusia adalah hewan berakal sehat, yang mengeluarkan pendapatnya, yang berbicara berdasarkan akal pikirannya (the animal that reasons). Manusia adalah hewan yang berpolitik (zoon politicon, political animal), hewan yang berfamili dan bermasyarakat, mempunyai kampung halaman dan negara. Menurut plato, jiwa manusia adalah entitas non material yang dapat terpisah dari tubuh.

Lalu bagaimana manusia itu hidup? Manusia dalam menjalani hidupnya ditunjang dua faktor. Pertama faktor internal seperti pemenuhan spiritual dalam hal ini dapat dipenuhi melalui kegiatan-kegiatan keagamaan, kebudayaan, dan tradisi. Pemenuhan psikis dapat terpenuhi melalui hiburan, dan melepas kepenatan dengan mencari tempat indah yang dapat menenangkan jiwa dan pikiran.

Pemenuhan biologis melalui aktivitas seksual yang bertujuan melampiaskan hasrat birahi. Kedua faktor eksternal, faktor eksternal di sini seperti dapat terpenuhinya kebutuhan material melalui pencariaan nafkah seperti apa yang sudah di jelaskan oleh Bung Karno “Bila mau hidup harus makan, yang dimakan hasil kerja, jika tidak bekerja, tidak makan, jika tidak makan pasti mati. Inilah Undang-undang dunia, inilah Undang-undang hidup, mau tidak mau semua makhluk harus menerima Undang-undang ini, terimalah Undang-undang itu dengan jiwa merdeka, jiwa yang tidak menengadah, melainkan kepada Tuhan”. Dari prinsip itulah terjadi persaingan dan bahkan gesekan antar pencari nafkah, karena semua punya alasan untuk menopang kehidupan dan mengugurkan kewajiban. Kondisi ini diperparah dengan lapangan pekerjaan yang sangat terbatas, sehingga menyebabkan antar individu manusia harus berlomba-lomba untuk mendapatkannya. Keterbatasan itu pada dasarnya menyadarkan akan pentingnya berasosiasi dalam hal ini seperti pembuatan asosiasi sosial, asosiasi politik. Misalkan salah satunya melalui pembentukan koperasi yang dapat memenuhi kebutuhan individu dan kelompok untuk menghindari konflik antar individu yang bersumber pada pemenuhan kebutuhan hidup.

Dari dua faktor itu, apakah jika kedua faktor tersebut tidak terpenuhi berdampak pada keseimbangan kehidupan seseorang? Tentu jawabannya adalah iya, karena  ketika tidak tercukupinya kebutuhan spiritual akan menimbulkan degradasi iman dan ketakwaan, ketika tidak tercukupinya kebutuhan pokok yang berkaitan dengan kebutuhan psikis dan biologis akan menyebabkan kekacauan dan hilang keseimbangan hidup sebagai konsekuensi yang harus dihadapi. Oleh karena itu manusia akan terus berusaha agar tidak mengalami fase seperti itu, maka manusia dan pengasosiasian diri dalam dimensi sosial tidak dapat dipisahkan. Karena itu adalah salah satu cara agar manusia dapat mencapai hakikat kehidupan, yaitu ketenteraman, ketenangan, dan keseimbangan.

Maka ketika manusia memilih untuk hidup individualis akan menyebabkan kekacauan yang bukan hanya berdampak pada diri sendiri melainkan berimbas pada khalayak umum. Seperti memperkaya diri sendiri, mencari rezeki dengan cara mengeksploitasi alam sehingga terjadi kerusakan alam yang mengakibatkan banjir, longsor, polusi yang merugikan masyarakat.

Penjelasan diatas merupakan gambaran betapa bahayanya ketika manusia lebih individu mendepatkan jiwa individualis dan mengesampingkan kepentingan umum.

Dalam dinamika kehidupan ada beberapa elemen kebersamaan yang diciptakan oleh manusia sebagai ekspresi dari asosiasi salah satunya adalah organisasi, organisasi itu hadir selain mengakomodir kepentingan anggota untuk memenuhi kebutuhannya, organisasi juga mengajarkan nilai-nilai kebersamaan, gotong royong dan humanisme sehingga organisasi sebagai sarana pendidikan masyarakat agar memiliki daya pikir yang tajam dan daya perasaan yang halus hal tersebut terekspresikan melalui tingkah lakunya.

Sedikit mengutip pernyataan dari Pramoedya Ananta Toer “Didiklah rakyat dengan organisasi dan didiklah pemerintah dengan perlawan” penjelasan tersebut sudah memiliki nilai mutlak bahwa setiap individu akan mendapat nilai lebih ketika memilih untuk mendedikasikan diri pada organisasi.
Terakhir penulis sampaikan maksud dan tujuan tulisan ini adalah menyadarkan pada setiap individu untuk dapat memberanikan diri untuk melepaskan diri dari cengkeraman individualisme yang semakin tumbuh dalam jiwa-jiwa generasi muda masa kini, karena penulis percaya jika situasi ini dibiarkan maka berbahaya bagi kelangsungan berbangsa dan bernegara. Perihal pertanyaan apakah manusia sebagai makhluk sosial itu hakikat atau keterpaksaan sepeti judul diatas maka penulis menyerahkan sepenuhnya pada interpretasi pembaca selaku orang yang memiliki kemerdekaan berpikir.

Sunday, March 8, 2020

AJAK PEMUDA UNTUK BERJIWA KREATIF, GMNI LEBAK GELAR TALK SHOW MILENIAL


LEBAK - Dewan pimpinan cabang Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia Kabupaten Lebak sukses menyelenggarakan Talk Show Milenial dengan tema "peran aktif pemuda dalam membangun ekonomi kreatif di kabupaten lebak" pada hari sabtu,7 Maret 2020 di aula museum multatuli.
Kegiatan yang dihadiri sekitar 150 peserta ini dari berbagai macam kalangan mulai dari pelajar, mahasiswa, pegiat kopi, paguyuban pedagang dan masyarakat.
Talk show kali ini menghadirkan narasumber Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga, Kepala Dinas Koperasi dan UMKM, DPP GMNI, Owner kedai kopi bahe, Owner kopi insomnia, Owner majoe lanjtar roestry dan di hadiri pula oleh Wakil Bupati Kabupaten Lebak selaku pembicara kunci pada talk show tersebut.
Menurut Endang selaku ketua DPC GMNI Lebak kegiatan merupakan sarana sinergitas antara pemerintah dengan pegiat-pegiat ekonomi kreatif di kabupaten lebak
"Solusi dari peningkatan taraf kesejahteraan dalam suatu daerah adalah ekonomi, maka kegiatan ini bertujuan untuk menciptakan sinergitas antara pemerintah dan pelaku ekonomi kreatif agar dapat menciptakan kesejahteraan di masyarakat" ucapnya
Endang juga menambahkan bukti nyata DPC GMNI Lebak dalam kontribusi membangun ekonomi kreatif DPC GMNI Lebak mendirikan LEKSA.
"Bukti nyata, selain kami mengadakan Talk Show Milenial ini kami juga mendirikan Lembaga Ekonomi Kreatif Sarinah sebagai pendidikan wirausaha di internal GmnI, selain menjual produk hasil dari sarinah lebak, LEKSA ini juga sebagai sarana promosi produk-produk masyrakat lebak lainnya. Saya juga berharaf Digital marketin dapat berkembang pesat di kabupaten lebak untuk mempermudah dan mengikuti perkembangan zaman"
Dalam sambutan nya Bung Irvan Ketua DPP GMNI menyampaikan bahwa DPP GMNI akan selalu mendudukung gagasan cemerlang dari setiap cabang
"DPP GMNI akan selalu mendukung setiap ide dan gagasan dari setiap cabang, ide kreatif yang dapat memberikan solusi, terutama dalam bidang ekonomi harapannya disetiap cabang memiliki badan otonom yang bergerak dalam wirausaha sehingga dapat menciptakan kemandirian ekonomi"
Bapak H. Ade Sumardi, SE. M.Si selaku wakil Bupati Kabupaten Lebak memberikan motivasi pada generasi muda untuk selalu berkarya dan memberikan kontribusi pada kabupaten lebak.
"Berdikari di bidang ekonomi adalah cita-cita bung karno. Kemandirian hanya akan bisa didapatkan melalui keberanian untuk mencoba, termasuk dalam wirausaha. Pemuda harus mampu menciptakan peluang dan merubah mindset untuk jadi pekerja tapi cobalah untuk menciptakan lapangan pekerjaan, jangan pernah takut untuk mencoba." Tutupnya.

Oleh : Admin

Friday, March 6, 2020

MANUSIA DAN KERUSAKAN ALAM ; HILANG KESEIMBANGAN

Alam sudah mulai kehilangan kelestariannya, hewan-hewan mulai punah. Hal tersebut bendampak negatif bagi makhluk hidup karena keserakahan manusia, moderinisasi, industrialisasi dan eksploitasi alam berupa penembangan liar tanpa reboisasi, penangkapan hewan-hewan langka yang dilindungi, pembuangan limbah berbahaya ke aliran sungai, tambang yang  menyisakan lubang yang begitu besar. Menyebabkan banyaknya makhluk hidup yang terkena dampak berupa banjir, longsor, bahkan beresiko kematian bagi semua makhluk hidup yang di sekitarnya.

Dilansir dari https://jurnalintelijen.net/ mengenai data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Indonesia memproduksi sampah hingga 65 juta ton pada 2016, dan meningkat menjadi 67 ton pada 2017. Sementara itu, data Pusat Oceanografi LIPI menunjukkan, sekitar 35,15% terumbu karang di Indonesia dalam kondisi tidak baik dan hanya 6,39% dalam kondisi yang sangat baik. Pemanasan global dipicu karena pembakaran batu bara yang mencapai jumlah emisinya per tahun yaitu 9 miliar ton Co2; Adanya konversi lahan dan perusakan hutan dengan jumlah emisi mencapai 2,53 miliar ton Co2e; dan aktivitas dan pemakaian energy, pertanian dan limbah dengan emisi mencapai 451 juta ton Co2. Jika situasi ini terus berlanjut dan tidak segera di tanggulangi secara serius maka masa depan umat manusia di pertaruhkan.


Mengapa demikian?

Karena sumber air akan menjadi kotor dan tidak  layak untuk di  konsumsi manusia, oksigen akan menipis efek dari industrialisasi yang menghasilkan polusi sehingga manusia akan sulit untuk bernafas, laut tercemar dan  ekosistem terganggu akibat limbah dan sampah dari manusia itu sendiri,
situasi ini di perparah oleh moderinisasi yang memisahkan manusia dan alam bahkan memisahkan manusia dari rasa kemanusiaannya.

Di era pasar bebas dan penghambaan terhadap investor melalui regulasi yang di buat oleh pemerintah yang akan berdampak langsung terhadap lingkungan karena bicara investasi maka akan membutuhkan lahan yang begitu luas mengorbankan pohon-pohon bahkan penggusuran rumah-rumah rakyat tertindas .

Lantas kita harus bagaimana ?

Hal yang bisa kita lakukan adalah melawan kebijakan-kebijakan yang merugikan alam dan rakyat kecil. Mulailah tidak membuang sampah sembarangan, tidak menjual tanah sedikitpun untuk kepentingan para pemodal yang mementingkan keuntungan pribadi, tetap jaga keasrian alam yang di wariskan oleh ibu pertiwi karena indonesia adalah surga dunia yang di ciptakan tuhan yang maha esa lagi maha penyayang.

Oleh Bung DK Ilham (Kabid Ideologi dan kaderisasi GMNI  DPK Manajamen)