Wednesday, December 25, 2019

JANGAN TAKUT DIBENCI



Untuk sebagian orang ataupun para pembaca, mungkin dibenci adalah sesuatu hal yang membawa kita kearah yang cenderung negatif . Akan tetapi ketahuilah ada hal yang menarik ketika melihat banyak figur-  figur hebat yang membuat perubahan yang substansial, ternyata sangat jarang sekali ada figure yang tidak pernah dibenci oleh orang lain. Hampir semua figur - figur yang membuat perubahan besar di dunia ini mereka pernah dibenci oleh banyak orang saat mencoba untuk melakukan aksi membuat perubahan tersebut, sebut saja Presiden RI Pertama sekaligus Bapak Proklamator kita semua ialah Ir. Soekarno yang lebih akrab disapa Bung Karno yang amat sangat dibenci oleh para kolonialis pada masa penjajahan karena lewat kritikannya lewat tulisan maupun secara lisan hingga beliau mengalami pengasingan bahkan dimasukan kedalam jeruji besi hanya karena mengancam ketenangan kaum kolonialisme pada masa itu, bahkan Nabi Muhammad SAW pun merupakan orang yang sempat dibenci beliau diludahi bahkan dilempari batu oleh warga saat sedang melewati jalanan ketika hendak menyebarkan syiar-syiar islam dan memperbaiki peradaban.

Dari contoh-contoh itu kita bisa tahu bahwa seseorang tidak perlu menjadi jahat dan menyebalkan untuk dibenci oleh orang lain, justru orang yang dibenci adalah orang yang mempertahankan idealisme dan juga prinsip pribadinya ditengah-tengah masyarakat atau kalangan tertentu bahka norganisasi.

Ya, ternyata orang dibenci adalah orang yang berani berbeda ditengah masyarakat atau kelompok yang kebanyakan mempunyai pemikiran dan cara pandang yang sama, memang bukan hanya orang baik saja yang dibenci oleh orang-orang namun orang yang dibenci pun belum tentu orang baik, Tapi seharusnya kita dapat sepakat bahwa sebetulnya orang-orang yang dibenci itu adalah orang yang mempunyai pengaruh besar terhadap orang lain.

Tentu berusaha untuk tidak dibenci adalah hal yang sangat mudah, langkah awalnya yang harus dilakukan adalah jangan pernah terlibat didalam adu argumen, selalu ikuti apa kata orang dan jangan melakukan hal yang berbeda dari kebanyakan orang, itu cukup untuk membuat kita tidak dibenci oleh orang dan kita akan disenangi oleh orang yang ada disekitar kita. Tapi, apakah itu hal yang baik ? ya, mungkin bisa saja itu baik untuk kita, tetapi itupun jika tujuan hidup kita hanya menjadi teman yang baik, menjadi keluarga yang baik dan menjadi orang yang baik dimata orang-orang. Tapi ketika kita berusaha membuat perubahan dan mewujudkan dampak besar maka bermain aman dengan cara membahagiakan semua orang dan menghindari hal yang dibenci adalah bukan hal yang tepat. Mau tidak mau ketika kita ingin menciptakan perubahan yang besar pasti akan ada saja orang yang berbeda pendapat, tersinggung bahkan ada saja orang yang tanpa alasan membenci kita karena suatu hal yang kita lakukan. Maka menjadi yang orang dibenci adalah keniscayaan bagi pemimpin yang berusaha membuat perubahan yang substansial.

Maka penulis berpandangan dibenci orang lain merupakan cara kita juga untuk mengubah paradigma orang lain, manusia lain, kelompok lain agar dapat mengubah pemikirannya menjadi sesuai dengan apa yang kita percayai, mungkin banyak yang mengatakan bahwa dengan menulis postingan di internet, sosmed atau membaca tulisan yang sekarang sedang dibaca ini tidak akan berpengaruh pada pemikiran orang lain, bahkan ada pribahasanya sendiri “haters will be haters and lovers will be lovers” akan tetapi bayangkan jika setelah kita menulis atau membuat sebuah opini kita dapat merubah paradigma seseorang yang membaca dan walaupun tidak merubah paradigma setidaknya kita dapat membuat setiap pembaca mengerti dengan argumentasi yang ingin kita sampaikan meski orang tersebut tidak setuju dengan kita, bahkan akan amat berbangga hati pula jika memang para pembaca mampu menyadari bahkan terbangun kesadaran dirinya dengan membuat perubahan yang afektif dalam kehidupannya, dan itulah hal-hal diluar sana yang mungkin sekarang dibenci oleh sebagian orang. Dan penulis mempunyai pesan untuk kita semua yang ingin membuat perubahan yaitu JANGAN TAKUT DIBENCI.

Oleh : 

Bung Wahyu Fajar
(Wakil Ketua Bidang Agitasi dan Propaganda DPC GMNI Lebak)

Monday, December 23, 2019

“JAS MERAH” [SI CERDAS YANG MELUPAKAN SEJARAH]



Dari saya mulai mengenal dunia perkuliah pada tahun 2018 saya selalu memperhatikan orang cerdas sekitar saya dan menurut saya banyak orang cerdas di dunia ini, mereka tesebar di berbagai tempat termasuk di lingkungan saya sendiri , menurut saya mereka di lahirkan dengan kemampuan intelektual yang tinggi . mereka selalu di kagumi dan di jungjung tinggi oleh masyarakat setempat karena kecerdasannya .

Namun sayangnya, orang-orang cerdas ini kerap kali tidak mampu melihat dunia secara ke seluruhan mereka di butakan oleh kecerdasan mereka sendiri mereka menjadi sombong dan kehilangan empati,  mereka tidak mampu melihat dunia dari sudut pandang yang berbeda atau merasakan penderitaan orang lain di sekitarnya .

Dan menurut saya mereka hidup dalam ilusi, bahwa mereka adalah mahluk-mahluk yang unggul . Orang-orang cerdas seringkali tidak kritis mereka mengira pikiran yang muncul di kepala mereka adalah kebenaran  akhirnya mereka kerap sekali melakukan kesalahan yang merusak tanpa mereka sadari , mereka kerap juga bermulut besar dan mereka juga gemar mengumbar harapan-harapan besar yang sayangnya palsu .

Seharusnya kawan-kawan hanya perlu sedikit kritis guna ke palsuan yang di balut dengan kesombongan di dalam diri orang cerdas ini, orang cerdas ini seringkali juga penuh dengan kontradiksi misalnya mengaku membela rakyat ‘'dengan mencuri uang rakyat'' ,mereka juga berbicara soal menyelmatkan alam tapi " dengan terlebih dahulu mersuk alam ".

Itulah orang cerdas yang melupakan sejarah, sejarah iya bersal dari mana sejarah-sejarah dan saya selau berbicara tentang sejarah karena  saya ingin generasi yang akan datang atau generasi penurus untuk menjadikan sejarah sebagai pedoman hidup kalian,, jika perilaku ini masih tetap di budidayakan atau di diamkan suatu negara , bangsa , dunia kita akan hancur dan tidak akan mencapai cita-cita yang Indonesia inginkan maka dari tulisan ini lah saya mengajak kawan kawan kalian selau kritis-kritis dan kritis .

  “ BAGAS PERDINUSA”
[PENGURUS DPK MANAJEMEN LA TANSA]

Friday, December 20, 2019

Hari Lahir " Peristiwa Cinta dan Luka "


Aku merangkai tulisan ini bukan untuk menggurui, akan tetapi tulisanku ini aku tulis untuk memperbaiki diriku sendiri dan kawan kawan yang mrmbacanya.

Hari ini tepatnya dimana hari kelahiranku, perjalanan sangat panjang telah ku lalui pahit manis telah ku jalani, dan peristiwa ini merupakan sejarah bagi hidupku,  sejarah yang selalu ku kenang.

Aku ber ekspetasi akan ada kisah cinta dan kebahagiaan yang akan menghamiri di hari kelahiranku, akan ada sebuah peristiwa yang sangat membuat hati ini berbunga bunga, akan tetapi tuhan berkehendak lain, harapan itu adalah harapan semata, pada realitanya bertolak belaka,  justru yang aku alami adalah kehilangan,  kehilangan sesuatu yang begitu penting dalam hidupku oleh orang yang tidak bertanggung jawab dan tidak punya nilai kemanusiaan yang menghilangkan sesuatu yang berharga dalam hidupku, sehingga harapan itu menjadi luka.

Semua Peritiwa itu terjadi di kediamanku di rumahku yang ku cinta, di rumah yang menjadi tempatku belajar dan berproses, tempat segala dimana aku menemukan ide dan gagasan untuk melakukan konstruksi bangsa ini ke arah yang lebih baik lagi. Dari peristiwa ini aku menyadari bahwa sesuatu yang berharga yang kita miliki itu hanyalah titipan dari tuhan, tak elok jika aku tetap bersikeras bahwa semua itu harus kembali kepadaku, ini pula sejarah penting, catatan penting bagi hidupku dan untuk kita semua agar tertanam jiwa progresif dan kemanusiaan yang ter maktub di dalam pancasila point ke 2.

Ini sebuah proses bagiku, ini sebuah pelajaran paling substansial bagi kita semua, karena ketika meneguhkan hati untuk berproses itu tidak mudah, selalu ada rintangan dan cobaan yang harus kita hadapi,  seperti kutipan tokoh filsuf dari yunani Aristoteles " pendidikan  mempunyai akar yang pahit, tapi buahnya manis ".

Dari sejarah ini kita harus optimis semua rangkaian cerita pahit itu pasti ada makna tersendiri yang kita tidak ketahui, dan semua pahit yang aku rasakan ini, tak akan membuatku gentar untuk berproses, berjuang, tak akan membuatku patah semangat, dan aku yakini ini menstimulus diriku untuk lebih hebat dari sebelumnya, semoga ini akar dari buah yang kelak nanti akan ku petik.

Ini tulisanku yang ku beri judul hari lahir " Peristiwa cinta dan luka ", dan pesanku untuk diri pribadi dan kawan - kawan, tetaplah militan dalam berpendidikan dan berproses, apapun yang terjadi proses pahit yang di alami harus kita hadapi dan harus kita musnahkan untuk mencapai tujuan dan cita - cita kita bersama.

Bung Sahrul
(Kader DPK Manajemen La Tansa)

HARI IBU MENJADI MOMENTUM PERJUANGAN PEREMPUAN



Penetapan 22 Desember sebagai peringatan Hari Ibu mengacu pada pelaksanaan Kongres Perempuan Indonesia I yang dihelat tanggal 22-25 Desember 1928, atau hanya beberapa pekan setelah Kongres Pemuda II ,kongres berawal dari semangat Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928. Tertular semangat pemuda, kaum perempuan terbakar semangatnya dan menyelenggarakan kongres. Kongres dimaksudkan untuk menggalang persatuan antarorganisasi yang saat itu cenderung bergerak sendiri-sendiri.

Kemudian pada 22 Desember 1953 sekaligus peringatan kongres yang ke-25, Presiden Soekarno melalui Dekrit RI No.316 Tahun 1953 menetapkan setiap 22 Desember diperingati sebagai Hari Ibu.

Peringatan hari ibu bukan soal memberikan penghargaan bagi ibu karena dedikasinya pada keluarga alias peran domestik sebagai pengurus rumah tangga. 

Justru hari ibu diperingati sebagai momentum untuk mengenang dan menghargai semangat kaum perempuan dari berbagai latar belakang dalam pergerakan merebut, menegakkan dan mengisi kemerdekaan.

Peringatan Hari Ibu dimaksudkan untuk senantiasa mengingatkan kepada seluruh rakyat Indonesia terutama generasi muda akan makna Hari Ibu sebagai hari kebangkitan dan persatuan serta kesatuan perjuangan kaum perempuan yang tidak terpisahkan dari kebangkitan bangsa. 

GERAKAN perempuan di Indonesia tumbuh pada awal abad 20 ketika sekolah modern didirikan oleh pemerintah kolonial Belanda, dan organisasi modern didirikan oleh “kaoem bumiputera”. 

Hingga saat ini, hampir satu abad lamanya, perjuangan itu mengalami pasang surut. Bahkan apa yang disebut capaian tentang “Hak Perempuan” saat ini, pada prinsipnya belum dapat menjawab problem penindasan yang dialami kaum perempuan itu sendiri, periodisasi gerakan wanita Indonesia dalam memperjuangkan haknya dan peran untuk bangsa dan negara dalam berbagai peristiwa : 

1. Periode Melek Pengetahuan – Melawan Adat.

Titik awal mengambil tahun 1900-an, sebagai tahun yang ditandai dengan babak baru yang umum disebut kebijakan “etis” kolonial Belanda serta kehadiran gerakan nasionalis terorganisir di Indonesia, yang tidak dapat dipisahkan dari gerakan perempuan. Abad baru tersebut menandai awal nasionalisme Asia .

Kebijakan “etis” Belanda yang terkemuka ialah pembukaan sekolah modern bagi perempuan. Jika kita telisik, pembukaan sekolah perempuan ini berada di kota yang merupakan pusat industrialisasi perkebunan kolonial. Pendiri sekolah perempuan adalah aktivis perempuan dari kalangan priyayi maupun pegawai birokrasi kolonial, namun kemudian mendapat izin dari pemerintahan Belanda untuk menyelenggarakan pendidikan tersebut. 

Mengapa sekolah perempuan dan industrialisasi perkebunan berseiring? Ini ada hubungannya dengan kebutuhan pemerintah kolonial terhadap pekerja kerani (juru catat) di perkebunan atau perkantoran usaha perkebunan. Di samping itu berhubugan pula dengan kebutuhan menyetak “nyonya-nyonya” Boemipoetera seperti “mevrouw-mevrouw” Belanda, yang pandai merajut, menyelenggarakan upacara makan, berdandan modern, bisa baca tulis dan sedikit bahasa Belanda untuk membangun keluarga “boemipoetra kolonial” (holy family). 

Tetapi, pada perkembangannya, setelah melek huruf dan bahasa, para perempuan ini jauh melebihi harapan pemerintah kolonial. 

Mereka menjadi kritis dan melakukan perlawanan pertama terhadap adat kawin-cerai yang merendahkan kedudukan perempuan dalam keluarga. 

Para perempuan ini pun mempunyai pergaulan yang melampaui rumah atau desanya, sehingga berkenalan dengan aktivis laki-laki yang terpelajar, yang juga sedang bergairah melawan penjajah. 

Diskusi yang mengarah pada kesadaran identitas sosial “perempuan” telah berkembang mencapai kesadaran untuk menjadi “perempuan” bangsa yang merdeka (identitas nasional)

2.Periode Melek Nasionalisme – Melawan Kolonialisme/Imperialisme

Meski tidak bermaksud membangun pembatasan secara berangka tahun, periodisasi yang  saya sebut “Melek Nasionalisme” ini mengkristal di kalangan aktivis organisasi perempuan setelah Soempah Pemoeda, 28 Oktober 1928. Pada saat itu, seorang aktivis perempuan, yakni Siti Soendari (seorang wartawan dan pendiri buletin perempuan Swara Pacitan), mendapat kesempatan untuk berpidato di Kongres Soempah Pemoeda tersebut. 

Dua bulan sesudah peristiwa penting ini, organisasi-organisasi perempuan di Hindia Belanda (“Indonesia”) menyelenggarakan Kongres Perempuan I, pada 22 Desember 1928 di Yogyakarta. 

3.Periode Koncowingking – Mengikuti Suami 
periode ini,sebagai periode penghancuran gerakan perempuan Indonesia.

Periode ini membuat gerakan perempuan Indonesia hanya menjadi alat mobilisasi politik rezim militer yang pro-kapitalisme. 

Adat dan paham tua dikembangkan kembali untuk proses penundukan daya kritis organisasi perempuan. 

Sejalan dengan itu, industri majalah perempuan bertumbuhan dan mengusung “citra perempuan ideal modern” yang menerima beban ganda dengan tetap fashionable. Perempuan yang ideal ialah yang berkarier tetapi tidak melupakan peran domestiknya.

Maka, tak ada yang menyadari bahwa tubuh perempuan sejak periode ini telah dijadikan pasar bagi industri kosmetik dan busana; dan juga seksualitas perempuan dijadikan pasar bagi industri alat kontrasepsi. 

Di antara tubuh dan seksualitasnya, tenaga kerja perempuan dieksploitasi sebagai buruh di industri manufaktur, garmen, dan sebagainya. Di sini “negara” hilang sebagai arena pertarungan merebut “hak perempuan”, tetapi sebaliknya “negara” berhasil memanipulasi “hak perempuan” seakan-akan telah meretas batas domestik-publik, namun realitasnya tetaplah koncowingking.

4.Periode Melek Demokrasi Melawan Otoritarianisme Militer

Periodisasi ini kira-kira pada awal dekade 1980-an. Dipengaruhi oleh Dekade Perempuan Internasional 1975-1985 dan situasi nasional yang represif, tumbuhlah organisasi perempuan “baru’ yang berjuang untuk merebut kembali hak perempuannya yang dihancurkan. 

5.Periode 30 Persen Keterwakilan Perempuan(era reformasi)

Setelah penguasa Orde Baru mundur sebagai presiden pada 21 Mei 1998, Kongres Perempuan Indonesia digelar oleh LSM perempuan sejak 14 Desember hingga 22 Desember 1998 di Yogyakarta. 

Salah satu mandat Kongres yang utama ialah memperjuangkan isu Hak Dipilih perempuan dalam parlemen. Sebab realitasnya sejak Indonesia merdeka hingga saat ini, keterwakilan perempuan di parlemen tidak pernah beranjak dari 10 persen.

Selanjutnya, dari pemilu ke pemilu, perjuangan untuk merebut hak dipilih perempuan ini mengemuka. 

Gerakan perempuan mendeklarasikan affirmative action (tindakan khusus sementara) kuota 30 persen untuk memastikan kemajuan perjuangan hak dipilih bagi perempuan. 

Affirmatif action untuk kuota 30 persen keterwakilan perempuan ini pada akhirnya diterima dan dicantumkan ke dalam UU Pemilu –sekalipun masih penuh dengan catatan kelemahan. Begitu pun, di bidang isu hak asasi perempuan juga mengalami pengakuan negara, yakni ketika Komisi Nasional Anti-kekerasan terhadap Perempuan dibentuk atas keputusan Presiden Habibie dan perjuangan perempuan untuk membongkar kekerasan negara mendapatkan aksesnya.

Jadikan hari ibu sebagai momentum mengingat kembali sejarah pergerakan perempuan dan pentingnya peran perempuan dalam kemajuan suatu bangsa dan negara.

"Jangan menuntut perempuan hanya untuk urusan kasur dapur dan sumur,tapi tuntun  perempuan agar lebih cerdas dan memiliki nalar kritis, karena pada dasarnya generasi penerus bangsa lahir dari rahim seorang perempuan.

Sarinah Bella
Kader DPK Setia Budhi Raya

PUISI PEREMPUAN


PEREMPUAN

Perempuan adalah kata yang sering di ucapkan dengan tidak sopan dan dihinakan
Kata yang di baca dengan segala sisi kerendahan nya

Perempuan adalah kata yang di tulis di kertas-kertas tua,
yang di simpan di pojokan perpustakaan kehidupan

Perempuan adalah mata yang di paksa melihat kebawah, tanpa berhak untuk menatap kedepan apalagi menatap kelangit untuk sesekali berdialog dengan tuhannya
tetang perampasan keadilan di muka bumi ini atas nama kelamin

Tapi

Sekali lagi

Tapi !

Perempuan adalah ingatan yang akan terus datang menghampiri di setiap nurani manusia-manusia yang tersusun dari cinta

Ingatan yang membawa kesadaran bahwa perempuan adalah kata yang harus di ucapkan dengan cara sopan dan terhormat

Perempuan adalah kata-kata yang akan tertulis dalam lembaran peradaban kemanusiaan, pemberi kasih di atas nestapa 

Tatapan perempuan adalah tatapan menembus titik yang tidak terlihat dalam kalbu kita

Bangkit !

Bangkit !

Aku katakan bangkitlah
kaum perempuan
raih inti cahaya surya
dan simpan dalam nyawa waktumu

Bangkit !

Bangkit !

Sekali lagi
aku katakan
bangkitlah kaum perempuan

PEREMPUAN ADALAH RAHIM SEMESTA
DAN KEHIDUPAN ADALAH ANAK KANDUNG YANG TERUS MEMBINA KEHIDUPAN-KEHIDUPAN BARU !


(Bung Dhimas)
Sekretaris Umum GMNI Lebak

Friday, December 13, 2019

KEKERASAN FISIK DAN KEKERASAN SOSIAL DALAM DINAMIKA BERBANGSA DAN BERNEGARA

Image result for acab


Seperti sebuah peristiwa yang abadi dan di kenang seluruh generasi, peristiwa perjuangan menuju kemerdekaan dan pembacaan naskah proklamasi sebagai prasasti sejarah yang penuh dengan heroisme.

Para founding father merangkai cita-cita besar ketika negara ini berdiri dengan segala konsepsi yang bertujuan demi kesejahteraan seluruh rakyat indonesia dengan adil dan merata, kesejahteraan tanpa pilih kasih dan hak seluruh umat manusia.

Tapi kenyataan sama sekali tidak sesuai dengan heroisme dari cerita para leluhur bangsa dan tidak semanis kisah dari buku sejarah.

Kemerdekaan negara ini yang di rebut dengan mengorbankan nyawa-nyawa para pejuang yang mereka abdikan demi berkibar nya sang saka merah putih dan kemerdekaan untuk indonesia itu di nodai oleh generasi pengisi kemerdekaan.

Kesejahteraan yang berlandaskan keadilan yang suci adalah tipuan layaknya pementasan sulap yang di kagumi tapi penuh dengan kepalsuan, parade kepalsuan yang terus di pertontonkan oleh kekuasaan yang culas.

Kekuasaan yang tidak berorientasi pada perwujudan cita-cita bangsa melainkan kekuasaan yang diraih itu untuk membiarkan kekuasaan asing memperkosa ranumnya keperawanan ibu pertiwi.

Semenjak perjuangan kemerdekaan, pasca kemerdekaan, tragedi kemanusiaan tahun 65 dan rangkaian perang manusia yang mengatasnamakan agama dan suku.

Generasi kekinian terus di beri tontonan kekerasan yang sungguh menyakitkan.

Situasi yang menyakitkan inipun mendapat perlawanan dari kaum-kaum yang sadar akan arti perbaikan peradaban, kaum-kaum yang sadar tentang pembebasan rakyat dari segala bentuk penindasan.

Akan tetapi ketika rakyat tertindas melawan untuk mempertahan hak nya.

Sering sekali mendapat respon represif dari aparat keamanan yang semestinya melindungi warga negara dengan sebaik-baik nya.

Tindakan represif yang tidak manusiawi atas dalih bahwa rakyat yang tertindas itu melakukan aksi yang huru-hara, membakar ban, melempar batu, melempar bom molotov dan menghancurkan fasilitas umum.

Akan tetapi ada satu pertanyaan, apa membakar ban, melempar bom molotov, merusak fasilitas itu adalah kekerasan? jawaban nya adalah BUKAN.

Karena kekerasan sejati adalah kelaparan rakyat, kemiskinan, ketidakadilan, eksploitasi alam dan ekploitasi manusia.

Dinegara yang merdeka, atasnama nasionalisme rakyat di paksa untuk mencintai negara dengan setulus hati dengan rasa lapar yang dilanda, dengan rengekan bayi meminta asi, jerit pengangguran yang sulit mencari kerja, kekerasan sosial dan kekerasan fisik adalah kenyataan yang ada, ketimpangan sosial akan melahirkan perlawanan tapi perlawan akan melahirkan korban dari rakyat yang tertindas karena aparat meredam dengan cara-cara yang tidak manusiawi.

Negara adalah wujud dari segala harapan, ideologi adalah tuntunan umat manusia dalam suatu negara, pancasila adalah ideologi negara kesatuan republik indonesia, tapi kenyataan menjadikan setiap kata dan kalimat yang ada di pancasila sudah mulai luntur dan dengan keadaan bangsa hari ini, pancasila mungkin akan di pandang sebelah mata oleh orang orang yang merasa di khianati dan di sakiti oleh negeri nya sendiri.

Degradasi nasionalisme itu terjadi bisa terjadi karena ulah dari kekuasaan itu sendiri.

SALAM HORMAT UNTUK REKAN JUANG YANG MELAWAN SEGALA PENINDASAN TERKHUSUS MELAWAN PENGGUSURAN!

Oleh : Kupu-kupu hitam (Bung Ridwan 'Bopung')

SEBUAH RENUNGAN KEPEMIMPINAN DARI KACAMATA ANGGOTA BIASA



Dari judul tulisan diatas sudah bisa disadari penulis hanya anggota biasa dalam sebuah organisasi yang ingin menuangkan isi pikirannya tentang makna kepemimpinan.

Seorang ahli yang bernama Robert Tanembaum mengatakan pemimpin adalah mereka yang menggunakan wewenang formal untuk mengorganisasikan, mengarahkan, mengontrol para bawahan yang bertanggung jawab, supaya semua bagian pekerjaan dikoordinasi demi mencapai tujuan.

Dan seseorang yang bernama Jhons Gage Alle menjelaskan bahwa “ leader is a guide; a conductor; a commander” (pemimpin itu ialah pemandu, penunjuk, penuntun; komandan).

Adapun pemimpin yang mempunyai karakteristik yaitu berkarismatik, Pemimpin karismatik adalah pemimpin yang mewujudkan atmosfir motivasi atas dasar komitmen dan identitas emosional pada visi, filosofi, dan gaya mereka dalam diri bawahannya (Ivancevich, dkk, 2007:209). Pemimpin karismatik mampu memainkan peran penting dalam menciptakan perubahan. Individu yang menyandang kualitas-kualitas pahlawan memiliki karisma. 

Sebagian yang lain memandang pemimpin karismatik adalah pahlawan. House (1977) mengusulkan sebuah teori untuk menjelaskan kepemimpinan karismatik dalam hal sekumpulan usulan yang dapat diuji melibatkan proses yang dapat diamati. Teori itu mengenai bagaimana para pemimpin karismatik berperilaku, ciri, dan keterampilan mereka, dan kondisi dimana mereka paling mungkin muncul.

Dari penjelasan diatas maka penulis membuat kesimpulan sederhana tentang arti pemimpin, pemimpin ialah orang yang mempunyai wibawa tinggi, Mempunyai kebijaksanaan tinggi dan kedisiplinan yang lebih tinggi dibandingkan bawahannya untuk memberikan contoh dan jadikan panutan untuk bawahannya.

Pada Hakikatnya pemimpin adalah marwah pemimpin adalah simbol, simbol dari segala konteks dalam kepemimpinannya karena pemimpin adalah ujung tombak perjuangan.

Pemimpin menjadi harus menjadi sosok inspiratif dan menjadi motivasi bagi anggotanya, menaungi segala aspek dan memberi solusi dari persoalan-persoalan yang terjadi, pemimpin harus sadar bahwa pemimpin adalah panutan bagi anggotanya.

Melihat situasi dan kondisi organisasi saat ini, tentu kita sangat merindukan dan mengharapkan pemimpin yang hari-harinya dan jiwanya diabdikan di dedikasikan sepenuhnya kepada anggota organisasinya tersebut.

Image result for leadership


Pemimpin sejati tidak pernah mengeluh dan menyerah ketika sedang berjuang untuk organisasi yang sedang dia pimpin dan untuk keutuhan kelompoknya, pemimpin harus paham dengan kondisi anggota atau bawahannya, ketika dihadapkan masalah dan kritik, sebagai pemimpin harus menyikapinya dengan legowo dan bijaksana, bukan mendiskriminasinya, bukan mendiskreditkannya, keberadaannya dirasakan tanpa harus dikatakan.

Membangun nuansa kekeluargaan dan kehangatan rangkulannya membuat anggota merasa nyaman karena dia tahu selalu ada pemimpin yang menjaganya, selalu ada pemimpin yang menaunginya dan merangkulnya.

Hari-harinya menjadi perbincangan anggotanya karena mereka selalu merasa pemimpinnya selalu hadir ditengah-tengah mereka di tengan sentral retaknya perahu besar yang dia berposisi nahkoda yang selalu bisa menjadi orang tua, sahabat dan keluarganya, seperti apa yang sudah di janjikan pada saat niatan untuk memimpin dan harus siap menampung segala aspirasi-aspirasi anggotanya, baik itu berbentuk kritikan dan saran, karena pada dasarnya kapal yang kuat berasal dari laut yang tidak tenang dab besi yang kokoh berasal dari percikan api yang panas. Tanpa perlu pencitraan terhadap dirinya.

Teriakan keras, jeritan pilu dan kritikan anggotanya harus dijadikan media untuk introspeksi dirinya sendiri membangun diri sendiri untuk membangun lingkungannya dan berfikir secara radikal bukan parsial dan tekstual, menikmati yang sedang dilakukan tanpa ada perasaan sakit hati, kecewa, bahkan terluka dan mendiskreditkan.

Kita mempunyai panutan pejuang kemerdekaan, seperti Soekarno, Moh Hatta, Jenderal Soedirman. Salah seorang putra terbaik bangsa yang mengabdikan dan mendedikasikan jiwa dan raganya untuk kepentingan organisasi yang dia pimpin. Pemimpin sejati yang tak pernah lelah berjuang, meskipun paru-parunya tinggal sebelah meski jiwa dan raganya sudah habis terkuras karena keadaan yang dia hadapi dan pada kenyataannya kepemimpinan hanya jabatan semata tanpa ada beban tanggung jawab, kewajiban yang harus dia pikul, yang harus dia emban, pancaran ketulusan yang bersinar dengan semangat juang dalam dirinya, termanifestasikan ampuh menularkan virus-virus marhaenisme  kepada seluruh pejuang-pejuang sosialisme indonesia.

Dan pada akhirnya, ia mampu menyatukan segenap komponen roda organisasi, baik internal maupun eksternal, untuk menggapai satu cita-cita mulia yaitu sosialisme indonesia. Mewujudkan organisasi yang berlandaskan dengan GBHO agar supaya rakyatnya/anggota merasakan keharmonisan dalam organisasi, ketulusan, semangat juang, karena militansi besar.

Pemimpin bersama untuk menjadikan anggotanya memiliki potensi revolusi lebih baik, inilah yang sulit ditemui dalam diri pemimpin bangsa sekarang. Jadi wajar ketika anggota kita di usia idealnya yang sudah wajib untuk memperjuangkan perbahan ke arah yang lebih baik lagi, masih belum mampu mewujudkan kesejahteraan organisasi.

Sampai saat ini, masih banyak anggota yang kelaparan dengan rangkulan, nutrisi literasi dan lainnya yang itu seharusnya di lakukan oleh kita semua terutama nahkoda itu sendiri.

Terikat dengan perpecahan, terbelit kebodohan dan terjebak keterbelakangan. Kalah jauh dengan organisasi lain yang baru-baru ini mengalami perkembangan yang pesat. Ironi ini tidak perlu terjadi kalau para pemimpin organisasi ini menjalankan tugas dan fungsi yang kongkret. Berperspektif kepemimpinan sebagai nahkoda organisasi sekaligus amanah suci yang harus ditunaikan dengan sepenuh hati. Ada 1 hadis yang diriwayatkan oleh muslim:

“Kalian adalah pemimpin, dan akan diminta bertanggung jawab atas apa yang dipimpinnya. Seorang penguasa adalah pemimpin, dan akan diminta bertanggung jawab atas rakyat yang dipimpinnya.” (HR Muslim)



Banyak orang berkeinginan menjadi pemimpin, tetapi setelah tercapai, ternyata tidak semuanya mengerti tugas yang seharusnya dilakukan. Sebagai seorang pemimpin mereka seharusnya mengerti sikap yang seyogyanya dikembangkan di manifestasikan, arah yang diinginkan dan pekerjaan yang akan dilakukan, pemiimpin yang tidak mengerti hal dimaksud, maka arah organisasi yang dipimpin menjadi tidak jelas, akan dibawa kemana dan bawahannya dan anggota menjadui korban dari hal itu..

Pemimpin sebagaimana digambarkan tersebut ternyata jumlahnya tidak sedikit dan berada di berbagai bidang dan juga level kepemimpinan. Organisasi yang sedang dipimpin oleh orang yang tidak paham terhadap tugasnya itu, biasanya menjadi stagnan, rutin, dan akhirnya menjadikan organisasi tersebut beku. Selain itu, suasana organisasi yang dipimpin oleh orang yang tidak cakap, biasanya tumbuh saling tidak percaya, saling menyalahkan orang lain dan juga narasi intrik dan mendiskreditkan satu sama lain.

Tugas pemimpin itu sebenarnya sederhana saja, yaitu menghidupkan, menggerakkan dan mengarahkan terhadap orang-orang yang sedang dipimpinnya. Para pemimpin, apalagi di zaman demokrasi seperti sekarang ini, sebenarnya mereka telah memiliki legitimasi yang kuat. Seseorang menjadi pemimpin biasanya melalui seleksi yang ketat, sehingga mereka itu sebenarnya telah mendapatkan legitimasi yang cukup. Kepercayaan dan kewibawaan yang dimiliki sudah cukup digunakan sebagai bekal untuk menunaikan tugas-tugas yang dibebankan kepadanya.

Selama ini, saya membayangkan bahwa, tugas kepemimpinan adalah bagaikan accu. Benda itu difungsikan untuk menghidupkan mesin. Semakin kuat accu itu, maka akan dengan cepat menghidupkan dan menggerakkan semua komponen yang ada pada mesin. Tentu pemimpin yang terpilih,jika pemilihannya benar, pasti telah memiliki kekuatan sebagaimana accu yang digunakan untuk menghidupkan mesin dimaksud.

Kekuatan penggerak yang dimiliki oleh para pemimpin seharusnya bukan berupa uang, perilaku menakutkan, peraturan, ancaman dan sejenisnya, melainkan adalah ketulusan, wawasan ke depan organisasi yang jelas dan perhatian terhadap semua orang-orang yang dipimpinnya.

Biasanya orang akan mendengarkan dan mengikuti para pemimpin yang telah membuktikan atas ketulusannya. Penilaian bahwa, seseorang memiliki ketulusan bukan berasal dari ucapannya, janji-janjinya atau kesanggupannya, melainkan akan dilihat dan disimpulkan dari perbuatannya. Disebut sebagai orang tulus, selain tampak dari kemauannya berjuang juga dari kesediaannya berkorban.

Pemimpin yang diketahui bahwa dirinya ingin dilayani dan apalagi dilihat banyak orang ternyata mementingkan diri sendiri, maka yang bersangkutan akan dianggap tidak tulus. Pemimpin seperti itu tidak akan berhasil menghidupkan semangat bawahannya, bahkan justru sebaliknya, yakni mematikan semangat kerja. Pemimpin harus mampu menujukkan bahwa dirinya tulus, mau berjuang memajukan organisasinya, dan ada kesediaan berkorban. Pemimpin yang berkeinginan menggerakkan semua kekuatan organisasinya maka yang bersangkutan harus menunjukkan sifat-sifat mulia yang dimaksudkan itu.

Dan yang menjadi penutup tulisan ini adalah judul puisi karya Wiji Thukul “BUNGA DAN TEMBOK”


Karya : Bung Sahrul (DPK GMNI Manjemen La Tansa Mashiro)