Sunday, September 29, 2019

PPAB GMNI Lebak 2019, “Mewujudkan Jiwa Nasionalisme mahasiswa Sebagai Penggerak Perubahan yang Progresif



Dengan mengangkat tema, “Mewujudkan Jiwa Nasionalisme Mahasiswa Sebagai Penggerak Perubahan Yang Progresif ” Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GmnI) Kabupaten Lebak Provinsi Banten Jum’at, 27-29 September 2019, melaksanakan kegiatan Pekan Peneriman Anggota Baru (PPAB)  yang bertempat di Taman Hutan Raya (TAHURA) Perhutani Prov. Banten - Kabupaten Pandeglang Provinsi Banten.

Kegiatan itu dihadiri oleh Ketua GmnI Lebak Pertama yaitu Bung Septian Abdi Gama, Bung Nday, Bung Dedi, Sarinah Ocha, Bung Cekle, Bung Rega, Sarinah Nena, Sarinah Ajeng dan sejumlah alumni lain yang turut hadir dalam kegiatan itu, dan peserta yang mengikuti PPAB ini sebanyak 54 orang dari 3 komisariat, yaitu DPK Manajemen, DPK Akuntansi La Tansa dan DPK Setia Budhi Raya.

Materi materi yang disampaikan dalam kegiatan tersebut mulai dari alumni GmnI, Pengurus DPC GmnI Lebak dan Ibu Tia Rahmania, M. Psi.

Ketua Pelaksana PPAB 2019 GmnI Lebak Bung Sahrul Romadan dalam sambutannya mengatakan, PPAB ini adalah untuk membangun kader masa depan bangsa yang berjiwa nasionalis dan Yang Progresif

Lanjutnya, Peneriman anggota baru GmnI aktif ini, merupakan moment penting bagi organisasi GmnI untuk memiliki kader nasionalis yang berwatak kerakyatan, memegang teguh independensi serta integritas organisasi yang berlandaskan pada semangat gotong-royong untuk merubah tatanan sosial kehidupan masyarakat Indonesia menuju masyarakat yang adil dan makmur ditengah situasi dan kondisi pergolakan dan dinamika bangsa yang selalu dinamis.

“Dengan kita berhasil menjadi kader GmnI yang militan, tentu kita mampu melihat situasi sosial di masyarakat, terutama mereka yang sedang berupaya merorong-rong keutuhan NKRI yang berdasarkan pada ideologi Pancasila, dengan bertumpuh pada 4 (empat) pilar utama kebangsaan, yaitu Pancasila, Bhineka Tunggal Ika, UUD 1945, dan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) sebagai landasan pokok kita bangsa yang besar dan kuat,” tegasnya.

Kegiatan tersebut dibuka oleh Bung Endang Sebagai Ketua Umum Terpilih Dewan Pimpinan Cabang GmnI Lebak Periode 2019-2021. Dalam sambutannya, Ia berharap agar dengan beroganisasi, seperti GmnI ini, mahasiswa bisa Berproses membuka diri, membuka ruang diskusi dan belajar dalam menyelesaikan berbagai persoalan di kabupaten Lebak dan Negara Republik Indonesia kedepannya.

Semantara itu,  Bung Sahrul Romadan menambahkan, bahwa kegiatan PPAB ini sangat penting sebagai bagian dari proses kaderisasi pengurus GmnI di tingkat Cabang Maupun Komisariat. Selain itu juga dalam rangka merapatkan barisan kader-kader baru dalam organisasi untuk melanjutkan perjuangan organisasi kedepan. Yang utama juga adalah mendidik mahasiswa untuk menjadi kader GmnI yang Progresif dan Revolusioner.

Monday, September 9, 2019

GMNI Lebak dorong Dinas Pariwisata realisasikan Visi Misi Bupati Lebak


DPC GMNI LEBAK dorong dinas pariwisata wujudkan visi misi bupati

Visi pemerintah Kabupaten Lebak periode 2019-2024 adalah “Lebak sebagai destinasi wisata unggulan nasional berbasis potensi lokal”

dengan demikian wisata sebagai fokus pemerintah dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat di kabupaten lebak

pada hari selasa (10/11) bertempat di kantor dinas pariwisata kabupaten lebak

bung endang selaku ketua umum dpc gmni lebak menyampaikan bawah pihak nya mendorong agar dinas pariwisata dapat mewujudkan visi misi bupati tersebut

"Pariwisata perlu di tingkatkan dan di kelola dengan baik, selain mewujudkan visi misi bupati hal ini juga akan berdampak baik kepada masyarakat dan akan meningkatkan kesejahteraan masyarakat" ujarnya.

bung endang pun menambahkan mesti ada langkah persiapan salah satu nya menyiapkan sumber daya manusia yang sadar wisata

"Untuk itu perlu di siapkan pula masyarakat atau sumber daya manusia yang sadar wisata sehingga seluruh elemen masyarakat dapat berkontribusi" pungkasnya.

imam sebagai kepala dinas pariwisatapun memberi tanggapan

"Dalam proses pelaksanaan mewujudkan visi misi tersebut,
masih ada persoalan ego sektoral yang terjadi di lapangan, sehingga masih banyak kendala untuk realisasi nya" tutupnya.

Sunday, September 8, 2019

DPC GMNI Lebak mendorong fraksi PDI Perjuangan untuk menjadi pelopor Sosialisasi Empat Pilar di Kabupaten Lebak


Dalam upaya meningkat jiwa nasionalisme, dpc gmni lebak mendorong fraksi pdi perjuangan untuk menjadi pelopor terlaksana nya sosialisasi empat pilar di kabupaten lebak.

usulan tersebut di sampai kan langsung di kantor fraksi pdi perjuangan oleh jajaran pengurus dpc gmni lebak pada hari senin (9/11)

menurut keterangan bung endang selaku ketua umum dpc gmni lebak usulan ini di dasari kegelisahan melihat terjadi nya degradasi nasionalisme di kalangan remaja

"Usulan ini tentu berasal dari kajian internal dpc gmni lebak, bahwa kami melihat telah terjadi degradasi nasionalisme, untuk menyikapi itu tentu harus di buat solusi kongkret salah satu nya melalui sosialisai empat pilar"

bung endang menambahkan, alasan kenapa dpc gmni lebak mendorong fraksi PDI perjuangan sebagai pelopor terselenggaranya sosialisasi empat pilar, karena PDI Perjuangan  partai nasionalis yang memiliki tanggung jawab berat dalam penyebaran nilai-nilai idelogi

"Partai PDI perjuangan memiliki tanggung jawab lebih berat dari pada partai yang lain nya perihal penyebaran nilai-nilai ideologi" tutup nya

H. Enden selaku sekretaris fraksi pun memberi tanggapan bahwa fraksi PDI perjuangan DPRD kab.lebak sepakat akan usulan tersebut

"kami sepakat atas usulan dari gmni, tapi untuk terselenggara nya sosialisasi empai pilar tersebut perlu kerja sama dan sintergitas semua elemen"

Tuesday, August 27, 2019

TURUT BERDUKA CITA ATAS GUGUR NYA IPDA ERWIN YUDHA WILDANI



[TURUT BERDUKA CITA]
.
.
.
Atas gugurnya bhayangkara Polri, semoga amal ibadah beliau diterima disisi-Nya dan yg ditinggalkan diberikan ketabahan.

AKSI FORUM MAHASISWA PEDULI LEBAK (FMPL) DALAM PELANTIKAN ANGGOTA DPRD KAB LEBAK PERIODE 2019-2024



AKSI FORUM MAHASISWA PEDULI LEBAK (FMPL) DALAM PELANTIKAN ANGGOTA DPRD KAB LEBAK PERIODE 2019-2024 TERGABUNG DALAM BERBAGAI OKP NASIONAL DAN PRIMORDIAL :

DPC GMNI LEBAK
KOORDINATOR KUMALA
PP IMALA
HMI DIPO CABANG LEBAK
HMI MPO CABANG LEBAK
PMII
PELAJAR ISLAM INDONESIA
IPNU
IMM

Perihal Issue :

LEGISLATIF JANGAN DI BAWA KETIAK EKSEKUTIF

MEMPERTEGAS INTEGRITAS PERAN DAN FUNGSI DPRD KAB.LEBAK
1.Optimalisasi peran dan fungsi DPRD sesuai UU No 17 Tahun 2014

2. Optimalisasi dana reses 2019-2024

3. Mendorong DPRD lebak untuk membentuk perda pendidikan

4. Anggota Dewan Perempuan Harus Sanggup Mewakili suara perempuan di kab.lebak

5. Evaluasi perda RTRW NO 2 Tahun 2014

#gmnilebak #gmnipedia

Tuesday, August 20, 2019

Respons Ketua Umum GMNI Lebak terkait peristiwa Diskiriminasi Mahasiswa Papua di Surabaya


Ketua Umum DPC GMNI Lebak,  Bung Endang menyampaikan pihaknya sangat menyesalkan adanya tindakan diskriminasi terhadap mahasiswa asal papua.

Menurut Bung Endang, GMNI menegaskan tindakan tersebut dapat mencederai keutuhan dan kerukunan kita sebagai sebuah bangsa.

"Generasi milenial perlu mengingat kembali entitas nusantara dan kebudayaan yang harus di prioritaskan. Juga semua elemen pemuda semestinya menjadi cooling system terhadap kondisi yang hari ini terjadi, " Ujar Bung Endang dalam keterangan nya.

Pria yang gandrung akan nasionalisme ini juga, berkomentar terkait penyerangan asrama mahasiswa di surabaya.

"Tentang penyarangan tersebut, saya rasa hal itu perlu di usut sampai tuntas agar tidak terjadi disinformasi yang  pada akhirnya menjadi kegaduhan di negeri ini".

Dikatakan pula bahwa kesatuan dan keutuhan NKRI harus dijaga dengan baik.  Hal itu merupakan satu modal dasar untuk kita semua dapat membangun sebuah bangsa yang beradab dan mewujudkan cita-cita besar menuju sosialisme indonesia.

"Sehingga jika kita semua sadar akan konsensus besar lahirnya bangsa ini, perbedaan buka lagi menjadi satu alasan sarana pemecah belah bangsa." pungkasnya.

Monday, August 19, 2019

MINKE - " M O N Y E T "



Tokoh Minke kembali 'ngetop' lagi, lewat film BUMI MANUSIA-nya sutradara Hanung Bramantyo.
Film yang diangkat dari roman  tetralogi mahakarya Pramoedya Ananta Toer ini memang berkisah tentang Minke (bersama kekasihnya Annelies, dan Nyai Ontosoroh).

Tapi saya tidak sedang menilai, apakah film ini sebagus dan sedahsyat novelnya; atau sebaliknya. Saya hanya bicara soal sederhana, tentang nama #Minke.

Kita semua tahu, Minke adalah jelmaan fiksi dari tokoh historis, R.M. Tirto Adhi Soerjo, perintis nasionalisme Indonesia modern. Tentang tokoh ini, lihat buku sejarah yang menantang karya  Pramoedya,  "SANG PEMULA" (Hasta Mitra, 1985).

Mengapa namanya 'Minke' ?
Dalam roman 'BUMI MANUSIA' dikisahkan, suatu saat tuan guru Belanda di ELS, Meneer Rooseboom jengkel dan marah kepadanya. Meneer Rooseboom  membentak:
"Diam kau,  monk.......M i n k e !"

Jelas, Minke itu plesetan dari 'monkey' (#monyet) !

Tentu bukan tanpa alasan, nama Minke sebagai plesetan monyet itu dipilih Pram.
Itulah cara Pramoedya mengejek rasialisme, suatu sikap dan cara pandang kolonialisme Belanda yang menganggap rendah pribumi Jawa.

Seperti ditulis Frances Gouda dalam bukunya, DUTCH CULTURE OVERSEAS: Colonial Practice in the Netherlands Indies, 1900-1942 (terbit 2008):

"Pramoedya Ananta Toer mengemukakan persepsi penghinaan orang Eropa mengenai orang Jawa sebagai monyet-monyet pada tingkat retorika lebih tinggi. Pada roman sejarah 'BUMI MANUSIA' , satu tokoh asal Jawa, yakni anak muda baik hati serta kharismatik bernama Minke, memperoleh nama itu dari guru sekolah Belanda yang memelesetkan kata 'monkey' (monyet) menjadi Minke" (halaman 138).

Rasialisme, yang merendahkan manusia dan budaya lain, memang berakar dalam praktik kolonialisme.
Seperti kata Frantz Fanon,  kaum kolonial melihat ada beda derajat antara manusia dan budaya Eropa,  dengan manusia dan budaya warga jajahannya.

Seolah-olah ada "hirarki budaya", kata Fanon.

Seolah kaum kulit putih berbudaya "tinggi", sedangkan bangsa  jajahannya berbudaya "sedang" dan "rendah", atau bahkan "tidak berbudaya" alias uncivilized.
Maka yang "tinggi" akan menganggap remeh mereka yang "rendah", boleh menghina dan memperlakukan mereka sebagai binatang, seperti #monyet.

Itulah akar rasialisme, dengan segala turunannya...!!

Ironisnya, setelah penjajahan berakhir, ada kelompok-kelompok etnis tertentu di negara-negara baru merdeka itu  yang justru mengulang kembali sikap dan perilaku  bekas penjajahnya. Mengulang praktik rasialis dengan menganggap rendah kelompok etnis lainnya dalam bangsa dan negaranya sendiri !

Menganggap dirinya dan kebudayaannya lebih tinggi, kebudayaan yang "adhi luhung".
Padahal, kata seorang sejarawan Barat,  budaya tinggi yang "adhi luhung" itu adalah ekspresi atau wujud "budaya kalah". Itu setelah kerajaan-kerajaan besar di masa lalu takluk tidak berdaya kepada penjajah sejak  abad 16.

Dalam ketakberdayaan itu, terjadi perubahan orientasi dari ekstrovert ke introvert dalam segala sendi.
Dalam kebudayaan misalnya, terjadi proses 'penghalusan', proses perumitan 'bentuk' daripada 'isi'. Maka terciptalah bahasa "alus", tari-tarian "alus", dan segala tatakrama "alus".
Itulah yang kemudian diagung-agungkan sebagai budaya "adhi luhung", padahal itu adalah ekspresi "budaya kalah".
                                         
**
Hari-hari ini kita sedang menyaksikan film tentang sosok Minke, tentang praktik rasialis.
Tapi hari-hari ini, di luar gedung bioskop, kita juga  sedang menonton praktik-praktik rasialis itu muncul kembali.

Ironisnya, itu terjadi pada saat peringatan 74 tahun proklamasi kemerdekaan !

Bagaimana tanggapan kawan kawan?