Showing posts with label DPK Manajemen La Tansa. Show all posts
Showing posts with label DPK Manajemen La Tansa. Show all posts

Saturday, March 14, 2020

MANUSIA SEBAGAI MAKHLUK SOSIAL; HAKIKAT ATAU KETERPAKSAAN ?


Oleh : Suhendi (Bung Giring)
DPK Manajemen La Tansa Mashiro

Manusia memiliki dua pengertian tergantung dari sudut pandang penempataan posisinya. Pertama manusia sebagai makhluk individu, artinya manusia sebagai makhluk individu sejak ia dilahirkan ke bumi membawa ciri atau kepribadian yang berbeda- beda dengan manusia lainnya. Contoh, Andi dan Hafid ialah pemuda desa karangkamulyan akan tetapi mereka memiliki kepribadian berbeda-beda. Andi ialah orang yang selalu bekerja keras dan humoris tetapi mudah untuk terpancing emosi ketika ada orang lain yang menganggap apa yang ia perjuangkan itu salah. Hafid ialah orang yang sebaliknya, Hafid lebih kepada pendiam dan selalu banyak mengeluh ketika ekspektasinya tidak sesuai dengan kenyataan hal itu disebabkan oleh kepribadiannya yang selalu menghindari konflik dengan orang lain, lebih baik ia pendam dan merasakkannya sendiri. Kedua manusia sebagai makhluk sosial, yang artinya manusia dalam mengembangkan kepribadiannya tidak bisa hidup sendiri. Manusia butuh manusia lainnya untuk 8menjalani kehidupan, baik itu untuk berinteraksi maupun untuk mencapai suatu tujuannya. Contoh, Andi dan Hafid memiliki kepribadian yang berbeda seperti yang penulis contohkan di atas, akan tetapi mereka sebenarnya memiliki tujuan yang sama yaitu membentuk kelompok pemuda di salah satu kampung yang ada di desanya.

Menurut filsuf besar Plato, jiwa itu ada sejak sebelum kelahiran, jiwa itu tidak dapat hancur alias abadi. Lebih jauh Plato mengatakan bahwa hakikat manusia itu ada dua, yaitu rasio dan kesenangan (nafsu). Aristoteles menyatakan manusia adalah hewan berakal sehat, yang mengeluarkan pendapatnya, yang berbicara berdasarkan akal pikirannya (the animal that reasons). Manusia adalah hewan yang berpolitik (zoon politicon, political animal), hewan yang berfamili dan bermasyarakat, mempunyai kampung halaman dan negara. Menurut plato, jiwa manusia adalah entitas non material yang dapat terpisah dari tubuh.

Lalu bagaimana manusia itu hidup? Manusia dalam menjalani hidupnya ditunjang dua faktor. Pertama faktor internal seperti pemenuhan spiritual dalam hal ini dapat dipenuhi melalui kegiatan-kegiatan keagamaan, kebudayaan, dan tradisi. Pemenuhan psikis dapat terpenuhi melalui hiburan, dan melepas kepenatan dengan mencari tempat indah yang dapat menenangkan jiwa dan pikiran.

Pemenuhan biologis melalui aktivitas seksual yang bertujuan melampiaskan hasrat birahi. Kedua faktor eksternal, faktor eksternal di sini seperti dapat terpenuhinya kebutuhan material melalui pencariaan nafkah seperti apa yang sudah di jelaskan oleh Bung Karno “Bila mau hidup harus makan, yang dimakan hasil kerja, jika tidak bekerja, tidak makan, jika tidak makan pasti mati. Inilah Undang-undang dunia, inilah Undang-undang hidup, mau tidak mau semua makhluk harus menerima Undang-undang ini, terimalah Undang-undang itu dengan jiwa merdeka, jiwa yang tidak menengadah, melainkan kepada Tuhan”. Dari prinsip itulah terjadi persaingan dan bahkan gesekan antar pencari nafkah, karena semua punya alasan untuk menopang kehidupan dan mengugurkan kewajiban. Kondisi ini diperparah dengan lapangan pekerjaan yang sangat terbatas, sehingga menyebabkan antar individu manusia harus berlomba-lomba untuk mendapatkannya. Keterbatasan itu pada dasarnya menyadarkan akan pentingnya berasosiasi dalam hal ini seperti pembuatan asosiasi sosial, asosiasi politik. Misalkan salah satunya melalui pembentukan koperasi yang dapat memenuhi kebutuhan individu dan kelompok untuk menghindari konflik antar individu yang bersumber pada pemenuhan kebutuhan hidup.

Dari dua faktor itu, apakah jika kedua faktor tersebut tidak terpenuhi berdampak pada keseimbangan kehidupan seseorang? Tentu jawabannya adalah iya, karena  ketika tidak tercukupinya kebutuhan spiritual akan menimbulkan degradasi iman dan ketakwaan, ketika tidak tercukupinya kebutuhan pokok yang berkaitan dengan kebutuhan psikis dan biologis akan menyebabkan kekacauan dan hilang keseimbangan hidup sebagai konsekuensi yang harus dihadapi. Oleh karena itu manusia akan terus berusaha agar tidak mengalami fase seperti itu, maka manusia dan pengasosiasian diri dalam dimensi sosial tidak dapat dipisahkan. Karena itu adalah salah satu cara agar manusia dapat mencapai hakikat kehidupan, yaitu ketenteraman, ketenangan, dan keseimbangan.

Maka ketika manusia memilih untuk hidup individualis akan menyebabkan kekacauan yang bukan hanya berdampak pada diri sendiri melainkan berimbas pada khalayak umum. Seperti memperkaya diri sendiri, mencari rezeki dengan cara mengeksploitasi alam sehingga terjadi kerusakan alam yang mengakibatkan banjir, longsor, polusi yang merugikan masyarakat.

Penjelasan diatas merupakan gambaran betapa bahayanya ketika manusia lebih individu mendepatkan jiwa individualis dan mengesampingkan kepentingan umum.

Dalam dinamika kehidupan ada beberapa elemen kebersamaan yang diciptakan oleh manusia sebagai ekspresi dari asosiasi salah satunya adalah organisasi, organisasi itu hadir selain mengakomodir kepentingan anggota untuk memenuhi kebutuhannya, organisasi juga mengajarkan nilai-nilai kebersamaan, gotong royong dan humanisme sehingga organisasi sebagai sarana pendidikan masyarakat agar memiliki daya pikir yang tajam dan daya perasaan yang halus hal tersebut terekspresikan melalui tingkah lakunya.

Sedikit mengutip pernyataan dari Pramoedya Ananta Toer “Didiklah rakyat dengan organisasi dan didiklah pemerintah dengan perlawan” penjelasan tersebut sudah memiliki nilai mutlak bahwa setiap individu akan mendapat nilai lebih ketika memilih untuk mendedikasikan diri pada organisasi.
Terakhir penulis sampaikan maksud dan tujuan tulisan ini adalah menyadarkan pada setiap individu untuk dapat memberanikan diri untuk melepaskan diri dari cengkeraman individualisme yang semakin tumbuh dalam jiwa-jiwa generasi muda masa kini, karena penulis percaya jika situasi ini dibiarkan maka berbahaya bagi kelangsungan berbangsa dan bernegara. Perihal pertanyaan apakah manusia sebagai makhluk sosial itu hakikat atau keterpaksaan sepeti judul diatas maka penulis menyerahkan sepenuhnya pada interpretasi pembaca selaku orang yang memiliki kemerdekaan berpikir.

Friday, March 6, 2020

MANUSIA DAN KERUSAKAN ALAM ; HILANG KESEIMBANGAN

Alam sudah mulai kehilangan kelestariannya, hewan-hewan mulai punah. Hal tersebut bendampak negatif bagi makhluk hidup karena keserakahan manusia, moderinisasi, industrialisasi dan eksploitasi alam berupa penembangan liar tanpa reboisasi, penangkapan hewan-hewan langka yang dilindungi, pembuangan limbah berbahaya ke aliran sungai, tambang yang  menyisakan lubang yang begitu besar. Menyebabkan banyaknya makhluk hidup yang terkena dampak berupa banjir, longsor, bahkan beresiko kematian bagi semua makhluk hidup yang di sekitarnya.

Dilansir dari https://jurnalintelijen.net/ mengenai data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Indonesia memproduksi sampah hingga 65 juta ton pada 2016, dan meningkat menjadi 67 ton pada 2017. Sementara itu, data Pusat Oceanografi LIPI menunjukkan, sekitar 35,15% terumbu karang di Indonesia dalam kondisi tidak baik dan hanya 6,39% dalam kondisi yang sangat baik. Pemanasan global dipicu karena pembakaran batu bara yang mencapai jumlah emisinya per tahun yaitu 9 miliar ton Co2; Adanya konversi lahan dan perusakan hutan dengan jumlah emisi mencapai 2,53 miliar ton Co2e; dan aktivitas dan pemakaian energy, pertanian dan limbah dengan emisi mencapai 451 juta ton Co2. Jika situasi ini terus berlanjut dan tidak segera di tanggulangi secara serius maka masa depan umat manusia di pertaruhkan.


Mengapa demikian?

Karena sumber air akan menjadi kotor dan tidak  layak untuk di  konsumsi manusia, oksigen akan menipis efek dari industrialisasi yang menghasilkan polusi sehingga manusia akan sulit untuk bernafas, laut tercemar dan  ekosistem terganggu akibat limbah dan sampah dari manusia itu sendiri,
situasi ini di perparah oleh moderinisasi yang memisahkan manusia dan alam bahkan memisahkan manusia dari rasa kemanusiaannya.

Di era pasar bebas dan penghambaan terhadap investor melalui regulasi yang di buat oleh pemerintah yang akan berdampak langsung terhadap lingkungan karena bicara investasi maka akan membutuhkan lahan yang begitu luas mengorbankan pohon-pohon bahkan penggusuran rumah-rumah rakyat tertindas .

Lantas kita harus bagaimana ?

Hal yang bisa kita lakukan adalah melawan kebijakan-kebijakan yang merugikan alam dan rakyat kecil. Mulailah tidak membuang sampah sembarangan, tidak menjual tanah sedikitpun untuk kepentingan para pemodal yang mementingkan keuntungan pribadi, tetap jaga keasrian alam yang di wariskan oleh ibu pertiwi karena indonesia adalah surga dunia yang di ciptakan tuhan yang maha esa lagi maha penyayang.

Oleh Bung DK Ilham (Kabid Ideologi dan kaderisasi GMNI  DPK Manajamen)

Saturday, February 1, 2020

Jangan Berhenti, Ayo Bangkit Lagi!




Tulisan ini saya buat hanya untuk memotivasi diri saya sendiri ketika saya merasa gagal dalam semua hal

Sejatinya kehidupan haruslah kita nikmati dengan penuh semangat. Kehidupan memberikan alasan kepada kita untuk berjuang. Dari kehidupanlah kita belajar berbagai hal dengan melihat, mendengar serta mengamati setiap tanda-tanda Tuhan. Begitupun ketika Tuhan-pada akhirnya memaksa kita untuk tersandung beberapa kali dalam sebuah siklus bernama kehidupan.


Memang, kehidupan tidak melulu selaras dengan keinginan. Inginnya kita bahagia, nyatanya berbagai kesedihan yang kerap kali datang. Inginnya kita berhasil, nyatanya berbagai kegagalan yang seringkali menghampiri. Pada masa-masa itu seakan dunia tidak berpihak sebagaimana mestinya. Tidak jarang, kegagalan-kegagalan itu membuat kita ingin berhenti kemudian menyerah karena terlampau lelah.

Tidak jarang, Tuhan pun menempatkan kita dalam situasi sulit sehingga kita harus memilih maju untuk bertahan namun terluka atau mundur untuk berhenti kemudian tertatih. Keduanya memiliki resiko yang harus siap kita terima, karena begitulah hidup. Kehidupan selalu menuntun kita pada berbagai macam pilihan yang beresiko. Berhasil atau gagal itu tergantung bagaimana kita menilainya.

Oleh karena itu, ketika kamu merasa gagal berkali-kali dalam memperjuangkan sesuatu, berhentilah untuk menyerah. Ayo, bangun dan bangkit lagi !



"Bung Haetami Abkar"
[Sekertaris DPK GMNI Manajemen Latansa Mashiro]

Monday, December 23, 2019

“JAS MERAH” [SI CERDAS YANG MELUPAKAN SEJARAH]



Dari saya mulai mengenal dunia perkuliah pada tahun 2018 saya selalu memperhatikan orang cerdas sekitar saya dan menurut saya banyak orang cerdas di dunia ini, mereka tesebar di berbagai tempat termasuk di lingkungan saya sendiri , menurut saya mereka di lahirkan dengan kemampuan intelektual yang tinggi . mereka selalu di kagumi dan di jungjung tinggi oleh masyarakat setempat karena kecerdasannya .

Namun sayangnya, orang-orang cerdas ini kerap kali tidak mampu melihat dunia secara ke seluruhan mereka di butakan oleh kecerdasan mereka sendiri mereka menjadi sombong dan kehilangan empati,  mereka tidak mampu melihat dunia dari sudut pandang yang berbeda atau merasakan penderitaan orang lain di sekitarnya .

Dan menurut saya mereka hidup dalam ilusi, bahwa mereka adalah mahluk-mahluk yang unggul . Orang-orang cerdas seringkali tidak kritis mereka mengira pikiran yang muncul di kepala mereka adalah kebenaran  akhirnya mereka kerap sekali melakukan kesalahan yang merusak tanpa mereka sadari , mereka kerap juga bermulut besar dan mereka juga gemar mengumbar harapan-harapan besar yang sayangnya palsu .

Seharusnya kawan-kawan hanya perlu sedikit kritis guna ke palsuan yang di balut dengan kesombongan di dalam diri orang cerdas ini, orang cerdas ini seringkali juga penuh dengan kontradiksi misalnya mengaku membela rakyat ‘'dengan mencuri uang rakyat'' ,mereka juga berbicara soal menyelmatkan alam tapi " dengan terlebih dahulu mersuk alam ".

Itulah orang cerdas yang melupakan sejarah, sejarah iya bersal dari mana sejarah-sejarah dan saya selau berbicara tentang sejarah karena  saya ingin generasi yang akan datang atau generasi penurus untuk menjadikan sejarah sebagai pedoman hidup kalian,, jika perilaku ini masih tetap di budidayakan atau di diamkan suatu negara , bangsa , dunia kita akan hancur dan tidak akan mencapai cita-cita yang Indonesia inginkan maka dari tulisan ini lah saya mengajak kawan kawan kalian selau kritis-kritis dan kritis .

  “ BAGAS PERDINUSA”
[PENGURUS DPK MANAJEMEN LA TANSA]

Friday, December 20, 2019

Hari Lahir " Peristiwa Cinta dan Luka "


Aku merangkai tulisan ini bukan untuk menggurui, akan tetapi tulisanku ini aku tulis untuk memperbaiki diriku sendiri dan kawan kawan yang mrmbacanya.

Hari ini tepatnya dimana hari kelahiranku, perjalanan sangat panjang telah ku lalui pahit manis telah ku jalani, dan peristiwa ini merupakan sejarah bagi hidupku,  sejarah yang selalu ku kenang.

Aku ber ekspetasi akan ada kisah cinta dan kebahagiaan yang akan menghamiri di hari kelahiranku, akan ada sebuah peristiwa yang sangat membuat hati ini berbunga bunga, akan tetapi tuhan berkehendak lain, harapan itu adalah harapan semata, pada realitanya bertolak belaka,  justru yang aku alami adalah kehilangan,  kehilangan sesuatu yang begitu penting dalam hidupku oleh orang yang tidak bertanggung jawab dan tidak punya nilai kemanusiaan yang menghilangkan sesuatu yang berharga dalam hidupku, sehingga harapan itu menjadi luka.

Semua Peritiwa itu terjadi di kediamanku di rumahku yang ku cinta, di rumah yang menjadi tempatku belajar dan berproses, tempat segala dimana aku menemukan ide dan gagasan untuk melakukan konstruksi bangsa ini ke arah yang lebih baik lagi. Dari peristiwa ini aku menyadari bahwa sesuatu yang berharga yang kita miliki itu hanyalah titipan dari tuhan, tak elok jika aku tetap bersikeras bahwa semua itu harus kembali kepadaku, ini pula sejarah penting, catatan penting bagi hidupku dan untuk kita semua agar tertanam jiwa progresif dan kemanusiaan yang ter maktub di dalam pancasila point ke 2.

Ini sebuah proses bagiku, ini sebuah pelajaran paling substansial bagi kita semua, karena ketika meneguhkan hati untuk berproses itu tidak mudah, selalu ada rintangan dan cobaan yang harus kita hadapi,  seperti kutipan tokoh filsuf dari yunani Aristoteles " pendidikan  mempunyai akar yang pahit, tapi buahnya manis ".

Dari sejarah ini kita harus optimis semua rangkaian cerita pahit itu pasti ada makna tersendiri yang kita tidak ketahui, dan semua pahit yang aku rasakan ini, tak akan membuatku gentar untuk berproses, berjuang, tak akan membuatku patah semangat, dan aku yakini ini menstimulus diriku untuk lebih hebat dari sebelumnya, semoga ini akar dari buah yang kelak nanti akan ku petik.

Ini tulisanku yang ku beri judul hari lahir " Peristiwa cinta dan luka ", dan pesanku untuk diri pribadi dan kawan - kawan, tetaplah militan dalam berpendidikan dan berproses, apapun yang terjadi proses pahit yang di alami harus kita hadapi dan harus kita musnahkan untuk mencapai tujuan dan cita - cita kita bersama.

Bung Sahrul
(Kader DPK Manajemen La Tansa)

Friday, December 13, 2019

SEBUAH RENUNGAN KEPEMIMPINAN DARI KACAMATA ANGGOTA BIASA



Dari judul tulisan diatas sudah bisa disadari penulis hanya anggota biasa dalam sebuah organisasi yang ingin menuangkan isi pikirannya tentang makna kepemimpinan.

Seorang ahli yang bernama Robert Tanembaum mengatakan pemimpin adalah mereka yang menggunakan wewenang formal untuk mengorganisasikan, mengarahkan, mengontrol para bawahan yang bertanggung jawab, supaya semua bagian pekerjaan dikoordinasi demi mencapai tujuan.

Dan seseorang yang bernama Jhons Gage Alle menjelaskan bahwa “ leader is a guide; a conductor; a commander” (pemimpin itu ialah pemandu, penunjuk, penuntun; komandan).

Adapun pemimpin yang mempunyai karakteristik yaitu berkarismatik, Pemimpin karismatik adalah pemimpin yang mewujudkan atmosfir motivasi atas dasar komitmen dan identitas emosional pada visi, filosofi, dan gaya mereka dalam diri bawahannya (Ivancevich, dkk, 2007:209). Pemimpin karismatik mampu memainkan peran penting dalam menciptakan perubahan. Individu yang menyandang kualitas-kualitas pahlawan memiliki karisma. 

Sebagian yang lain memandang pemimpin karismatik adalah pahlawan. House (1977) mengusulkan sebuah teori untuk menjelaskan kepemimpinan karismatik dalam hal sekumpulan usulan yang dapat diuji melibatkan proses yang dapat diamati. Teori itu mengenai bagaimana para pemimpin karismatik berperilaku, ciri, dan keterampilan mereka, dan kondisi dimana mereka paling mungkin muncul.

Dari penjelasan diatas maka penulis membuat kesimpulan sederhana tentang arti pemimpin, pemimpin ialah orang yang mempunyai wibawa tinggi, Mempunyai kebijaksanaan tinggi dan kedisiplinan yang lebih tinggi dibandingkan bawahannya untuk memberikan contoh dan jadikan panutan untuk bawahannya.

Pada Hakikatnya pemimpin adalah marwah pemimpin adalah simbol, simbol dari segala konteks dalam kepemimpinannya karena pemimpin adalah ujung tombak perjuangan.

Pemimpin menjadi harus menjadi sosok inspiratif dan menjadi motivasi bagi anggotanya, menaungi segala aspek dan memberi solusi dari persoalan-persoalan yang terjadi, pemimpin harus sadar bahwa pemimpin adalah panutan bagi anggotanya.

Melihat situasi dan kondisi organisasi saat ini, tentu kita sangat merindukan dan mengharapkan pemimpin yang hari-harinya dan jiwanya diabdikan di dedikasikan sepenuhnya kepada anggota organisasinya tersebut.

Image result for leadership


Pemimpin sejati tidak pernah mengeluh dan menyerah ketika sedang berjuang untuk organisasi yang sedang dia pimpin dan untuk keutuhan kelompoknya, pemimpin harus paham dengan kondisi anggota atau bawahannya, ketika dihadapkan masalah dan kritik, sebagai pemimpin harus menyikapinya dengan legowo dan bijaksana, bukan mendiskriminasinya, bukan mendiskreditkannya, keberadaannya dirasakan tanpa harus dikatakan.

Membangun nuansa kekeluargaan dan kehangatan rangkulannya membuat anggota merasa nyaman karena dia tahu selalu ada pemimpin yang menjaganya, selalu ada pemimpin yang menaunginya dan merangkulnya.

Hari-harinya menjadi perbincangan anggotanya karena mereka selalu merasa pemimpinnya selalu hadir ditengah-tengah mereka di tengan sentral retaknya perahu besar yang dia berposisi nahkoda yang selalu bisa menjadi orang tua, sahabat dan keluarganya, seperti apa yang sudah di janjikan pada saat niatan untuk memimpin dan harus siap menampung segala aspirasi-aspirasi anggotanya, baik itu berbentuk kritikan dan saran, karena pada dasarnya kapal yang kuat berasal dari laut yang tidak tenang dab besi yang kokoh berasal dari percikan api yang panas. Tanpa perlu pencitraan terhadap dirinya.

Teriakan keras, jeritan pilu dan kritikan anggotanya harus dijadikan media untuk introspeksi dirinya sendiri membangun diri sendiri untuk membangun lingkungannya dan berfikir secara radikal bukan parsial dan tekstual, menikmati yang sedang dilakukan tanpa ada perasaan sakit hati, kecewa, bahkan terluka dan mendiskreditkan.

Kita mempunyai panutan pejuang kemerdekaan, seperti Soekarno, Moh Hatta, Jenderal Soedirman. Salah seorang putra terbaik bangsa yang mengabdikan dan mendedikasikan jiwa dan raganya untuk kepentingan organisasi yang dia pimpin. Pemimpin sejati yang tak pernah lelah berjuang, meskipun paru-parunya tinggal sebelah meski jiwa dan raganya sudah habis terkuras karena keadaan yang dia hadapi dan pada kenyataannya kepemimpinan hanya jabatan semata tanpa ada beban tanggung jawab, kewajiban yang harus dia pikul, yang harus dia emban, pancaran ketulusan yang bersinar dengan semangat juang dalam dirinya, termanifestasikan ampuh menularkan virus-virus marhaenisme  kepada seluruh pejuang-pejuang sosialisme indonesia.

Dan pada akhirnya, ia mampu menyatukan segenap komponen roda organisasi, baik internal maupun eksternal, untuk menggapai satu cita-cita mulia yaitu sosialisme indonesia. Mewujudkan organisasi yang berlandaskan dengan GBHO agar supaya rakyatnya/anggota merasakan keharmonisan dalam organisasi, ketulusan, semangat juang, karena militansi besar.

Pemimpin bersama untuk menjadikan anggotanya memiliki potensi revolusi lebih baik, inilah yang sulit ditemui dalam diri pemimpin bangsa sekarang. Jadi wajar ketika anggota kita di usia idealnya yang sudah wajib untuk memperjuangkan perbahan ke arah yang lebih baik lagi, masih belum mampu mewujudkan kesejahteraan organisasi.

Sampai saat ini, masih banyak anggota yang kelaparan dengan rangkulan, nutrisi literasi dan lainnya yang itu seharusnya di lakukan oleh kita semua terutama nahkoda itu sendiri.

Terikat dengan perpecahan, terbelit kebodohan dan terjebak keterbelakangan. Kalah jauh dengan organisasi lain yang baru-baru ini mengalami perkembangan yang pesat. Ironi ini tidak perlu terjadi kalau para pemimpin organisasi ini menjalankan tugas dan fungsi yang kongkret. Berperspektif kepemimpinan sebagai nahkoda organisasi sekaligus amanah suci yang harus ditunaikan dengan sepenuh hati. Ada 1 hadis yang diriwayatkan oleh muslim:

“Kalian adalah pemimpin, dan akan diminta bertanggung jawab atas apa yang dipimpinnya. Seorang penguasa adalah pemimpin, dan akan diminta bertanggung jawab atas rakyat yang dipimpinnya.” (HR Muslim)



Banyak orang berkeinginan menjadi pemimpin, tetapi setelah tercapai, ternyata tidak semuanya mengerti tugas yang seharusnya dilakukan. Sebagai seorang pemimpin mereka seharusnya mengerti sikap yang seyogyanya dikembangkan di manifestasikan, arah yang diinginkan dan pekerjaan yang akan dilakukan, pemiimpin yang tidak mengerti hal dimaksud, maka arah organisasi yang dipimpin menjadi tidak jelas, akan dibawa kemana dan bawahannya dan anggota menjadui korban dari hal itu..

Pemimpin sebagaimana digambarkan tersebut ternyata jumlahnya tidak sedikit dan berada di berbagai bidang dan juga level kepemimpinan. Organisasi yang sedang dipimpin oleh orang yang tidak paham terhadap tugasnya itu, biasanya menjadi stagnan, rutin, dan akhirnya menjadikan organisasi tersebut beku. Selain itu, suasana organisasi yang dipimpin oleh orang yang tidak cakap, biasanya tumbuh saling tidak percaya, saling menyalahkan orang lain dan juga narasi intrik dan mendiskreditkan satu sama lain.

Tugas pemimpin itu sebenarnya sederhana saja, yaitu menghidupkan, menggerakkan dan mengarahkan terhadap orang-orang yang sedang dipimpinnya. Para pemimpin, apalagi di zaman demokrasi seperti sekarang ini, sebenarnya mereka telah memiliki legitimasi yang kuat. Seseorang menjadi pemimpin biasanya melalui seleksi yang ketat, sehingga mereka itu sebenarnya telah mendapatkan legitimasi yang cukup. Kepercayaan dan kewibawaan yang dimiliki sudah cukup digunakan sebagai bekal untuk menunaikan tugas-tugas yang dibebankan kepadanya.

Selama ini, saya membayangkan bahwa, tugas kepemimpinan adalah bagaikan accu. Benda itu difungsikan untuk menghidupkan mesin. Semakin kuat accu itu, maka akan dengan cepat menghidupkan dan menggerakkan semua komponen yang ada pada mesin. Tentu pemimpin yang terpilih,jika pemilihannya benar, pasti telah memiliki kekuatan sebagaimana accu yang digunakan untuk menghidupkan mesin dimaksud.

Kekuatan penggerak yang dimiliki oleh para pemimpin seharusnya bukan berupa uang, perilaku menakutkan, peraturan, ancaman dan sejenisnya, melainkan adalah ketulusan, wawasan ke depan organisasi yang jelas dan perhatian terhadap semua orang-orang yang dipimpinnya.

Biasanya orang akan mendengarkan dan mengikuti para pemimpin yang telah membuktikan atas ketulusannya. Penilaian bahwa, seseorang memiliki ketulusan bukan berasal dari ucapannya, janji-janjinya atau kesanggupannya, melainkan akan dilihat dan disimpulkan dari perbuatannya. Disebut sebagai orang tulus, selain tampak dari kemauannya berjuang juga dari kesediaannya berkorban.

Pemimpin yang diketahui bahwa dirinya ingin dilayani dan apalagi dilihat banyak orang ternyata mementingkan diri sendiri, maka yang bersangkutan akan dianggap tidak tulus. Pemimpin seperti itu tidak akan berhasil menghidupkan semangat bawahannya, bahkan justru sebaliknya, yakni mematikan semangat kerja. Pemimpin harus mampu menujukkan bahwa dirinya tulus, mau berjuang memajukan organisasinya, dan ada kesediaan berkorban. Pemimpin yang berkeinginan menggerakkan semua kekuatan organisasinya maka yang bersangkutan harus menunjukkan sifat-sifat mulia yang dimaksudkan itu.

Dan yang menjadi penutup tulisan ini adalah judul puisi karya Wiji Thukul “BUNGA DAN TEMBOK”


Karya : Bung Sahrul (DPK GMNI Manjemen La Tansa Mashiro)