Dari judul tulisan diatas sudah bisa disadari penulis hanya anggota biasa dalam sebuah organisasi yang ingin menuangkan isi pikirannya tentang makna kepemimpinan.
Seorang ahli yang bernama Robert Tanembaum mengatakan pemimpin adalah mereka yang menggunakan wewenang formal untuk mengorganisasikan, mengarahkan, mengontrol para bawahan yang bertanggung jawab, supaya semua bagian pekerjaan dikoordinasi demi mencapai tujuan.
Dan seseorang yang bernama Jhons Gage Alle menjelaskan bahwa “ leader is a guide; a conductor; a commander” (pemimpin itu ialah pemandu, penunjuk, penuntun; komandan).
Adapun pemimpin yang mempunyai karakteristik yaitu berkarismatik, Pemimpin karismatik adalah pemimpin yang mewujudkan atmosfir motivasi atas dasar komitmen dan identitas emosional pada visi, filosofi, dan gaya mereka dalam diri bawahannya (Ivancevich, dkk, 2007:209). Pemimpin karismatik mampu memainkan peran penting dalam menciptakan perubahan. Individu yang menyandang kualitas-kualitas pahlawan memiliki karisma.
Sebagian yang lain memandang pemimpin karismatik adalah pahlawan. House (1977) mengusulkan sebuah teori untuk menjelaskan kepemimpinan karismatik dalam hal sekumpulan usulan yang dapat diuji melibatkan proses yang dapat diamati. Teori itu mengenai bagaimana para pemimpin karismatik berperilaku, ciri, dan keterampilan mereka, dan kondisi dimana mereka paling mungkin muncul.
Dari penjelasan diatas maka penulis membuat kesimpulan sederhana tentang arti pemimpin, pemimpin ialah orang yang mempunyai wibawa tinggi, Mempunyai kebijaksanaan tinggi dan kedisiplinan yang lebih tinggi dibandingkan bawahannya untuk memberikan contoh dan jadikan panutan untuk bawahannya.
Pada Hakikatnya pemimpin adalah marwah pemimpin adalah simbol, simbol dari segala konteks dalam kepemimpinannya karena pemimpin adalah ujung tombak perjuangan.
Pemimpin menjadi harus menjadi sosok inspiratif dan menjadi motivasi bagi anggotanya, menaungi segala aspek dan memberi solusi dari persoalan-persoalan yang terjadi, pemimpin harus sadar bahwa pemimpin adalah panutan bagi anggotanya.
Melihat situasi dan kondisi organisasi saat ini, tentu kita sangat merindukan dan mengharapkan pemimpin yang hari-harinya dan jiwanya diabdikan di dedikasikan sepenuhnya kepada anggota organisasinya tersebut.
Pemimpin sejati tidak pernah mengeluh dan menyerah ketika sedang berjuang untuk organisasi yang sedang dia pimpin dan untuk keutuhan kelompoknya, pemimpin harus paham dengan kondisi anggota atau bawahannya, ketika dihadapkan masalah dan kritik, sebagai pemimpin harus menyikapinya dengan legowo dan bijaksana, bukan mendiskriminasinya, bukan mendiskreditkannya, keberadaannya dirasakan tanpa harus dikatakan.
Membangun nuansa kekeluargaan dan kehangatan rangkulannya membuat anggota merasa nyaman karena dia tahu selalu ada pemimpin yang menjaganya, selalu ada pemimpin yang menaunginya dan merangkulnya.
Hari-harinya menjadi perbincangan anggotanya karena mereka selalu merasa pemimpinnya selalu hadir ditengah-tengah mereka di tengan sentral retaknya perahu besar yang dia berposisi nahkoda yang selalu bisa menjadi orang tua, sahabat dan keluarganya, seperti apa yang sudah di janjikan pada saat niatan untuk memimpin dan harus siap menampung segala aspirasi-aspirasi anggotanya, baik itu berbentuk kritikan dan saran, karena pada dasarnya kapal yang kuat berasal dari laut yang tidak tenang dab besi yang kokoh berasal dari percikan api yang panas. Tanpa perlu pencitraan terhadap dirinya.
Teriakan keras, jeritan pilu dan kritikan anggotanya harus dijadikan media untuk introspeksi dirinya sendiri membangun diri sendiri untuk membangun lingkungannya dan berfikir secara radikal bukan parsial dan tekstual, menikmati yang sedang dilakukan tanpa ada perasaan sakit hati, kecewa, bahkan terluka dan mendiskreditkan.
Kita mempunyai panutan pejuang kemerdekaan, seperti Soekarno, Moh Hatta, Jenderal Soedirman. Salah seorang putra terbaik bangsa yang mengabdikan dan mendedikasikan jiwa dan raganya untuk kepentingan organisasi yang dia pimpin. Pemimpin sejati yang tak pernah lelah berjuang, meskipun paru-parunya tinggal sebelah meski jiwa dan raganya sudah habis terkuras karena keadaan yang dia hadapi dan pada kenyataannya kepemimpinan hanya jabatan semata tanpa ada beban tanggung jawab, kewajiban yang harus dia pikul, yang harus dia emban, pancaran ketulusan yang bersinar dengan semangat juang dalam dirinya, termanifestasikan ampuh menularkan virus-virus marhaenisme kepada seluruh pejuang-pejuang sosialisme indonesia.
Dan pada akhirnya, ia mampu menyatukan segenap komponen roda organisasi, baik internal maupun eksternal, untuk menggapai satu cita-cita mulia yaitu sosialisme indonesia. Mewujudkan organisasi yang berlandaskan dengan GBHO agar supaya rakyatnya/anggota merasakan keharmonisan dalam organisasi, ketulusan, semangat juang, karena militansi besar.
Pemimpin bersama untuk menjadikan anggotanya memiliki potensi revolusi lebih baik, inilah yang sulit ditemui dalam diri pemimpin bangsa sekarang. Jadi wajar ketika anggota kita di usia idealnya yang sudah wajib untuk memperjuangkan perbahan ke arah yang lebih baik lagi, masih belum mampu mewujudkan kesejahteraan organisasi.
Sampai saat ini, masih banyak anggota yang kelaparan dengan rangkulan, nutrisi literasi dan lainnya yang itu seharusnya di lakukan oleh kita semua terutama nahkoda itu sendiri.
Terikat dengan perpecahan, terbelit kebodohan dan terjebak keterbelakangan. Kalah jauh dengan organisasi lain yang baru-baru ini mengalami perkembangan yang pesat. Ironi ini tidak perlu terjadi kalau para pemimpin organisasi ini menjalankan tugas dan fungsi yang kongkret. Berperspektif kepemimpinan sebagai nahkoda organisasi sekaligus amanah suci yang harus ditunaikan dengan sepenuh hati. Ada 1 hadis yang diriwayatkan oleh muslim:
“Kalian adalah pemimpin, dan akan diminta bertanggung jawab atas apa yang dipimpinnya. Seorang penguasa adalah pemimpin, dan akan diminta bertanggung jawab atas rakyat yang dipimpinnya.” (HR Muslim)
Banyak orang berkeinginan menjadi pemimpin, tetapi setelah tercapai, ternyata tidak semuanya mengerti tugas yang seharusnya dilakukan. Sebagai seorang pemimpin mereka seharusnya mengerti sikap yang seyogyanya dikembangkan di manifestasikan, arah yang diinginkan dan pekerjaan yang akan dilakukan, pemiimpin yang tidak mengerti hal dimaksud, maka arah organisasi yang dipimpin menjadi tidak jelas, akan dibawa kemana dan bawahannya dan anggota menjadui korban dari hal itu..
Pemimpin sebagaimana digambarkan tersebut ternyata jumlahnya tidak sedikit dan berada di berbagai bidang dan juga level kepemimpinan. Organisasi yang sedang dipimpin oleh orang yang tidak paham terhadap tugasnya itu, biasanya menjadi stagnan, rutin, dan akhirnya menjadikan organisasi tersebut beku. Selain itu, suasana organisasi yang dipimpin oleh orang yang tidak cakap, biasanya tumbuh saling tidak percaya, saling menyalahkan orang lain dan juga narasi intrik dan mendiskreditkan satu sama lain.
Tugas pemimpin itu sebenarnya sederhana saja, yaitu menghidupkan, menggerakkan dan mengarahkan terhadap orang-orang yang sedang dipimpinnya. Para pemimpin, apalagi di zaman demokrasi seperti sekarang ini, sebenarnya mereka telah memiliki legitimasi yang kuat. Seseorang menjadi pemimpin biasanya melalui seleksi yang ketat, sehingga mereka itu sebenarnya telah mendapatkan legitimasi yang cukup. Kepercayaan dan kewibawaan yang dimiliki sudah cukup digunakan sebagai bekal untuk menunaikan tugas-tugas yang dibebankan kepadanya.
Selama ini, saya membayangkan bahwa, tugas kepemimpinan adalah bagaikan accu. Benda itu difungsikan untuk menghidupkan mesin. Semakin kuat accu itu, maka akan dengan cepat menghidupkan dan menggerakkan semua komponen yang ada pada mesin. Tentu pemimpin yang terpilih,jika pemilihannya benar, pasti telah memiliki kekuatan sebagaimana accu yang digunakan untuk menghidupkan mesin dimaksud.
Kekuatan penggerak yang dimiliki oleh para pemimpin seharusnya bukan berupa uang, perilaku menakutkan, peraturan, ancaman dan sejenisnya, melainkan adalah ketulusan, wawasan ke depan organisasi yang jelas dan perhatian terhadap semua orang-orang yang dipimpinnya.
Biasanya orang akan mendengarkan dan mengikuti para pemimpin yang telah membuktikan atas ketulusannya. Penilaian bahwa, seseorang memiliki ketulusan bukan berasal dari ucapannya, janji-janjinya atau kesanggupannya, melainkan akan dilihat dan disimpulkan dari perbuatannya. Disebut sebagai orang tulus, selain tampak dari kemauannya berjuang juga dari kesediaannya berkorban.
Pemimpin yang diketahui bahwa dirinya ingin dilayani dan apalagi dilihat banyak orang ternyata mementingkan diri sendiri, maka yang bersangkutan akan dianggap tidak tulus. Pemimpin seperti itu tidak akan berhasil menghidupkan semangat bawahannya, bahkan justru sebaliknya, yakni mematikan semangat kerja. Pemimpin harus mampu menujukkan bahwa dirinya tulus, mau berjuang memajukan organisasinya, dan ada kesediaan berkorban. Pemimpin yang berkeinginan menggerakkan semua kekuatan organisasinya maka yang bersangkutan harus menunjukkan sifat-sifat mulia yang dimaksudkan itu.
Dan yang menjadi penutup tulisan ini adalah judul puisi karya Wiji Thukul “BUNGA DAN TEMBOK”
Karya : Bung Sahrul (DPK GMNI Manjemen La Tansa Mashiro)

No comments:
Write comments