Showing posts with label Ke GMNI an. Show all posts
Showing posts with label Ke GMNI an. Show all posts

Saturday, November 16, 2019

GENERASI PENERUS ITU DI TENTUKAN OLEH DIDIKAN GENERASI YANG MENGAWALI




Memiliki pengetahuan yang luas tidak semata-mata menghakimi mereka yang memiliki pengetahuan sempit, mungkin ini hanya persoalan waktu dan kesempatan atau bahkan ada orang yang lebih memilih untuk diam mendengar tong kosong nyaring bunyinya.

Tepat tanggal 12 oktober 2019, ada kesadaran yang di hidupkan oleh salah satu mahasiswa jurusan hukum  universitas swasta ternama yang ada di provinsi Banten. diskusi sederhana itu benar-benar mengajak untuk segera mengintropeksi diri, segera mengoreksi diri sendiri. diskusi tanpa menggurui tapi dapat saling memahami, pembahasan tidak sengaja itu membahasan tentang rasa takut hanya ada dalam pikiran, adab di atas ilmu, kesombongan diri hanya akan melahirkan kekosongan diri, lembagga pendidikan sebagai sarana mencetak generasi bangsa dan kesalahan dalam mendidik akan menyebabkan kecelakaan hasil didikan yang tidak berkarakter sesuai dengan seharusnya dan menginspirasi penulis untuk menciptakan tulisan ini, tulisan yang biasa saja ini saya dedikasikan pada orang-orang yang masih memegang teguh kemerdekaan berfikir dan bertindak, berdaulat atas dirinya sendiri tanpa ada pengendalian dari siapapun, bergerak karena kesadaran, memiliki prinsip lebih baik menjadi hewan buruan yang terancam dari pada menjadi manusia yang jinak dan dipelihara.

Untuk mengawali pembahasan pada tulisan yang biasa saja ini , Pertama akan membahas tentang  rasa takut hanya ada dalam pikiran !
Pernah kita melewati jalan gelap, rindang pepohonan dan sendiri?  pernah ketika kita tidak kuat lagi menahan rasa ingin  buang air tengah malam tapi tidak jadi? karena membayangkan jalan ke toilet itu sepi. Apakah pernah di forum musyawarah ataupun diskusi sebenarnya kita mempunyai ide dan gagasan yang luar biasa tapi tidak kita sampaikan karena takut apa yang kita sampaikan itu salah dan menjadi bahan lelucon oleh teman kita ?

Memang benar jika otak manusia itu memiliki kemampuan imajinatif menghidupan bayangan yang sebenarnya itu jauh dari realitas yang ada, maka jika keberanian dalam diri lahir dan menghancurkan bangunan rasa takut dalam pikiran maka sebenarnya semua akan baik-baik saja, bayangan negatif itu tidak akan terjadi dan kenyataan dari realitas akan menjadi antitesa pikiran kita sendiri, Pikiran negatif itu akan menciptakan segala prasangka buruk yang akan berpengaruh pada produktifitas hidup dan tidak maksimalnya proses meningkatlan kualitas diri, kalau terus di pertahankan tentu ini bisa sangat merugikan diri sendiri.

Untuk mengawali melakukan langkah pertama memang tidak mudah untuk melewati jalan atau tempat yang sudah dibayangkan menakutkan sebelumnya tapi ketika satu langkah awaal sudah kita lakukan maka sebenarnya semua akan baik-baik saja tidak akan terjadi apa-apa saat kita melewati jalan dan tempat yang sepi, Maka mulai lah dari sekarang, cobalah untuk melangkah. Awali untuk berani menyampaikan segala ide dan gagasan di forum apapun itu, Percayalah pada diri sendiri sampaikan segala gagasan dalam setiap forum diskusi atau musyawarah jangan pernah takut salah, karena semua adalah proses pembelajaran yang harus di lewati.

Pembahasan kedua dalam tulisan ini mengenai Adab di atas ilmu!,  Dua hal yang sangat berpengaruh pada cerminan dan wujud diri kita di pandangan orang lain.
Adab menurut kamus besar bahasa indonesia adalah kehalusan dan kebaikan budi pekerti, kesopanan atau akhlak, Sementara ilmu berarti pengetahuan atau kepandaian ( tentang soal duniawi, akhirat, lahir, batin dan sebagai nya).

Dari penjelasan di atas, timbul pertanyaan apa yang harus di dahulukan?  Hal apa yang mestinya kita pahami terlebih dahulu ?
Maka sudah di pastikan jawabannya adalah adab, Adab harus menjadi mahkota di atas tubuh manusia dan menjadi pakaian hidup manusia di muka bumi ini dan segala ilmu pengetahuan di jadikan sebagai jalan dan solusi untuk menghadapi persoalan.
ilmu tanpa di lengkapi dengan adab tentu akan melahirkan arogansi dan kesombongan tentu ini berbahaya, Kaum terpelajar tidak beretika maka akan merusak identitas terpelajar nya itu sendiri, Karena cerminan dari keluhuran ilmu adalah adab yang terlihat dari prilaku hidup sehari-hari.

“Manusia bersayap arogansi dan menerbangkan tubuhnya kengkasa sebenarnya sedang dalam proses mendekatkan diri pada kematiannya, karena sayap arogansi dan kesombongan memang bertujuan untuk menjatuhkan tubuh dari ketinggian” Bung_Dhims

Mungkin kata-kata di atas tepat untuk menggambarkan pembahasan ketiga ini tentang Kesombongan Hanya Akan Melahirkan Kekosongan Diri!
"satu-satu nya kebijaksanaan sejati adalah mengetahui anda tidak tahu apa-apa" ucap seorang Socrates seorang filsuf yang masyhur itu.

Dari kutipan di atas dapat di pahami begitu mendalam bahwa alam semesta di setiap wujudnya terdapat hamparan ilmu pengetahuan yang tiada terhingga, lalu mari kita berkaca pada diri kita sendiri, seberapa banyak pengetahuan yang sudah kita miliki sekarang? mungkin jika di bandingkan dengan alam semesta, barang kali pengetahuan yang kita miliki hanya sebatas debu yang tidak seberapa, Teramat rapuh pengetahuan kita jika digunakan untuk di jadikan alasan kesombongan dan teramat mubazir jika tidak di jadikan sarana pencerdasan.

Dari hal tersebut tidak ada sedikitpun pasal kehidupan yang membenarkan kesombongan atas pengetahuan yang dimiliki, dengan memelihara pikiran sanksi atas ketidaktahuan dan ketidakmampuan seseorang, merasa tahu atas segala hal dan merasa paling benar atas segala pendapatan yang di lontarkan di perparah dengan tidak menerima apa yang orang lain ucapkan, kesombongan itu akan mewujudkan individu bermental fasis, ini berbahaya tidak terima kritikan.

Soe hok gie seorang aktivis yang melegenda itu pernah berkata "Guru yang tidak tahan kritik pantas masuk keranjang sampah"
Dapat kita pahami bahwa manusia yang sombong dan tidak menerima kritikan adalah seorang sampah, sekali lagi adalah seorang sampah. Banyak bicara tapi tidak bermakna, tidak mau terlihat rendah dari ketidaktahuan nya lalu menyampaikan sesuatu yang salah dan di telan mentah-mentah, hal itu merupakan salah satu praktek pembodohan satu generasi.
Dari penjelasan di atas, apa yang kita ketahui memiliki sisi ketidak tahuan kita, jangan sekali-kali memonopoli kebenaran.

“Sekolah dan kampus adalah laboratorium pendidikan yang dimana para pendidik bereksperimen membuat sebuah ramuan dan percobaan agar murid-murid bisa cerdas, tapi percobaan ini rawan gagal” Bung_Dhims
Kata-kata di atas adalah ekspresi diri situasi pendidikan masa kini, sebagai pengawal pembahasan yang keempat tentang Lembaga pendidikan sebagai sarana menciptakan generasi bangsa!

Para cendikiawan dan kaum intelektual merupakan elemen penting dalam kemajuan peradaban suatu bangsa melalui ilmu pengetahuan yang mereka miliki dan di gunakan untuk kepentingan rakyat, kampus dan sekolah adalah salah satu ruang untuk menciptakan kaum intelektual tersebut, orang-orang yang akan meneruskan kehidupan berbangsa dan bernegara, di tangan kaum intelektual inilah masa depan bangsa ada di tangan mereka.

Namun, rasanya kepercayaan itu sedikit demi sedikit memudar, cara berfikir skeptis mulai menganalisa situasi dewasa ini, jika melihat cita-cita luhur pendidikan yang di gagas oleh ki hajar dewantara dan konsep pendidikan yang di gagas oleh bung karno tentang penanaman 3 ruh pada proses pendidikan yaitu ruh kerakyatan, ruh kemerdekaan dan ruh ksatria, Pendidikan tempo dulu yang mengedepankan  nilai-nilai moral yang di tanamkan melalui ketulusan seorang pendidik dalam membina kecerdasan intelektual, emosional maupun spiritual. Cita-cita luhur yang sudah di gagas oleh tokoh bangsa itu nampaknya menemukan titik nadir nya.

Lalu masihkah relevan jika lembaga pendidikan seperti sekolah atau bahkan perguruan tinggi sebagai laboratarium penghasil kaum cendikiawan dan kaum intelektual?

Agak nya pertanyaan ini harus di maknai secara luas oleh semua pihak,
praktik jual beli nilai, jual beli skripsi, makalah hasil plagiat, guru mata duitan, murid bermental preman, dosen berjiwa dewa, mahasis mengejar IPK mengesampingkan penderitaan rakyat tertindas, saling menjatuhkan dalam proses presentasi, korupsi waktu, belajar di jadikan beban, di ajarkan menjadi penjilat kekuasaan, pelacur intelektual, jiwa oportunis bertopeng aktivis dan kebobrokan lainnya

Sudah mutlak, proses di kelas adalah cerminan bagaimana seseorang di tempa, karena dari ruang kelas itulah di cetak manusia yang nantinya jadi generasi penerus bangsa
Baik dan buruk hasil yang akan di hasilkan itu tergantung dengan bagaimana pola pembinaan yang mereka dapatkan selama dalam proses pembelajaran. 

“Senior yang baik adalah senior yang tidak mewariskan rantai dendam dan kebenciaan pada juniornya, hati-hati” Bung_Dhims
Bagian terakhir kesalahan dalam mendidik akan menyebabkan kecelakaan hasil didikan yang tidak berkarakter sesuai dengan seharusnya!

Berdalih sebagai sarana pencerdasan, semua institusi yang mengkampanyekan tentang perbaikan diri kearah lebih baik ternyata hanya tipuan belaka,tidak ada yang benar-benar bisa mencetak karakter manusia menjadi lebih baik, apapun itu institusinya, entah berbentuk lembaga pendidikan, organisasi masyarakat, organisasi keagamaan maupun organisasi kemahasiswaan, mendidik anak manusia bukanlah hal yang mudah, butuh pengorbanan untuk melakukan itu. 

Jika intitusi adalah wadah maka para pendiri nya lah yang akan di jadikan sebagai cerminan para anggota baru yang lugu, lucu dan polos yang berniat untuk benar-benar memperbaiki diri, Sebab senior berperan penting dalam cerminan sikap bagi penerusnya, ada rantai intelektual dan ada rantai emosional yang akan terus menerus menyatu padu dari generasi ke generasi.

Rantai inilah yang benar-benar akan membentuk, jika awal berdirinya suatu institusi sudah berorientasi pada uang dan kekuasaan maka sekalipun intitusi itu bernamakan pendidikan dan mengatas namakan rakyat tapi tetap itu hanya akan melahirkan kemunafikan.

Akan tetapi sekalipun sebuah institusi itu didirikan oleh para mantan pelacur, pecandu narkoba, para pengidap penyakit HIV/AIDS dan mantan narapidana jika mereka awal mendirikan nya dengan sebuah cinta, kasih, ketulusan maka rantai intelektual dan rantai emosional yang akan diwariskan adalah rantai kebaikan dan bisa benar-benar mencetak generasi yang berkarakter sesuai yang diharapkan, karakter kebenaran dan kebaikan. 

Sekian tulisan ini penulis buat, sebuah rangkaian kata-kata biasa, makna tergantung sudut pandang pembaca, cintai saya dengan kebencian maka saya akan berterima kasih.

Saya kembali teringat sebuah kata mutiara tapi maaf sekali saya lupa nama pemilik kata mutiara tersebut, ia mengakatakan “ORANG YANG MENGUCAPKAN KALAU KRITIK ITU HARUS MEMBANGUN ATAU KRITIK HARUS ADA SOLUSI, SEBENARNYA ORANG ITU SOSOK YANG BENAR-BENAR SAMPAH KARENA ITU CERMIN DARI ORANG-ORANG YANG BENAR-BENAR TIDAK MAU DI KRITIK”.


Karya : Bung Dhimas Maulana Hadi

KELAS MENTORING, BUKTI DPC GMNI LEBAK KOMITMEN SIAPKAN GENERASI PENERUS


Rangkasbitung, DPC GMNI LEBAK telah sukses menyelenggarakan kegiatan kelas mentoring pada tanggal 15-16 November 2019 di sekretariat DPC GMNI lebak.(16/11).

kelas mentoring
merupakan sarana meningkatkan kualitas sumber daya kader gmni terutama pada tataran dewan pengurus komisariat yang ada di kabupaten lebak.

tujuan dari kegiatan tersebut untuk mengembangkan kecerdasan intelektual, kecerdasan emosional dan kecerdasan spiritual.

sehingga pengurus DPK dapat memahami sepenuh nya arah perjuangan, ideologi dan sistem keorganisasian dalam GMNI.

Bung Endang selaku ketua umum DPC GMNI lebak menyampaikan bahwa kelas mentoring ini merupakn inisiasi pengurus cabang untuk menyiapkan regenerasi organisasi yang akan datang.

" Waktu terus berputar daun yang gugur di gantikan daun baru yang muda dan hujau, organisasipun demikian, masa bakti pengurus DPC hanya 2 tahun maka perlu di buat inovasi program untuk menyiapkan generasi yang akan datang salah satu nya kelas mentoring ini" ucapnya.

tanggapan juga muncul dari Sarinah Devi salah satu peserta kelas mentoring, ia mengatakan kelas mentoring merupakan program yang sangat bermanfaat

" Kelas mentoring ini merupakan program yang sangat bermanfaat, saya rasa sebagai peserta hal ini harus sering di adakan sekitar 3 bulan sekali dan bukan hanya menyasar kepada pengurus, tapi semua kader GMNI Lebak harus mengikutinya, seperti latihan Pra-KTD" ucapnya.

bung dewan abdurrohman sebagai ketua bidang kaderisasi DPC GMNI Lebak menyampaikan bahwa kelas mentoring ini merupakan ruang yang luar biasa bagi pengurus DPK se-lebak untuk menggali potensinya.

"pengurus komisariat adalah ujung tombak dari berputarnya organisasi, tentu kualitas pada tataran komisariat inilah harus lebih di tingkatkan karena nanti nya mereka akan menjadi mentor bagi anggotanya masing-masing, melalui kelas mentoring inilah potensi dalam dirinya digali dan bisa menjadi cerminan yang baik bagi para anggotanya" tuturnya.

bung dewan juga menambahkan kelas mentoring ini mempelajari 8 materi yang di pelajari dengan menggunakan metode student center learning.

"kelas mentoring ini mempelajari 8 materi di antaranya, kegmnian, marhaenisme, sarinah, manajamen organisasi, manajemen konflik, public speaking, metode penyampaian materi dan analisis soal dengan menggunakan metode student center learning diharapkan pengurus DPK yang ada di Lebak mempunyai daya ekspolari dan analisa yang luar biasa" tutupnya.

Author : DMH

Sunday, September 29, 2019

PPAB GMNI Lebak 2019, “Mewujudkan Jiwa Nasionalisme mahasiswa Sebagai Penggerak Perubahan yang Progresif



Dengan mengangkat tema, “Mewujudkan Jiwa Nasionalisme Mahasiswa Sebagai Penggerak Perubahan Yang Progresif ” Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GmnI) Kabupaten Lebak Provinsi Banten Jum’at, 27-29 September 2019, melaksanakan kegiatan Pekan Peneriman Anggota Baru (PPAB)  yang bertempat di Taman Hutan Raya (TAHURA) Perhutani Prov. Banten - Kabupaten Pandeglang Provinsi Banten.

Kegiatan itu dihadiri oleh Ketua GmnI Lebak Pertama yaitu Bung Septian Abdi Gama, Bung Nday, Bung Dedi, Sarinah Ocha, Bung Cekle, Bung Rega, Sarinah Nena, Sarinah Ajeng dan sejumlah alumni lain yang turut hadir dalam kegiatan itu, dan peserta yang mengikuti PPAB ini sebanyak 54 orang dari 3 komisariat, yaitu DPK Manajemen, DPK Akuntansi La Tansa dan DPK Setia Budhi Raya.

Materi materi yang disampaikan dalam kegiatan tersebut mulai dari alumni GmnI, Pengurus DPC GmnI Lebak dan Ibu Tia Rahmania, M. Psi.

Ketua Pelaksana PPAB 2019 GmnI Lebak Bung Sahrul Romadan dalam sambutannya mengatakan, PPAB ini adalah untuk membangun kader masa depan bangsa yang berjiwa nasionalis dan Yang Progresif

Lanjutnya, Peneriman anggota baru GmnI aktif ini, merupakan moment penting bagi organisasi GmnI untuk memiliki kader nasionalis yang berwatak kerakyatan, memegang teguh independensi serta integritas organisasi yang berlandaskan pada semangat gotong-royong untuk merubah tatanan sosial kehidupan masyarakat Indonesia menuju masyarakat yang adil dan makmur ditengah situasi dan kondisi pergolakan dan dinamika bangsa yang selalu dinamis.

“Dengan kita berhasil menjadi kader GmnI yang militan, tentu kita mampu melihat situasi sosial di masyarakat, terutama mereka yang sedang berupaya merorong-rong keutuhan NKRI yang berdasarkan pada ideologi Pancasila, dengan bertumpuh pada 4 (empat) pilar utama kebangsaan, yaitu Pancasila, Bhineka Tunggal Ika, UUD 1945, dan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) sebagai landasan pokok kita bangsa yang besar dan kuat,” tegasnya.

Kegiatan tersebut dibuka oleh Bung Endang Sebagai Ketua Umum Terpilih Dewan Pimpinan Cabang GmnI Lebak Periode 2019-2021. Dalam sambutannya, Ia berharap agar dengan beroganisasi, seperti GmnI ini, mahasiswa bisa Berproses membuka diri, membuka ruang diskusi dan belajar dalam menyelesaikan berbagai persoalan di kabupaten Lebak dan Negara Republik Indonesia kedepannya.

Semantara itu,  Bung Sahrul Romadan menambahkan, bahwa kegiatan PPAB ini sangat penting sebagai bagian dari proses kaderisasi pengurus GmnI di tingkat Cabang Maupun Komisariat. Selain itu juga dalam rangka merapatkan barisan kader-kader baru dalam organisasi untuk melanjutkan perjuangan organisasi kedepan. Yang utama juga adalah mendidik mahasiswa untuk menjadi kader GmnI yang Progresif dan Revolusioner.

Monday, August 19, 2019

Sarinah & Bung Karno



Pada bulan November 1947, buku karangan Bung Karno tentang perempuan sudah naik cetak. Buku itu dikerjakan dan diterbitkan oleh Panitia Penerbitkan Buku-Buku Karangan Presiden Soekarno. Bung Karno sangat gembira dengan penerbitan buku itu.
Buku itu merupakan kumpulan bahan pengajaran Bung Karno dalam kursus wanita. Tahun 1947, di tengah kepungan dan ancaman kolonialisme, Bung Karno masih sempat-sempatnya menggelar kursus wanita. Kursus itu diselenggarakan dua minggu sekali.
Sri Sulistywati, salah seorang aktivis perempuan di era Bung Karno, menceritakan bagaimana bung Karno sendiri menjadi pengajar di kursus itu. “Kursus wanita itu sudah mengambil tema Sarinah,” kata Sri, yang ketika itu masih anak-anak dan suka mengendap-ngendap untuk mengintip diskusi itu.
Muncul pertanyaan: Kenapa buku itu mengambil judul Sarinah? Mengapa tidak menggunakan nama tokoh perintis pergerakan perempuan Indonesia seperti Kartini, Dewi Sartika, atau Rohana Kudus. Siapa sebenarnya Sarinah ini, sampai-sampai Bung Karno memberikan penghargaan yang sangat tinggi kepadanya.
Bung Karno sendiri, dalam buku “Bung Karno: penyambung lidah Rakyat”, menceritakan Sarinah sebagai gadis pembantu yang membantu membesarkan Bung Karno. Tetapi, kata Bung Karno, kata pembantu rumah tangga di sini tidak sama dengan pengertian orang di barat.
Selain mengurusi Soekarno kecil, Sarinah pula yang memberikan pendidikan budi-pekerti dan nilai-nilai kemanusiaan kepada Soekarno. “Sarinah mengadjarku untuk mentjintai rakjat. Massa rakjat, rakjat djelata,” ujar Soekarno dalam otobiografinya yang ditulis oleh penulis dan kolumnis Amerika, Cindy Adams.
Tetapi ada juga yang meragukan Sarinah itu benar-benar ada, sebagai sebuah tokoh nyata sebagaimana diceritakan Bung Karno. Menurut mereka, seperti juga pak Marhaen yang menjadi asal muasal penemuan ideologinya, kemungkinan besar Sarinah ini adalah tokoh fiktif belaka.
Namun, pada tahun 1960-an, sebuah surat kabar pernah memperlihatkan foto Bung Karno duduk dengan seorang perempuan tua. “Perempuan yang sudah sepuh itu katanya adalah Sarinah,” kata Sri Sulistyawati, yang mengingat bahwa ia mendapat jawaban itu dari Bung Karno.
Suatu hari, ketika Sri masih bekerja sebagai wartawan yang bertugas di Istana, ia berusaha mempertanyakan perihal siapa Sarinah kepada Bung Karno. Bung Karno pun menjanjikan memberi jawaban kepada Sri suatu saat jika ada kesempatan.
Suatu hari, masih sangat pagi, ketika Bung Karno sedang menyiram taman di istana negara, Sri Sulistyawati menggunakan kesempatan untuk menagih janji Bung Karno mengenai Sarinah itu.
Menurut Bung Karno, sebagaimana dituturkan Sri Sulistyawati dalam diskusi di Berdikari Online, Sarinah adalah ibu susunya dan punya jasa dalam membesarkan Bung Karno. Lebih lanjut, Sarinah ini konon adalah istri dari penulis terkenal Belanda, Multatuli. Multatuli sendiri adalah nama samaran dari Eduard Douwes Dekker. E Douwes Dekker inilah yang menulis buku terkenal sepanjang masa, Max Havelar, yang menceritakan kejahatan kolonialisme di Indonesia.
Saat itu, Sri bekerja sebagai wartawan di Harian Ekonomi Nasional. Pemimpin redaksinya adalah Umar Said. Di sana ia aktif menjadi aktif sebagai wartawan dari tahun 1958 hingga tahun 1967. Dia sering mondar-mandir ke istana untuk mendapatkan berita.
“Saya selalu ke istana pagi-pagi sekali, ketika para pemimpin masih santai-santai. Jadi, kalau yang lain belum dapat berita, saya sudah dapat berita,” katanya. Ia selalu berusaha mengangkat reportase yang berbeda dengan koran-koran lain saat itu.
Meskipun begitu, Sri mengaku tidak punya kesempatan untuk menggali lebih banyak info dari Bung Karno mengenai Sarinah. “Karena banyak kesibukan saat itu, saya belum sempat menggali lebih jauh lagi,” katanya.
Meskipun ini tergolong informasi baru, Sri sendiri tidak mau memaksa orang untuk percaya atau tidak; bahwa Sarinah adalah istri dari Multatuli. Ia meminta kepada generasi muda, aktivis dan sejarahwan yang membuat penelitian untuk memverifikasi informasinya itu.

Sejarah GMNI




Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia, atau disingkat GMNI, lahir sebagai hasil proses peleburan 3 (tiga) organisasi mahasiswa yang berazaskan Marhaenisme Ajaran Bung Karno. Ketiga organisasi itu adalah :
  1. GERAKAN MAHASISWA MARHAENIS, berpusat di Jogjakarta
  2. GERAKAN MAHASISWA MERDEKA, berpusat di Surabaya
  3. GERAKAN MAHASISWA DEMOKRAT INDONESIA, berpusat di Jakarta.
Proses peleburan ketiga organisasi mahasiswa mulai tampak, ketika pada awal bulan September 1953, Gerakan Mahasiswa Demokrat Indonesia (GMDI) melakukan pergantian pengurus, yakni dari Dewan Pengurus lama yang dipimpin Drs. Sjarief kepada Dewan Pengurus baru yang diketuai oleh S.M. Hadiprabowo.
Dalam satu rapat pengurus GMDI yang diselenggarakan di Gedung Proklamasi, Jalan Pegangsaan Timur 56 Jakarta, tercetus keinginan untuk mempersatukan ketiga organisasi yang seazas itu dalam satu wadah. Keinginan ini kemudian disampaikan kepada pimpinan kedua organisasi yang lain, dan ternyata mendapat sambutan positip.
Setelah melalui serangkaian pertemuan, maka pada Rapat Bersama antar ketiga Pimpinan Organisasi Mahasiswa tadi, yang diselenggarakan di rumah dinas Walikota Jakarta Raya (Soediro), di Jalan Taman Suropati, akhirnya dicapai sejumlah kesepakatan antara lain:
  1. Setuju untuk melakukan fusi
  2. Wadah bersama hasil peleburan tiga organisasi bernama “Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia ” (GMNI).
  3. Azas organisasi adalah: MARHAENISME ajaran Bung Karno.
  4. Sepakat mengadakan Kongres I GMNI di Surabaya, dalam jangka waktu enam bulan setelah pertemuan ini.
Hasil kesepakatan tersebut, akhirnya terwujud. Dengan direstui Presiden Sukarno, pada tanggal 23 Maret 1954, dilangsungkan KONGRES I GMNI di Surabaya. Momentum ini kemudian ditetapkan sebagai Hari Jadi GMNI (Dies Natalis) yang diperingati hingga sekarang. Adapun yang menjadi materi pokok dalam Kongres I ini, selain membahas hasil-hasil kesepakatan antar tiga pimpinan organisasi yang ber-fusi, juga untuk menetapkan personil pimpinan di tingkat pusat.
Pengertian Dasar  : GMNI Sebagai Organisasi Perjuangan
GMNI lahir dengan identitasnya yang hakiki sebagai “ORGANISASI PERJUANGAN” yang berlandaskan “Ajaran Sukarno”. Untuk itu ada beberapa prinsip perjuangan yang harus tetap melekat dalam diri GMNI dan menjadi watak dasar perjuangan GMNI yakni:
  1. GMNI berjuang untuk Rakyat.
  2. GMNI berjuang bersama-sama Rakyat.
 GMNI; Organisasi Perjuangan dan Perjuangan Terorganisir
GMNI merupakan Organisasi Perjuangan dan Gerakan Perjuangan Terorganisir. Artinya, gerakan Perjuangan harus menjadi Jiwa, Semangat atau Roh GMNI. Dan segala tindak perjuangan GMNI harus terorganisir yakni senantiasa mengacu pada Doktrin Perjuangan yang menjadi azas GMNI.
 Tujuan Perjuangan GMNI
Sebagai Organisasi gerakan Perjuangan, yang menjadi Tujuan Perjuangan GMNI adalah: Mendidik kader bangsa mewujudkan masyarakat Pancasila sesuai dengan amanat UUD 1945 yang sejati. Sebab dalam keyakinan GMNI, hanya dalam masyarakat Pancasila yang sejati, Kaum Marhaen dapat diselamatkan dari bencana kebodohan, kemiskinan, keterbelakangan, dan terhindar dari berbagai bentuk penindasan.
GMNI Bersifat Independen
GMNI adalah organisasi yang independen dan berwatak kerakyatan. Artinya, GMNI tidak beraffiliasi pada kekuatan politik manapun, dan berdaulat penuhdengan prinsip percaya [ada kekuatan diri sendiri. Independensi bukan berarti netral, sebab GMNI senantiasa proaktif dalam perjuangan sesuai dengan Azas dan Doktrin Perjuangan yang ia jalankan. Walaupun demikian, GMNI tidak independen dari Kaum Marhaen serta Kepentingan Kaum Marhaen.
GMNI Adalah Organisasi Kader Sekaligus Organisasi Massa
GMNI adalah organisasi Kader sekaligus organisasi Massa, artinya GMNI merupakan wadah pembinaan kader-kader pejuang bangsa; dan dalam perjuangannya itu, kader GMNI senantiasa menyatu dengan berjuta-juta massa Marhaen. GMNI tidak berjuang sendirian, tetapi harus bersama-sama dan untuk seluruh rakyat, sebab Doktrin Perjuangan GMNI menggariskan demikian.
Makna “GERAKAN” dalam GMNI
GMNI adalah suatu organisasi Gerakan,, Karena Gerakan GMNI dilakukan oleh sekelompok manusia yang berstatus ‘Mahasiswa’, maka dapat dikatakan bahwa GMNI adalah suatu gerakan yang dilakukan oleh sekelompok mahasiswa. Adapun yang dimaksud dengan “Gerakan” adalah: Suatu usaha atau tindakan yang dilakukan dengan sadar dan sengaja oleh sekelompok manusia, dengan menggunakan sumua potensi yang ia miliki (mis: sosial, politik, ekonomi, kebudayaan dll), atau yang ada di dalam masyarakat dengan tujuan untuk melakukan pembaruan-pembaruan terhadap sistem masyarakat, agar terwujud suatu tatanan masyarakat yang dicita-citakan bersama.
 Makna “MAHASISWA” Dalam GMNI
GMNI adalah organisasi Mahasiswa. Sebagai konsekwensi dari sifat ini, maka yang boleh menjadi anggota GMNI hanya mereka yang berstatus mahasiswa. Namun demikian tidak semua mahasiswa dapat menjadi anggota GMNI, dikarenakan yang dapat menjadi anggota GMNI hanyalah mahasiswa yang mau berjuang untuk rakyat dan Bersama rakyat.
Makna “NASIONAL” Dalam GMNI
GMNI adalah organisasi yang berlingkup nasional. Artinya bukan organisasi kedaerahan, keagamaan, kesukuan, atau golongan yang bersifat terbatas. Makna Nasional juga mengandung pengertian bahwa yang diperjuangkan oleh GMNI adalah kepentingan Nasional. Sebagai organisasi yang berwatak Nasionalis, maka Nasionalisme GMNI jelas adalah Nasionalisme Pancasila.
 Nilai Dasar Perjuangan GmnI
  1. GmnI adalah Organisasi Mahasiswa Warga Negara Republik Indonesia yang Independen bersifat bebas, aktif dan berwatak kerakyatan.
  2. GmnI adalah Organisasi Mahasiswa yang berwawasan Nasional yang tidak membeda-bedakan kesukuan, keagamaan, dan status sosial anggotanya, senantiasa menjunjung tinggi kesatuan dan persatuan Bangsa dan Negara dalam Perjuangan.
  3. GmnI adalah Organisasi Mahasiswa yang berkewajiban membela dan mengamalkan Pancasila senantiasa menjunjung tinggi Kedaulatan Negara di bidang ekonomi, politik, budaya dan pertahanan keamanan.
  4. GmnI adalah Organisasi Mahasiswa yang berkewajiban menggalang kekuatan nasional yang berjuang tanpa pamrih dalam melaksanakan amanat penderitaan rakyat
  5. GmnI adalah pejuang pemikir dan pemikir pejuang yang menjunjung tinggi kedaulatan negara, harkat dan martabat rakyat serta nama dan citra GmnI dalam kata-kata, sikap maupun perbuatan.
  6. GmnI adalah pejuang pemikir dan pemikir pejuang sebagai kader bangsa yang bersikap jujur, senantiasa patuh dan taat pada amanat dan konstitusi organisasi, menepati janji dan sumpah keanggotaan.
  7. Anggota GmnI adalah pejuang pemikir dan pemikir pejuang sebagai penuntut ilmu yang bertanggung jawab, bersikap sopan dan menghargai sesamanya.
  8. Anggota GmnI adalah pejuang pemikir dan pemikir pejuang yang tidak menjadikan status sebagai predikat, senantiasa mengejar cita-cita tanpa kenal menyerah, menunjukkan kesederhanaan hidup serta menjadi tauladan dalam lingkungannya.
  9. Anggota GmnI adalah pejuang pemikir dan pemikir pejuang yang bermaksud melanjutkan cita-cita proklamasi dan amanat UUD 1945 dalam mewujudkan tatanan masyarakat yang berkeadilan sosial.
  10. Anggota GmnI adalah pejuang pemikir dan pemikir pejuang sebagai insan akademis yang bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, senantiasa menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan dan keadilan dalam pergaulan bangsa-bangsa.
 AZAS DAN DOKTRIN PERJUANGAN GMNI
Sebagai organisasi Gerakan Perjuangan, GMNI mempunyai Azas dan Doktrin Perjuangan, yang menjadi Landasan serta Penuntun Arah Perjuangan GMNI.
Azas dan Doktrin Perjuangan GMNI adalah:
  1. PANCASILA
  2. UNDANG-UNDANG DASAR 1945
  3. MARHAENISME
  4. PANCALOGI GMNI
  1. PANCASILA
  • Ketuhanan Yang Maha Esa
  • Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab
  • Persatuan Indonesia
  • Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmah Kebijaksaan dalam Permusyawaratan Perwakilan
  • Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia
Agar dapat memahami dan memakai Pancasila dengan benar, maka setiap kader wajib membaca:
Lahirnya Pancasila, Pidato Bung Karno pada tanggal 1 Juni 1945, PANCASILA SEBAGAI DASAR NEGARA, Kuliah Panncasila yang disampaikan oleh Bung Karno di Istana Negara, Membangun Dunia Baru, Pidato Presiden Soekarno di depan sidang Majelis Umum PBB tahun 1960.
  1. UNDANG-UNDANG DASAR 1945
PEMBUKAAN
Bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa dan oleh sebab itu, maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan, karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan.
Perjuangan pergerakan kemerdekaan Indonesia telah sampailah kepada saat yang berbahagia dengan selamat sentosa mengantarkan rakyat Indonesia kedepan pintu gerbang kemerdekaan Negara Indonesia, yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur.
Atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa dan dengan didorong oleh keinginan luhur supaya berkehhidupan kebangsaan yang bebas, maka rakyat Indonesia menyatakan dengan ini kemerdekaannya.
Kemudian daripada itu untuk membentuk suatu pemerintahan negara Indonesia yang melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia, dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mecerdaskan kehidupan bangsa dan ikut serta melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial, maka disusunlah kemerdekaan bangsa Indonesia itu dalam suatu susunan Negara Republik Indonesia dengan berdasar kepada : Ketuhanan Yang Maha Esa, Kemanusiaan yang Adil dan Beradab, Persatuan Indonesia, dan Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmah Kebijaksanaan dalam permusyawaratan/Perwakilan, serta Mewujudkan Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia.
Dari Pembukaan UUD 1945, ada beberapa hal yang patut dipahami oleh setiap anggota GMNI, antara lain :
  • Pokok perjuangan bangsa Indonesia adalah menghapukaan segala bentuk penindasan dan ketidakadilan karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan.
  • Perjuangan tersebut sesungguhnya merupakan berkat dari Allah Yang Maha Kuasa.
  • Negara berfungsi sebagai; Perumahan’ bangsa yang memberikan perlindungan bagi seluruh rakyat dan seluruh wilayah Republik Indonesia.
  • Alat perjuangan untuk menuju terwujudnya cita-cita nasional yakni; masyarakat Adil dan Makmur di tengah dunia yang tanpa penindasan.
  1. MARHAENISME
SOSIO NASIONALISME, SOSIO DEMOKRASI, KETUHANAN YANG MAHA ESA
Marhaenisme is Pancasila dan Pancasila is Marhaenisme (Tidak Perlu diperdebatkan lagi !!!) Pidato Bung Karno di depan Konferensi PARTINDO, Mataram 1933 Tentang Marhaen, Marhaenis, Marhaenisme
  • Marhaenisme yaitu Sosio Nasionalisme dan Sosio Demokrasi
  • Marhaen yaitu kaum proletar Indonesia, kaum tani Indonesia yang melarat dan kaum melarat Indonesia yan lain-lain.
  • Partindo memakai perkataan Marhaen dan tidak proletar oleh karena perkataan proletar sudah termaktub di dalam perkataan Marhaen, danoleh karena perkataan proletar itu bisa diartikan bahwa kaum tani dan kaum lain-lain kaum melarat tidak termasuk didalamnya.
  • Karena Partindo berkeyakinan bahwa di dalam perjuangan, kaum melarat Indonesia lain-lain itu yang harus menjadi elemen-elemennya (bagian-bagiannya), maka Partindo memakai perkataan Marhaen itu.
  • Didalam perjuangan kaum Marhaen, maka Partindo berkeyakinan bahwa kaum proletar mengambil bagian yang paling besar sekali.
  • Marhaenisme adalah Azas yang menghendaki susunan masyarakat dan susunan Negeri yang dalam segala halnya menyelamatkan kaum marhaen.
  • Mmarhaaenisme adalah pula cara perjuangan untuk mencapai susunan negeri yang demikian itu, yang oleh karenanya harus suatu cara perjungan yang revolusioner,
  • Jadi Marhaenisme adalah cara perjuangan dan Azas yang ditujukkan terhadap hilangnya tiap-tiap Kapitalisme dan Imperialisme.
  • Marhaenis adalah tiap-tiap orang bangsa Indonesia yang menjalankan Marhaenisme.
Pidato Bung Karno didepan Konferensi Besar GMNI, Kaliurang 1959 “HILANGKAN STERILITEIT DALAM GERAKAN MAHASISWA”. “Bagi saya Azas Marhaenisme adalah Aza yang paling cocok untuk Gerakan Rakyat Indonesia”
Rumusannya adalah :
  • Marhaenisme adalah Azas yang menhendaki susunan masyarakat yang dalam segala halnya menyelamatkan kaum marhaen.
  • Marhenisme cara perjuangan yang Revolusioner sesuai dengan watak kaum marhaen pada umumnya.
  • Marhaenisme adalah dus Azas dan cara perjuangannya “tegelijk” menuju kepada hilangnya Kapitalisme, Imperialisme dan Kolonialisme.
Secara positif, maka Marhaenisme saya namakan juga Sosio Nasionalisme dan Sosio Demokrasi; karena Nasionalismenya kaum marhaen adalah Nasionalisme yang sosial bewust, dan karenanya Demokrasinya kaum Marhaen adalah Demokrasi yang sosial bewust pula.
Siapakah yang saya namakan kaum marhaen itu ? Yang saya namakan kaum marhaen itu adalah setiap Rakyat Indonesia yang melarat atau lebih tepat yang dimelaratkan oleh sistem Kapitalisme, Imperialisme, dan Kolonialisme.
Kaum Marhaen terdiri dari tiga unsur :
  • Unsur kaum Proletar (Buruh)
  • Unsur kaum Tani melarat  Indonesia
  • Kaum melarat Indonesia lain-lain
Kaum Marhaenis adalah setiap pejuang dan setiap patriot bangsa :
  • Yang mengorganisir berjuta-juta kaum marhaaen itu
  • Yang bersama-sama dengan tenaga massa marhaen itu hendak menumbangkan Sistem Kapitalisme, Imperialisme dan Kolonialisme.
  • Yang bersama-sama dengan massa marhaen membangun negara dan masyarakat yang kuat, bahagia sentosa, adil dan makmur
Pokonya ialah bahwa Marhaenis adalah setiap orang yang menjalankan Marhaenisme yang saya jelaskan tadi. Cam-kan benar-benar !! Setiap kaum Marhaenis berjuang untuk kepentingan kaum Marhaen dan bersama-sama kaum Marhaen.
  1. PANCALOGI GMNI
Pancalogi terdiri dari 5 prinsip :
  1. IDEOLOGI
  2. REVOLUSI
  3. ORGANISASI
  4. STUDI
  5. INTEGRITAS
Penjelasan :
Kelima perinsip di atas harus menjadi jati diri bagi setiap anggota GMNI.
  • Ideologi artinya perjuangan setiap anggota GMNI harus dilandaskan pada Ideologi yang menjadi Azas dan Doktrin perjuangan GMNI, sebab ideologi merupakan acuan pokok dalam penentuan format dan pola operasional pergerakan.
  • Revolusi artinya perjuangan setiap anggota GMNI harus berorientasi pada perombakan susunan masyarakat secara revolusioner. Revolusi bukan berarti tumpah darah, tetapi dalam pengertian pemikiran.
  • Organisasi artinya perjuangan GMNI adalah perjuangan yang terorganisir, sesuai dengan Azas dan doktrin perjuangan GMNI.
  • Studi artinya sebagai oraganisasi mahasiswa, maka titik berat perjuangan GMNI adalah pada aspek studi. Amanat Penderitaan Rakyat harus dijadikan titik sentral dalam pendorong upaya studi ini.
  • Integritas artinya Perjuangan GMNI senantiasa tidak terlepas dari perjuangan Rakyat.